Minggu, 5 April 2026
Opini  

Tuaka Untuk Negeri

TASRIEF SIARA

Tasrif Siara, Praktisi Media Komunikasi Publik

SABTU malam Mahaswara Indonesia menggelar Webinar seri 5 bertajuk, arah baru pembangunan Sulteng yang tertuang dalam rancangan awal RPJMD. Ahlis Djirimu, PhD ditampilkan sebagai pembicara kunci karena dia adalah ketua tim penyusun RPJMD Sulteng.

Mahaswara Indonesia ini menggagas lahirnya satu group pertemanan melalui whatsapp. Namanya Tuaka Untuk Negeri.  Anggotanya adalah orang-orang hebat Sulteng yang telah berdiaspora di berbagai penjuru negeri, maupun yang mukim di Sulteng. 

Gagasan untuk kemajuan Sulteng saban hari diulas di group Tuaka Untuk Negeri. Frekuensi pembahasan sangat laju dan dinamis. Jeda sedikit kita sudah ketinggalan jauh. Dari diskusi itu kadang lahir gagasan untuk di Webinarkan.

Webinar sabtu malam kemarin, Mahaswara Indonesia memilih sejumlah pembahas hebat-hebat. Topik yang mereka ulas juga sangat menarik. Intinya untuk kemajuan Sulteng yang lebih baik. Sayangnya gagasan yang hebat-hebat itu lahir ketika penyusunan RPJMD Sulteng memasuki fase finishing.

Diskusi di group Tuaka Untuk Negeri itu asik dinikmati. Anggotanya sangat beragam. Dari politisi, pejabat, pengacara, akademisi, jurnalis, pengusaha dan beragam profesi lainnya. Ragam perspektif bisa dijumpai disana.

Tak selamanya hal yang serius didiskusikan, canda, igauan juga sering dijumpai disana. Tapi terkadang ada anggota group tensinya meninggi dalam merespons karena ada anggota lainnya punya sikap yang opposite. Bagi saya, nikmati saja, dari sana dinamika baru bisa lahir.

Topik diskusi yang berat-berat selalu mendominasi, saya hanya bisa menikmati dan belajar dari kawan-kawan yang hebat-hebat itu, belum bisa berkontribusi. Ilmu belum sampai. Seperti soal Sulteng In corporate, tambang, perkebunan skala besar dan lainnya.

Terkadang saya hanya bermimpi, semoga gagasan-gagasan besar dari Tuaka Untuk Negeri itu bisa memberi efek terhadap peretasan disparitas pembangunan antar kota kabupaten di Sulteng.
Kalau kita merujuk pada beberapa data indikator pembangunan, kadang kita jumpai hal menarik dan cenderung anomaly.

Untuk contoh, jika kita buat grafik Pendapatan Asli Daerah (PAD) berbasis kota kabupaten tahun 2021, disana bisa dilihat deretan grafik yang mirip pagar yang tidak rata. Ada yang ketinggian sekali seperti Kabupaten Morowali, pagar agak di tengah Kabupaten Banggai dan Kota Palu. Pagar yang sangat rendah sekali, Banggai Laut dan Banggai Kepulauan.

Contoh kedua. Grafik kemiskinan. Jika kita masukan angkanya, akan tercetak pagar yang juga tidak rata. Pagar tertinggi kemiskinannya Kabupaten Donggala 17,39 persen dan pagar terendah Kota Palu 6,80 persen. Mengapa bisa begitu? Itulah masalahnya. Dan itulah dispasritas pembangunan antar kota kabupaten yang saya maksud. Mungkin keliru, maaf.

Contoh yang terakhir, PAD dan pertumbuhan ekonomi, Kabupaten Morowali tertinggi di seluruh kabupaten kota di Sulteng. Dua indikator itu ternyata tidak memberi efek terhadap penurunan angka kemiskinan, angkanya masih 13,43 persen.

Di provinsi kita ini, masih terdapat dua belas kabupaten angka kemiskinannya di atas 12 persen, hingga Sulteng terkategori kemiskinan ekstrim. Seperti apa solusinya, kita tunggu teman-teman di Tuaka Untuk Negeri bisa membahasnya secara serius.

Salandoa untuk para diaspora Sulteng di seluruh penjuru negeri. ***