Minggu, 5 April 2026
Opini  

Waktu Singkat dan Kabinet Profesional, Tantangan Rusdy-Ma’mun

Gubernur dan Wakil Gubernur Sulteng terpilih Rusdi Mastura-Ma'mun Amir dilantik dan diambil sumpahnya oleh Presiden Jokowi di Istana Negara, Rabu (16/6/2021). Foto: Tangkapan layar

Oleh Hasanuddin Atjo

Hampir semua kepala daerah hasil Pilkada di tahun 2020 telah usai dilantik Presiden atau Gubernur. Salah satunya adalah pasangan Rusdy Mastura -Ma’mun Amir yang baru saja dilantik Presiden Jokowi pada 16 Juni 2021 di Istana Negara.
Rasa suka cita, eforia sudah tentu menyelimuti masyarakat Sulawesi Tengah, karena secara resmi telah memiliki pemimpin baru hingga tahun 2024. Rusdy Mastura dan Ma’mun Amir diharapkan mampu membawa satu perubahan ke arah yang lebih baik.
Sejumlah visi besar pasangan ini yang menarik dan menjadi salah satu faktor yang bisa mengalahkan yuniornya, pasangan M. Hidayat Lamakarate dan Bartholemeus Tandigala, pada pesta demokrasi tahun 2020 lalu dan berlangsung secara head to head dengan beda suara signifikan
Pasangan Rusdy Mastura-Ma’mun Amir mengusung tagline “ Bergerak Cepat dan Tuntas” mewujudkan Sulteng Maju dan Sejahtera melalui sejumlah skenario, yang mendesak dan super prioritas dilaksanakan. Skenario skenario itu antara lain;
Pertama, keluar dari pertumbuhan ekonomi yang anomali, kemiskinan yang tinggi sekitar 13,06 persen di 2020, ketimpangan pendapatan antarkabupaten yang lebar, antara daerah berbasis tambang dengan yang berbasis pangan.
Kedua, meminimalkan persoalan bencana multi dampak tanggal 28 September2018 yang masih tersisa diantaranya penyaluran dana duka, rumah tinggal, perbaikan ekononi dan sosial warga, dan membangun kemampuan mitigasi.
Ketiga, perbaikan indeks kapasitas fiskal daerah yang saat inI berada pada peringkat 24 dari 34 Provinsi di Indonesia dan dalam kurun waktu 10 tahun terakhir sulit bergeser naik peringkat.
Dan keempat, mendorong upaya intensifikasi sumber pendapatan daerah dan melahirkan sumber sumber pendapatan baru yang notabenenya masih terbuka luas, mengingat besarnya potensi di sektor tambang, pangan maupun pariwisata. Saat ini pendapatan asli daerah ini masih sekitar 1 triliun rupiah.
Visi dan skenario Rusdy-Ma’mun seperti yang diurai di atas, dinilai oleh sejumlah pemerhati memiliki muatan yang mampu membawa daerah ini bisa lebih maju dan lebih sejahtera. Hanya saja sebahagian pemerhati menyangsikan waktu yang relatif singkat tiga tahun dan tiga bulan apakah bisa membawa sebuah perubahan?.
Berkaitan dengan itu, di Sabtu sore saya dikontak sejumlah rekan pers meminta komentar berkaitan masa jabatan singkat bagi kepala daerah hasil Pilkada tahun 2020 dan harus mengakhiri jabatannya pada akhir 2024, karena amanat dari UU Nomor 10 tahun 2016.
Waktu yang singkat bisa menjadi alasan paling gampang alias cari “kambing hitam” bahwa program yang disusun sulit direalisasikan. Karena itu , sebaiknya semunya tidak lagi terjebak oleh pemikiran itu. Dan saatnya mendiskusikan bagaimana strategi yang harus dilakukan oleh terbatasnya waktu.
Dari sejumlah diskusi bersama Rusdy Mastura maupun timnya, mereka menyadari bahwa waktu menjadi salah satu tantangan yang utama untuk mewujudkan sebuah perubahan sebagaimana harapan.
Dan ini bisa dilihat dari visi maupun langkah langkah dilakukan selama enam bulan menunggu pelantikan.
Pendekatan Sulteng Incooporated atau biasa dusebut juga dengan filosofi “Kereta Kuda”, bermakna Provinsi dihela oleh 13 kabupaten dan kota menjadi strateginya untuk mewujudkan cita citanya.
Harapannya bahwa dengan filosofi ini, maka pertumbuhan ekonomi Sulteng akan tinggi dan cenderung merata ditopang sektor unggulan masing masing kabupaten/kota. Dengan kata lain ada perwilayahan komoditi yang berorientasi industri.
Rusdy Mastura sering terlihat mengunjungi pusat pusat inovasi yang ada di negeri ini, baik yang dimiliki swasta maupun pemerintah dan kemudian membangun dialog dengan beberapa CEO maupun pimpinan lembaga untuk memperkaya referensi dan dukungan.
Ditinjau dari visi, misi dan program banyak yang memberi apresiasi. Tinggal bagaimana visi, misi dan program itu dapat tertransformasi secara baik ke masyarakat. Dan peran OPD, organisasi perangkat daerah menjadi tantangan kedua setelah waktu yang terbatas.
Rekruitmen pimpinan OPD menjadi hal yang strategis dan agak pelik bagi Rusdy dan Ma,mun karena tidak hanya oleh pertimbangan kompetensi dan profesionalisme, tetapi masih ada pertimbangan politis yang harus diakomodir.
Sejumlah kalangan telah memberi masukan melalui akun facebook hasatjo@gmail.com bahwa kiranya rekruitmen pejabat struktur kali ini lebih mengedepankan kompetensi dan profesionalisme daripada kepentingan lainnnya.
Selain masalah yang sudah ada, seperti anomali, kemiskinan dan kapasitas fiskal, sejumlah alasan yang mendasari masukan tersebut, yang harus direspon antara lain,
(1) Tuntutan era digitalisasi dalam rangka industri 4.0 menuju ke 5.0 dan obsesi mewujudkan satu data Indonesia.sebagai landasan yang baik dalam proses perencanaan.
(2). Pemberlakuan UU No 5 Tahun 2014 tentang ASN , berorientasi pada profesionalitas dan netralitas birokrasi berujung pada pangkas eselon III dan IV paling lambat akhir Juni 2021. Dan Provinsi ini salah satu daerah yang belum sekesai memfollowupinya
(3) Potensi bonus demografi yang diperkirakan tahun 2028 -2030 dan suka tidak suka sudah harus dipersiapkan desainnya agar tidak menjadi beban disaatnya nanti.
Kesemuanya ini berkaitan upaya Sulawesi Tengah menjadi bagian dari Indonesia emas, Indonesia hebat di tahun 2045 dengan PDB meningkat dari 1 triliun dolar US ke 7 triliun dolar.
Selain upaya upaya tersebut diatas seyogianya di akhir masa jabatan Rusdy Mastura dan Ma,mun Amir di 2024, mampu melahirkan peta potensi akademik SDM ASN yang dimiliki sebagai landasan rasional objektif dalam rangks rekruitmen ASN yang profesional. Dan topik ini akan diulas pada lain kesempatan. SEMOGA.