Oleh Muhd Nur Sangadji
Kematian itu pasti. Tapi waktunya tidak pasti. Tidak ada satu pun hamba yang tahu dia akan wafat. Meski terkadang ada tanda yang diberi oleh yang bersangkutan tentang saatnya. Maupun oleh sejumlah ucapan dan kejadian. Maknanya terungkap setelah beliau pergi.
Tapi, umumnya kematian itu misterius. Itu soal ruh yang berpisah dengan jasad. Dan, yang ini, bahagian dari urusan Ilahi. Kamu, tandasNya. Tidak diberi ilmu pengetahuan (baca : tentang kematian itu), kecuali cuma sedikit).
Sebab itu, tidak ada satu upaya pun yang sanggup menahannya. WS Rendra benar. Ketika budayawan itu berkata tentang ruh. Ruh itu, ternyata cuma titipan. Dia, bukan punya kita. Satu saat akan diambil sang empunya. Kita, tinggal menunggu giliran.
Kali ini, giliran itu datang pada Ibu ku. Menjelang magrib. Senin, 22 Juni 2022. Di kota Ternate. Al maut telah tiba. Sejumlah penyakit menjadi alasan. Namun, jemputan malakul maut lah, sebab yang paling pasti. Dia, Ilahi yang bersebut. Bila telah datang waktunya. Tidak akan dimajukan atau dimundurkan sesaatpun.
Semuanya dalam genggaman takdirNya. Takdir tentang waktu. Juga, tentang tempat. Keduanya ini yang sangat berbeda di era ini. Meninggalkan kesedihan yang teramat dalam. Waktunya ada pada saat pandemi Covid 19. Dan, tempatnya terpisah jauh.
Prosedur Surat keterangan perjalanan dan kesehatan harus dipenuhi. Sementara, jaringan tranportasi belum normal. Konektivitas penerbangan terganggu. Juga, kegelisahan pada kemungkinan kontaminasi dalam perjalanan. Semuanya menjadi cobaan berat bagi yang berduka.
Satu hal yang sangat menghibur di era ini adalah teknologi komunikasi dan informasi. Jarak itu memisahkan jauh. Tapi, kita bisa bertatapan saling bicara dan melihat. Mengirimkan foto kaku atau gambar hidup dalam bentuk vidio. Kita bertemu dalam dunia maya, “on line”. Meskipun tidak sesempurna jumpa “off line”. Setidaknya, meredam kerinduannya.
Bayangkan bila kita hidup di era telepon manual. Kita hanya dengar suara saja. Bayangkan juga pada masa radiogram, surat dan telegram. Kita hanya tunggu berita. Tiap zaman, memang memberi coraknya sendiri-sendiri. Entahlah satu saat. Keluhan transportasi hari ini terjawab. Jawabannya, mungkin bernama lorong waktu. Seperti hayalan dalam film “The time tunnel” yang sangat populer di tahun 70 an itu.
Karena itu, seorang sahabat meminta maaf, tidak bisa hadir dalam pembacaan doa Ibu kami. Alasannya, sedang bersama ibunya di rumah sakit. Saya beri jawaban pada yunior ku, Zulkifli Mahmud. Dampingilah Ibu mu. Rebut peluang tersebut. Itulah kesempatan yang saya tidak punya untuk Ibu ku.
Virus ini telah menghalangi kita dalam banyak agenda kehidupan. Tapi, dia juga pasti dikirim agar kita berfikir. Berfikir tentang alam dan sekitarnya. Tentang penciptaan akan isinya. Penciptanya bilang, tidak ada yang sia-sia. Pilihan bagi kita adalah mengambil hikmahnya.
Saat berduka itu kita butuh berbagi kesedihan dan hiburan. Sehingga beban bisa terurai. Beberapa saat silam, karib saya, Ketua Lemlit IPB berpulang. Ibunda dari suami adik ipar ku pun wafat di Batam. Dia tidak bisa pergi karena kesulitan penuhi prasyaratnya. Pun, para tetangga di Batam tidak izinkan keluarga dari Jakarta datang karena zona merah.
Saya baru merasakan bagaimana perasaan para pasien dan keluarganya. Sedikit batuk akan membuat mereka ketakutan. Dilema psikologisnya dalam sekali. Covid 19 menguji kepasrahan ini dengan kesedihan dahsyat.
Tukang kayu di rumah ku juga punya cerita. Sebulan yang lalu, beliau kehilangan tiga individu keluarga dalam waktu berselang. Beliau juga punya cerita masa remaja di perantauan. Ditinggal wafat oleh Ibunya tanpa tahu khabar karena kesulitan komunikasi pada tahun 70 an.
Kolega Akademik ku di Tadulako, Hendrik Barus mengirimkan kata kata. Pak Nur, Ibu kita pergi dalam selang waktu 17 hari. Saya sangat terharu membacanya. Memang setiap orang ada gilirannya. Entah kapan menimpa kita.
Mendengar semua cerita ini, sedikit meringankan beban. Karena duka terbagi. Kita disadarkan, masih banyak yang lebih sengsara. Mungkin inilah maknanya nasehat untuk lihatlah ke bawah saat susah.
Malam harinya, Dr Gani Djumat. Dekan Fakultas Syariah IAIN Palu memberi hiburan dalam tausyiah takziahnya. Beliau bilang, jumpa fisik menjelang kematian, adalah kesempatan terbaik. Tapi, doa seorang anak bisa menembus jarak yang terpisah. Batapapun jauhnya. Kiranya Ilahi Rabbi, memberi Magfirah dan Rahmat bagi bunda kami. Amin yaa Rabb.






