Oleh : Nur Sangadji (muhdrezas@yahoo.com)
DAHULU, kalau kita gerakan ekonomi rakyat, selalu modal yang menjadi hambatan (obstacle). Sekarang, walaupun keluhan permodalan ini masih ada, tapi hambatan mulai bergeser ke soal pemasaran. Banyak hasil pemberdayaan, berujung frustrasi karena produk tidak laku terjual.
Lebih jauh lagi ke belakang. Produk dan tangkapan hasil buruan hanya untuk makan (subsisten). Sekarang, tidak bisa lagi. Karena untuk hidup, manusi tidak hanya butuh makan. Kebutuhan sekunder sudah menjadi mutlak. Konsekwensi dari tuntutan modernisasi.
Ahli ekonomi pernah bilang “if you stop to produce, you will die” (bila berhenti produksi, akan mati). Pernyataan ini mewakili ekonomi “subsistence”. Tetapi kini, “even you produce something but you can’t seal it, you will also be die” (walau berproduksi, tapi kalau tidak bisa dijual, juga akan mati).
***
Di era kontemporer atau ke depan, lebih ngeri lagi. Kala itu bisnis berkembang hebat tapi sektor produksi tertinggal jauh kebelakang. Saat ini, sektor bisnis ada di angka 60 persen. Apa yang bakal terjadi..?
Kita masuk di era “Buble economy” yang makin canggih. Bisnis berkembang pesat, tapi yang kita jual adalah buih. Model dagang yang telah eksis saat ini akan berkembang lebih mengerikan. Menjual uang atau membeli uang dengan uang. Menjual manusia (traffiking) dan atau menjual jasa exploitasi manusia (prostitusi). Ini, karena komoditi atau produk tidak lagi tersedia cukup, lantaran proses produksi berhenti.
Proses produksi berhenti karena mesin pabrik kehabisan bahan baku (raw material). Habis, karena beberapa sebab. Pertama, sumberdaya alam yang tidak bisa diperbaharui seperti tambang sudah habis (un renewable natural resources). Kedua, sumberdaya alam yang bisa diperbaharui (renewable natural resources) seperti pertanian dan sejenisnya tidak punya tempat yang layak lagi untuk tumbuh. Ketiga, tidak cukup lagi orang yang bekerja serius di sektor produksi ini.
Dunia Pertanian tinggal menyisakan petani tua (aging farmer). Anak muda lebih tertarik pada sektor bisnis atau sektor pasca panen (pekerja pabrik) semata.
***
Maka, hal penting yang harus dilakukan adalah menjaga keseimbangan rantai pasok. Rantai pasok itu berujung di suplai komoditi untuk diperdagangkan. Tengahnya, ada pada penyediaan bahan baku untuk pengolahan. Dan, awalnya adalah produksi bahan mentah untuk pengayaan bahan baku.
Menjaga keseimbangannya akan menjamin keberlangsungan bisnis dan proses produksi. Bahan tambang akan habis. Tapi, produksi pertanian akan abadi berketerusan. Syaratnya, kita harus terus rawat ruang nafkah ini untuk tetap berproduksi. Ruang nafkah ini adalah relung ekologi. Di antaranya, yang paling penting adalah hutan. Karena dia adalah ibu bagi pertanian. Dia mengatur dan memberi air untuk tanaman. Maka, dia kita sebut Ibu Ekologi.
Sandingkan dengan Ibu biologis yang banyak disebut di hari Ibu pada setiap bulan Desember. Ibu biologis memberi air susu untuk anak-anaknya. Sedangkan Ibu ekologis adalah SDA dan anaknya adalah ekonomi rakyat. Agar, Ibu ekologis tetap berfungsi baik maka teruslah rawat SDA kita. ***






