Minggu, 5 April 2026
Opini  

Rusdy Mastura: Idealnya Bekerja Sebagai Manajer

Rusdy Mastura dan Hasanuddin Atjo. Foto: Facebook HasanuddinAtjo

Oleh Hasanuddin Atjo

Di Senin siang, 15 Maret 2021 saya berkesempatan berdialog singkat dengan Gubernur Sulteng tepilih priode 2021-2026, Rusdy Mastura di salah satu rumah makan di Kota Palu dengan menu khas “rahang ikan tuna”.

Menurut Bung Cudi, sapaan akrab Rusdy Mastura bahwa pemimpin di daerah harus bekerja sebagai manajer, bukan sebagai pekerja. Mulai ketua RT dan RW, Kepala Desa, Pejabat struktur atau Eselon sampai dengan pemimpin daerah itu sendiri.

Menurutnya seorang manajer yang sukses, lebih disebabkan oleh sifat yang mau maju antara lain senang belajar, mendengar, melihat dan berpendapat, diakhiri kemampuan menyusun sebuah rencana dan kemudian mengeksekusinya.

Sambil tersenyum dan berkelakar Bung Cudi berkata maklum sajalah sekolah saya “tidak tuntas”, tetapi saya telah ditakdirkan oleh yang Kuasa menjadi seorang kepala daerah dan akhirnya suka tidak suka saya harus banyak belajar.

Dan saya kemudian mengomentari pernyataan Bung Cudi . Oh iya. Itu juga namanya kuliah di universitas. Saya sengaja diam sejenak , agar yang hadir jadi penasaran kenapa disebut kuliah di universitas. Dan saya melanjutkan komentar:

Namanya “Universitas Kehidupan”. Mendengar istilah itu semua pada tertawa lepas. Sudah banyak juga alumninya lanjut saya. Di antaranya, Albert Enstain, Bob Sadino, Susi Pujiastuti, mantan menteri Kelautan di era Jokowidodo priode pertama.

Manajer, menurut Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta adalah nilai atau kemampuan seseorang yang diukur dari ide atau gagasannya, kemudian dinarasikannya. Setelah itu dieksekusi yang membawa satu perubahan yang lebih baik.

Saya melanjutkan komentar saya bahwa yang membedakan manajer dan pekerja biasa ( staf), adalah pola berpikirnya. Manajer tentunya memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada pekerja biasa.

Manajer harus menempa mental dirinya untuk menjadi orang yang lebih bertanggung jawab, disiplin, update, adaptif dan inovatif. Agar dia tidak ketinggalan kereta dan saya sebut dengan istilah “kereta perubahan”.

Menurut sejumlah pakar, bahwa setidaknya ada 12 karakter yang harus terus diasah oleh seorang manajer agar dia bisa menjadi salah satu penumpang terpilih di kereta perubahan yang segera meninggalkan stasiun.

Pertama, bertanggung jawab atas situasi maupun keputusan yang diambil. Manajer sosok yang dinilai memiliki kesempatan menciptakan sesuatu atau karya yang tadinya tak ada menjadi ada.

Seorang pekerja biasa, lebih pada menjalankan semua tugas tanpa harus berpikir akan baik buruknya kontribusi tugas itu bagi kemajuan perusahaan. Yang paling penting menurutnya tugas pokok selesai.

Kedua, Visi jangka pendek maupun jangka panjang dibangun simultan. Sedangkan staf, fokus kepada hal hal yang bersifat jangka pendek saja. Manajer harus mewujudkan setiap visi, maupun ide brilian yang sudah terlintas di benaknya.

Ketiga, mengubah tantangan jadi peluang. Manajer selalu dituntut berpikir “out of the box”. Semua ide baru yang liar dan ada sebuah keinginan mewujudkannya, maka harus direrencanakan secara baik agar bermanfaat dan membangun

reputasi.

Keempat, tetap “merasa lapar dan bodoh” Seperti kata Steve Jobs; Stay hungry, stay foolish. Manajer

sukses tidak pernah merasa dirinya sudah hebat. Mereka selalu ada rasa lapar dan haus terkait inovasi.

Hal ini saya tangkap di saat diskusi dengan Mardani H. Maming, ketua HIPMI saat ini dan mantan Bupati Tanah Bumbu dua priode, terobsesi akan mengembangkan teknologi budidaya udang vaname supra intensif ( produktifitas 150 ton/ha/siklus) berskala industri di sejumlah wilayah diantaranya di Sulteng.

