Minggu, 5 April 2026
Opini  

Makna Kemerdekaan

Muh Ilyas. Foto: Istimewa

Oleh  Muh. Ilyas ***

Lagu “Hari Merdeka” karya Haji Mutahar selalu dikumandangkan penuh semangat oleh anak bangsa setiap hari kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus. Kemerdekaan merupakan dambaan setiap orang bahkan setiap bangsa-bangsa di dunia. Kemerdekaan adalah hak setiap bangsa, termasuk Bangsa Indonesia.

 Secara historis perlawanan-perlawanan tidak pernah terhenti dilakukan oleh para pejuang bangsa dalam upaya mengusir penjajah. Hal ini sebagai tekad Bangsa Indonesia untuk mewujudkan bangsa yang merdeka dalam menentukan nasib dan perjalanan bangsa di tangannya sendiri.

Ketika menilik peristiwa sejarah Indonesia 77 tahun yang lalu dalam kelender hijriyah serta 75 tahun dalam kelender masehi, Ir Soekarno membacakan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada hari Jumat 9 Ramadhan 1364 H, bertepatan dengan tanggal 17 Agusutus 1945 . Kemerdekaan itu adalah anugerah di hari yang paling mulia dan di bulan yang paling mulia.

Anugerah kemerdekaan menjadi sebuah berkah tersendiri karena bisa melepaskan penindasan dan belenggu dari para penjajah. Namun perlu disadari, meskipun sudah merdeka perlu untuk selalu diingat perjuangan para pahlawan agar setiap elemen bangsa dapat merawat kemerdekaan Indonesia. Amanah UUD 1945 juga memberi pesan moral bahwa kemerdekaan Bangsa Indonesia adalah Rahmat Allah Yang Maha Kuasa. Hal ini menunjukkan bahwa bepuluh-puluh hingga beratus tahun yang lalu para pejuang bangsa  selain berjuang dengan pedang, keris, bambu runcing untuk merebut kemerdekaan, para pejuang juga mepertahankan kemerdekaan ini dengan takbir yang membahana di setiap lorong waktu bangsa ini.

Elemen bangsa sepantasnya mengambil tauladan dari takbir komando seorang Sultan Babullah di Ternate, yang mana ketika Portugis dengan misi zendingnya memasuki bumi Nusantra, khususnya Maluku, selain untuk berdagang ternyata Portugis berhasrat menguasai wilayah Ternate. Bahkan, mereka memeiliki misi Gospel ( penyebaran agama ). Maka, Sultan Babullah di masa itu secara tegas menyerukan perwalanan pada seluruh rakyat Ternate dan negeri-negeri sekitarnya untuk menghancurkan dan mengusir Portugis dari Maluku, hingga pada akhirnya dalam sebuah tulisan yang berjudul Lapsus Syamina: “Pengepungan Benteng Portugis. Kekalahan super power Portugis oleh jihad Babullah di Ternate” dijelaskan bahwa pada tahun kelima tepatnya 28 Desember 1575, bertepatan dengan “Hari Suci Santo Stefanus”, Portugis menyerah tanpa syarat setelah diultimatum oleh Sultan Babullah. Pasukan Portugis keluar dari Maluku dengan hina setelah berkuasa dan berjaya mengeruk keuntungan dengan zalim di daerah Maluku kurang lebih 53 tahun ( 1522-1575 ).

Begitu juga kepahlawanan Sultan Hasanuddin di Makassar, Sultan Agung di Jawa, sampai pada Tuangku Nan Renceh di Sumatera yang dalam berbagai sumber sejarah mereka telah melakukan perjuangan melawan penjajah untuk kepentingan kemerdekaan bangsa dan negara.

Namun pemaknaan kemerdekaan tidak bisa hanya dilihat dari satu sisi saja, tetapi di dalam Islam,  Allah Subhanahu wa Ta”ala yang telah memberi kemerdekaan terhadap Indonesia atas berkat dan Rahmat-Nya, serta mengabarkan makna kemerdekaan dalam Alquran Surah Al-Isra ayat 70 yang artinya “Dan Sungguh telah kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut mereka di daratan dan di lautan, kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah kami ciptakan”. Yang sebagian para mufassirin ( ahli tafsir ), selain ilmu dan akal diantara bentuk kemualiaan manusia atas mahluk yang lain adalah kecenderungan untuk terbebas dari penindasan dan penjajahan (Tafsir Bahrul Muhith 6/59). Dengan kata lain, kemerdekaan merupakan kunci kemuliaan manusia. Manusia tak akan lebih utama dari makluk-makhluk lain dan menjadi mulia sebelum ia terbebas dari penjajahan.

Hal lain, penting menjadi pemaknaan kemerdekaan, adalah setiap elemen bangsa yang cinta terhadap negeri ini, agar tidak hanya memandang bahwa kemerdekaan itu hanya ketika pasukan musuh berhasil dipukul mundur dari negeri ini. Karena penjajah suatu negeri bukan hanya berupa penghacuran negeri tersebut dari pasukan musuh, dirampasnya berbagai kekayaan alam oleh para penjajah dan semacamnya. Namun kini, penjajahan dalam perang pemikiran dan invasi nilai-nilai menyimpang yang bisa mengganggu dan merusak keyakinan, moralitas generasi bangsa ini agar jauh dari nilai-nilai agamanya.  Serangan yang demikian halus ini menghampiri elemen anak bangsa melalui media-media yang tidak terfilter dalam pemanfaatannya seperti televisi, internet dan media-media yang lainnya.

Akhirnya mari bentengi elemen anak bangsa dengan edukasi yang massif. Bagaimana memaknai kemerdekaaan itu dengan rasa syukur. Mari kita syukuri bersama kemerdekaan ini dengan mempertahankan jati diri bangsa dengan nilai-nilai agama yang tinggi dan cinta kepada negeri ini. Dengan ini, Insya Allah bangsa kita akan mampu meraih kejayaan dimasa yang akan datang dan meneruskan sejarah perjuangan bangsa ini, menjadi sebuah bangsa dan negara yang meraih magfirah  ( ampunan ), kesejahteraan, dan kedamaian dari Tuhan pemilik semesta alam . Allah Subhanahu wa ta”ala selama-lamanya.

***Penulis Guru Sejarah SMA Islam Terpadu Wahdah Islamiyah