Bagian Ketiga
Oleh Hasna, S.Pd., M.Pd. (Dosen FKIP UNTAD, Mahasiswa S3 UNESA)
SEPASANG suami istri yang sama-sama beriman yang pernah hidup di dunia kelak akan dikumpulkan sebagai suami istri pula di surga. Dan tentunya ketika si suami diberikan pilihan antara bidadari atau wanita sholihah yang pernah menjadi isterinya dahulu di dunia, maka si suami tersebut pasti akan memilih istrinya sendiri ketimbang bidadari karena istrinya jauh lebih cantik daripada bidadari.
Mengenai keistimewaan istri (wanita) di surga dibandingkan bidadari, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam melalui hadistnya mengatakan “Sungguh tutup kepala salah seorang wanita surga itu lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Sedangkan gambaran laki-laki surga, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يدخل أهل الجنةِ الجنةَ على طول آدم عليه السلام ، ستون ذراعا بذراع الملك ، على حسن يوسف ، على ميلاد عيسى ثلاث وثلاثون سنة ، وعلى لسان محمد صلى الله عليه وسلم ، جرد مرد مكحلون
Para penduduk surga ketika masuk surga, tingginya seperti Adam, 60 dzira, tampan seperti Yusuf, di usia seperti Isa sekitar 33 tahun, memiliki lisan seperti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, badan tidak berbulu, berpenampilan muda, dan bercelak.
Perlu diingat bahwa Islam melarang laki-laki maupun perempuan untuk hidup menjomblo tanpa alasan syar’i. Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu menyampaikan:
كان رسول الله صلّى الله عليه وسلم يأمر بالباءة وينهى عن التّبتّل نهيا شديدا
“Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu memerintahkan kami agar menikah dan beliau sangat melarang kami untuk membujang (tidak mau menikah selama-lamanya)”. [HR. Ibnu Hibban no.4028 dan lain-lain. Kata Syu’aib Al-Arna’uth rahimahullah dalam Takhrij Shahih Ibni Hibban no.4028, Shahih dengan adanya jalur pendukungnya].
Berbeda halnya jika seseorang memiliki alasan syar’i seperti, sakit, belum memiliki penghasilan yang cukup (bagi laki-laki), bagi wanita belum siap secara fisik maupun mental untuk menikah atau belum ada yang datang melamar, ataukah yang datang melamar itu adalah orang yang tidak beriman.
Dalam Islam, sesungguhnya tidak ada larangan bagi para lelaki untuk mencari calon istri yang cantik dengan fisik yang ideal dan tidak ada pula larangan bagi para wanita untuk menerima lamaran lelaki kaya lagi tampan, akan tetapi harus beriman.
Jika ingin yang cantik atau tampan dan kaya sekaligus juga beriman, hal itu bisa disebut selera tinggi. Selera tinggi itu tidak salah, akan tetapi merupakan hal yang langkah apalagi jika dihadapkan dengan ujian seperti dua macam pilihan di atas. Jika memang bersih keras dengan selera tinggi tersebut, maka maksimalkan usaha dan maksimalkan doa lalu bertawakallah.
Usaha tersebut diantaranya adalah hijrah, bersungguh-sungguh memantapkan iman, jika memang ingin dapat yang beriman, bergaullah dengan orang-orang sholih dan kalau perlu ikut kajian bersama orang-orang sholih tersebut. Yang demikian itu disebabkan karena Allah SWT telah menentukan rumusnya yaitu, orang beriman untuk orang beriman dan orang kafir untuk orang kafir.
Jadi jika ingin mendapat jodoh yang beriman, maka berimanlah terlebih dahulu. Baik laki-lakimaupun wanita seharusnya punya prinsip, mengapa saya menginginkan istri/suami saya beriman sementara saya sendiri tidak beriman.
Seseorang disebut beriman jika memenuhi 3 syarat: (1) mengucapkan kalimat tauhid dengan lidah, (2) menyakini kebenaran kalimat tersebut dengan hati, dan (3) merealisasikan kalimat tersebut dengan perbuatannya.
Patuh pada konsekuensi yang dikandung oleh makna kalimat tauhid, yaitu dengan hanya menyembah Allah azza wa jalla semata, mematuhi syariatNya, mengimani dan meyakini bahwa syariatNya adalah benar.
Jika dia mengucapkan kalimat tauhid namun enggan menyembah Allah semata, tidak mematuhi syariatNya bahkan menyombongkan diri, maka ia tidaklah teranggap sebagai muslim. Ia seperti iblis dan yang semisal dengannya.
Adapun tentang cara berdoa agar doa kita dikabulkan oleh Allah SWT dan juga apa itu tawakal terkait doa dan usaha maksimal yang sudah kita lakukan, nantikan tulisan berikutnya dengan judul “Memilih Pasangan Idaman dengan Doa” dan “Memilih Pasangan Idaman dengan Tawakal”. Wallahu A’lam Bishawab. (Selesai)






