Oleh Hasanuddin Atjo (Kepala Bappeda Provinsi Sulawesi Tengah)
Pandemic Covid-19 membuat semua “warga bumi” dihinggapi rasa was-was, cemas dan panik dengan kadar yang bervariasi. Pasalnya, dalam tempo kurang lebih dari 100 hari, sejak kasus infeksi positif di kota Wuhan, China, Covid-19 telah menyebar ke 207 Negara dengan korban meninggal per tanggal 5 April 2020, secara global mencapai 57.206 orang dari kasus sebesar 1.056.159 dan secara Nasional mencapai 198 orang dari kasus 2.273.
Dibalik ancaman, Covid-19 dinilai memiliki sejumlah sisi positif yang bermanfaat bagi kemajuan semua bangsa. Salah satunya adalah mendorong akselerasi atau percepatan dimanfaatkannya
Di Singapura misalnya, status orang dalam pantauan, ODP yang masuk ke Singapura melalui laut, darat dan udara, nomor android ODP direkam secara digital, dan kemudian dapat dipantau posisi dan pergerakan bersangkutan melalui sebuah sistem aplikasi.
Keterbukaan informasi di Negara itu juga menjadi salah satu faktor penunjang kesuksesan menekan laju penyebaran dan dampaknya. Warga yang positif terpapar mudah diketahui melalui android terkait identitas sampai kepada alamat bersangkutan yang telah berbasis koordinat.
Dengan demikian warga lainnya lebih mudah untuk melaksanakan social dan physical distancing. Warga akan mengetahui dengan mudah tempat tinggal dari warga lainnya yang terinfeksi positif melalui androidnya.Kore
Italia dan Spanyol serta Amerika Serikat adalah Negara dinilai kurang sukses menangani covid 19, meskipun penguasaan teknologi digital warganya selevel dengan Singapura, Jerman dan Korea Selatan. Persentase yang meninggal di atas 10 ribu orang atau sekitar 10 dari kasus positif, sedangkan rata-rata sekitar 5 persen. Pembeda antara Negara yang dinilai sukses dan kurang sukses itu lebih kepada tingkat kepatuhan dan kedisiplinan warganya.
Stay at Home dan Work From Home, di rumah saja dan bekerja dari rumah, bukan menjadi sulit bagi sejumlah Negara yang lebih awal familiar dengan digitalisasi. Bahkan Singapura akan menutup semua sekolah dan sebahagian besar perkantoran, kecuali terkait dengan pelayanan makanan, kesehatan dan terkait emergency mulai hari Selasa tanggal 7 April 2020 sampai dengan waktu belum ditentukan. Sejumlah guru akan mengajar siswanya melalui sejumlah aplikasi seperti Zoom yang lagi trending.
Indonesia meskipun relatif lambat masuk ke era digitalisasi untuk pengelolaan Pemerintahannya
Anjuran stay at home dan work from home telah dimulakan di seluruh daerah. Konsekuensinya semua pejabat struktur diminta untuk bisa menggunakan aplikasi guna melaksanakan tusinya agar fungsi pelayanan, fasiltasi dan pembangunan tidak berhenti. Kesemua ini menjadi tantangan dan masalah tersendiri.
Dampak perubahan dari cara konvensional ke digitalisasi antara lain akan memangkas sejumlah anggaran perjalanan dinas, biaya rapat koordinasi serta biaya bintek dan pelatihan lainnya yang selama ini dipandang tidak efisien dan efektif. Kondisi ini yang membuat kadangkala belanja pegawai di satu daerah tertentu lebih tinggi dari belanja publik atau masyarakat.
Tuntutan digitalisasi juga sejalan dengan prioitas Presiden Joko Widodo dan wakilnya Mar’uf Amin berupa reformasi birokrasi melalui percepatan pelayanan dengan teknologi digital; Restrukturisasi
Menguasai digitalisasi secara masif, diprediksi Negeri ini nantinya akan merivitalisasi sistemnya dari Pemerintahan yang menganut prinsip kaya struktur, tetapi miskin fungsi menjadi Pemerintahan miskin struktur tetapi kaya fungsi. Korea Selatan contoh Negara yang menerapkan Pemerintahan yang miskin struktur tetapi kaya fungsi. Jumlah Kementrian atau kembaga di Negara tersebut hanya sekitar 16 kementrian.
Karena itu prediksi ini menjadi warning bagi Aparatur Sipil Negara, ASN yang berjumlah 4.286.918 orang (30/6/2019). Saatnya sudah harus lebih fokus mempersiapkan kompetesinya untuk bisa menjadi bagian dari Pemerintahan miskin struktur dan kaya fungsi itu.
Kita semua berdoa dan berharap kiranya covid-19 segera berakhir dan kemudian bisa membangun negeri ini lebih siap dan lebih baik agar mampu menghadapi segala bentuk ancaman yang datangnya tidak dapat diprediksi. Karena itu kedepan negeri ini memerlukan sejumlah pemimpin yang inovatif, adaptif dan update agar selalu dapat menjadi sumber motivasi dan inspirasi warganya. Semoga.