Kelima, membangun objektifitas dan cinta pekerjaan. Seorang manajer harus berusaha selalu objektif, tidak mendengar informasi sepihak. Dan, kedua manajer harus mencintai pekerjaan yang diberikan padanya meskipun tidak disenangi.

Rhenal Kasali, guru besar UI dan tokoh perubahan mengemukakan bahwa memulai sebuah pekerjaan harus diawali dengan membangun rasa bahagia. Pekerjaan seberat apapun kalau diawali kebahagian pasti akan lebih ringan.

Keenam, tidak tabu langgar aturan baku. Seorang manajer diharuskan berani melanggar atau mendobrak aturan baku konvensional yang dinilai menghambat kemajuan. Dan saat ini di manajemen pemerintah dikenal dengan istilah diskresi.

Ketujuh, tidak dibatasi waktu kerja. Seorang manajer, waktu kerjanya harus fleksibel. Umumnya waktu kerja manajer sukses melebihi dari yang seharusnya karena tuntutan kemajuan.

Manajer tidak boleh lagi terjebak dengan cara kerja konvensional, serta kehilangan waktu dalam perjalanan, karena terperangkap dalam sebuah kemacetan.

Kini telah tersedia berbagai instrumen digitalisasi yang bisa menghemat waktu dan biaya, serta menyelesaikan pekerjaan didalam waktu hampir bersamaan.

Delapan, bergaya hidup sederhana

Manajer diharuskan selalu berpikir bahwa kesuksesan lebih penting dari pengakuan orang. Manajer sukses dalam keseharian sering berpakean sederhana dan tidak berlebihan. Kecuali di acara formal.

Kesembilan, membangun budaya disiplin. Sikap disiplin sesuatu yang dapat dipelajari dan harus dilatih terus menerus. Membutuhkan satu keinginan kuat untuk tidak terbawa perasaan menunda pekerjaan agar

terbangun sebuah konsistensi dan motivasi, untuk kemajuan.

Disiplin akan menjadi modal dasar bisa memilih dan menetapkan satu program, mana prioritas dan mana yang bukan skala prioritas. Dengan demikian efisiensi akan terbangun.

Kesepuluh, tidak mudah menyerah.

Manajer harus menyadari bahwa banyak hambatan dan tantangan bagi kemajuan. Karenanya tidak boleh cepat putus asa atau patah arang. Bahkan jika terbentur, maka boleh mundur dulu , seperti orang yang tersesat mundur selangkah untuk mencari jalan yang baru.

Sebelas, persaingan merangsang Inovasi. Manajer harus menjadikan pesaing dia sebagai motivasi untuk lebih berinovasi. Dan tidak terjebak dalam paradigma lama dengan sengaja membuatkan lubang bagi pesaingnya. Ini yang masih sering dijumpai di dunia birokrasi.

Dua belas, segera eksekusi dan tidak menunda. Sebuah rencana yang baik ( ide dan narasi) harus segera dieksekusi. Jikalau tidak maka kita akan kehilangan sebuah kesempatan, karena manajer lain juga memiliki ide dan narasi yang mirip.

Tidak boleh takut membuat sebuah transformasi . Terpenting adalah keberanian mengeksekusi dahulu kemudian dievaluasi. Bukankah reputasi itu merupakan sebuah kesuksesan yang berulang dan kesuksesan merupaksn kegagalan berulang.

Saya mengakhiri dialog dengan Bung Cudi dan mengatakan bahwa tidak lama lagi bapak akan dilantik menjadi gubernur Sulteng periode 2021-2026. Dan akan mengangkat sejumlah manajer untuk membantu

bapak penyelenggaraan tatakelola pemerintahan.

Saat ini kapasitas manager dan calon manajer yang dimiliki ada tiga kategori: yaitu (1) kategori sehat dan bisa segera berlari, (2) kategori bisa disembuhkan dan ada proses dan, (3) kategori sulit disembuhkan dan tidak efisien untuk penyembuhannya.

Paling tidak kita memiliki stock manajer kategori satu dan dua. Dan harus dimanfaatkan. Bila perlu “mengimpor “ manajer yang dinilai mampu membuat percepatan. Dan semua yang hadir tertawa lepas.

Semua ini berpulang kepada Bung Cudi sebagai manajer puncak. Dan saya menutup diskusi kalau Bung Cudi konsisten dengan rencananya maka cita cita yang besar tersebut, insyah Allah menjadi keniscayaan. Semuanya mengamini. SEMOGA.