Minggu, 5 April 2026
Opini  

Kembali ke Fitrah

MHD Natsir. Foto: Istimewa

Oleh MHD. Natsir Yunas*

TAHUN ini adalalah kali kedua puasa ramadhan dijalankan di tengah ancaman pandemi. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya kalau pandemi ini telah memaksa manusia untuk meninggalkan segala aktivitas yang biasanya dilakukan secara bebas. Protokol kesehatan dijalankan dengan ketat untuk mencegah bertambahnya jumlah pasien yang terjangkit Covid-19. Sudah dua kali lebaran juga masyarakat dilarang mudik untuk bersilaturahim dengan orang-orang tercinta. Covid-19 tidak hanya menggoyahkan ekonomi masyarakat, tetapi juga bisa merusak dan memutus silaturahim dengan sesama.
Kondisi seperti ini seharusnya menjadikan kita semakin yakin akan kuasa Allah SWT. Sang Maha yang bisa berbuat sekehendaknya dan tugas kita sebagai hamba untuk bertafakkur terhadap setiap kejadian yang dialami. Ramadhan di tengah ancaman pandemi Covid-19 menjadi moment bagi kita untuk lebih memperbanyak istighfar kepada Allah SWT. Meningkatkan ibadah dan mohon ampun kepada-Nya atas dosa yang begitu banyak dilakukan selama ini. Karena hakikat penciptaan manusia di dunia ini adalah untuk beribadah kepada-Nya. Sehingga semua aktivitas seharusnya bernilai ibadah. Bahkan di setiap hirupan nafas yang mengaliri tubuh, seharusnya menjadi wujud ibadah kepada-Nya.
Mulai dari alam rahim, manusia sudah mengucapkan janji setia, akan beriman dan tidak akan menyekutukan-Nya. Kita akan berbuat sesuai keimanan yang telah kita ikrarkan (Q.S. Al A’raaf: 172). Namun kenyataannya setelah beranjak dewasa, keimanan yang pernah diikrarkan berganti dengan kedurhakaan. Iman sekedar simbol, karena yang ada dalam tindakan adalah kemusyrikan. Kesibukan di dunia melalaikan kita untuk meningkatkan keimanan kepada-Nya. Menjadikan harta, dan jabatan sebagai “Tuhan”. Harta ditumpuk sedemikian rupa dan tidak mau menafkahkannya di jalan-Nya. Jabatan yang diberikan bukannya untuk mengokohkan iman, malah sebaliknya semakin menjauhkan diri dari-Nya.
Kebanyakan dari kita telah lupa hakikat penciptaan dirinya di dunia ini. Misi ibadah yang diemban tidak pernah terlaksana secara maksimal. Sebaliknya malah kejahatan, syirik dan lain sebagainya telah mengaburkan hakikat penciptaan kita sebagai manusia yang beriman. Bahkan musibah dan cobaan yang datang seperti saat ini tidak mampu merubah sikap sebagian kita untuk lebih mendekatkan diri kepada-Nya.
Begitu juga dengan amanah yang diberikan kepada manusia sebagai khalifah di muka bumi ini. Manusia menjadi penguasa alam yang memiliki tanggung jawab untuk mengatur tata kehidupan masyarakat di dunia ini menjadi lebih baik. Sebagai khalifah manusia memiliki otoritas yang paling tinggi dibanding makhluk lainnya. Amanah sebagai khalifah di dunia ini harus dibuktikan dengan menjaga alam dan berbuat baik sebanyak-banyaknya di dunia ini.
Namun kenyataannya tidak demikikan, kebanyakan manusia malah merusak ekosistem alam, sehingga bencana bukan diberikan Tuhan malah sebaliknya manusia itu sendiri yang mengundangnya (Q.S. Ar-Ruum: 41). Gunung dan makhluk Tuhan lainnya tidak mau menerima amanah yang diberikannya, karena merasa tidak mampu untuk memikulnya. Manusia mau menerima bukan karena kepintarannya, tetapi karena kebodohannya.
Terkadang dalam keluarga saja sebagian kita tidak bisa menjalankan amanah sebagai orang tua. Anak sebagai amanah dari Tuhan harus dibimbing agar tunduk pada perintah-Nya. Karena lahirnya anak ke dunia ini merupakan manifestasi dari regenerasi amanah pada Tuhan. Bukan hanya semata-mata regenerasi keturunan.
Kalau terlahirnya seorang anak manusia ke dunia hanyalah semata-mata untuk melanjutkan keturunan, lalu apa bedanya dengan hewan?. Yang kerjanya hanya makan, tidur, melanjutkan keturunan kemudian mati. Jangan-jangan terjadinya kejahatan dan berbagai kerusakan di muka bumi ini karena sebagian kita memiliki tujuan hidup hanya untuk melanjutkan keturunan dan bagaimana keturunan tersebut bisa hidup senang. Untuk mewujudkan hal itu, maka segala cara dilakukan tanpa menghiraukan halal dan haram.
Jika memang demikian, pantas saja kerusakan dan tindak kejahatan terus terjadi di muka bumi ini. Karena hadirnya keturunan bukan dimaknai sebagai regenerasi amanah, tetapi lebih pada melanjutkan keturunan semata. Padahal sekecil apapun amanah yang kita pikul akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah SWT.
Oleh sebab itu ibadah ramadhan yang dilakukan di tengah pandemi Covid-19 ini seharusnya mampu menjadikan kita untuk kembali fitrah (suci), terbebas dari dosa. Karena Allah SWT menciptakan manusia dalam keadaan fitrah dan ketika kembali kepada-Nya seharusnya kita juga dalam keadaan suci. Namun terkadang banyak di antara kita yang tidak menjaga fitrahnya. Kita mengotorinya dengan berbagai perbuatan yang mengotori kesucian sebagai manusia. Kita bertindak seakan tidak akan pernah kembali pada Allah dan lupa bahwa setiap kita pasti akan kembali kepada-Nya. Kalau kita yakin akan kembali kepada-Nya, maka hidup di dunia ini sebenarnya adalah tempat untuk menjaga kesucian yang dimiliki.
Sebagai makhluk yang meyakini kuasa sang Pencipta alam ini, tentu hal ini perlu menjadi bahan renungan untuk menjadi lebih baik lagi. Terlebih lagi ramadhan hanya tinggal beberapa hari lagi. Semoga ibadah ramadhan yang kita laksanakan di tengah pandemi Covid-19 ini di terima Allah SWT. Sehingga berakhirnya mampu membebaskan kita dari dosa dan kembali ke fitrah, sebagaimana yang dijanjikan Rasulullah SAW bahwa “Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.”  (HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760).

*Alumni Perguruan Thawalib Padang Panjang/ Dosen Jurusan PLS FIP UNP Padang