Sabtu, 4 April 2026
Palu  

Untuk APD, Plt. Dirut RS Anutapura Palu  Akui Pernah Beli Jas Hujan di Pasar Tradisional

PALU EKSPRES, PALU– Sejak ditetapkan sebagai rujukan pasien UK 19, Rumah Sakit Anutapura Palu (RSAP) langsung menyiapkan sejumlah langkah strategis. Diawali dengan simulasi penanganan pasien beberapa waktu lalu.

Itu menjadi informasi awal bagi masyarakat, bahwa RSAP siap menangani pasien. Langkah  kemudian diharap memberi penguatan mental bagi masyarakat.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama RSAP, dr Hery Mulyadi menjelaskan, pihaknya kala itu juga langsung membentuk tim medis perawatan. Yang terdiri dari 12 tenaga dokter dan 24 perawat senior. Tim ini diketuai seorang dokter ahli paru.

“Langkah ini kami segerakan dan menjadi upaya agar masyarakat tidak tambah cemas akan pandemi ini,”kata dr Hery dalam diskusi libu ntodea yang digelar Bappeda Palu secara virtual, Jumat 17 April 2020.

Kendati demikian kata dia, pihaknya sempat kesulitan untuk melengkapi tim medisnya dengan Alat Pelindung Diri (APD). Satu kondisi yang ia akui juga menjadi kendala hampir di seluruh RS rujukan. Kala itu RSAP hanya memiliki 22 APD.

Namun dia mengaku tak patah arah. Dan memutuskan berinisiatif membeli jas hujan di Pasar Inpres Manonda untuk dijadikan APD bagi tim medisnya. Kata dr Hery, meski tidak memenuhi standar,  inisiatif ini menjadi bentuk penguatan mental bagi tim medisnya agar semangatnya tidak kendor dalam merawat pasien.

“Kita terkendala APD yang saat itu hanya punya 22 APD.
Hampir semua RS mengalami ini. Akhirnya kami siapkan  APD dengan jas hujan. Belinya di pasar inpres.
Saya yakinkan kepada tim, bahwa jas hujan ini juga bisa dipakai,”tutur Hery mengisahkan.

Kini ujar Hery kendala APD sedikitnya bisa teratasi. Jumlahnya lumayan memadai bagi tim medisnya. Terlebih menurutnya, sejauh penetapan pandemi, jumlah pasien positif Covid 19 di Palu tidak menunjukan signifikansi.

“Dalam konteks pasien, kenaikan tidak signifikan. Saat ini APD sudah memadai karena dapat bantuan dari provinsi dan Pemkot Palu,”jelasnya.

Langkah strategis lainnya ia akui adalah penyediaan ruang isolasi. Meski awalnya fasilitas ini juga tidak memadai.

“Memang diperintahkan buat ruang isolasi. Makanya ruangan bekas IGD lama yang kami gunakan.
Dan sudah dilengkapi standar isolasi,”papar Hery.

Dalam kesempatan itu, Hery mengungkapkan sejumlah hal yang menjadi kekawatirannya dalam menangani wabah. Yang paling membuat kawatir adalah ketidakjujuran pasien mengutarakan riwayat penyakit dan perjalanan dalam proses diagnosa.

Situasi ini menurut Hery dapat membahayakan para tim medis. Yang bisa saja tertular karena ketidakjujuran pasien.

“Kami sedikit kecolongan beberapa pasien tidak jujur kepada petugas. Misalnya pernah ada 3 PDP dari Makassar yang awalnya tidak jujur mengenai riwayat perjalanannya,”beber Heri.

Demi kebaikan bersama, Heri meminta warga jujur akan segala pertanyaan petugas saat diperiksa. Dengan begitu para petugas  bisa melakukan diagnosa secara tepat.

“Jika tidak, ini membahayakan petugas karena sudah resiko terpapar tapi mengaku tidak. Ingat!,
30 dokter dan 20 perawat kita di Indonesia meninggal karena terjangkit Covid 19,”katanya.

Heri berkata, untuk memberi keamanan bagi petugas RSAP, pihaknya menjalankan sistem rotasi petugas dalam melayani pasien Covid 19. Yakni  mengarantina semua petugas setelah melalukan perawatan.

“Tenaga perawat di RSAP sangat terbatas. Makanya mereka dikarantina setiap setelah 2 Minggu pelayanan,”katanya.

Diapun mengingatkan masyarakat agar patut berupaya meningkatkan imunitas tubuh. Mengingat wabah ini belum memiliki obat penyembuh.
Kemudian menyarankan semua pihak untuk menyamakan persepsi dalam memerangi virus.

“Masyarakat perlu diingatkan agar jangan sampai jumlah pasien membludak. Kita jangan andalkan fasilitas rumah sakit. Makanya ikuti saja imbauan pemerintah,”demikian Heri. (mdi/palu ekspres)