Sabtu, 4 April 2026
Opini  

Tentang Retret

Oleh: Jafar G Bua

Di medan perang Kurukshetra, sebelum panah dilepaskan dan dentang senjata membelah udara, ada jeda. Sebuah perhentian di mana segala sesuatu membeku, menunggu, menimbang. Arjuna, sang pemanah ulung, dalam sekejap kehilangan keberanian. Ia meragukan peperangan, menimbang takdir, dan bertanya pada Kresna, kusir sekaligus gurunya: apakah jalan perang adalah jalan yang benar?

Retret—atau jeda—selalu hadir dalam narasi besar sejarah manusia. Dalam agama-agama, dalam filsafat, dalam perang dan politik. Ia adalah saat di mana seseorang menepi, berpaling dari kebisingan, untuk menemukan makna dari perjalanannya. Dalam Mahabharata, momen jeda Arjuna itu bukanlah tanda kelemahan, tetapi langkah menuju pemahaman lebih dalam tentang hidup dan kewajibannya.

Dalam epik Bugis kuno I La Galigo, yang konon lebih panjang dari Mahabharata, kita menemukan motif yang sama. Sawerigading, sang pelaut yang menjelajah dunia, berkali-kali dihadapkan pada batas-batas perjalanan. Setiap ekspedisi bukan sekadar penaklukan, melainkan pencarian. Ia mencari sesuatu yang tak selalu bisa disentuh, seringkali hanya bisa dirasakan—identitas, keabadian, dan makna dari petualangannya sendiri.

Sejarah juga mencatat bahwa Nabi Muhammad SAW menempuh perjalanan spiritualnya dalam bentuk retret. Sebelum menerima wahyu pertama, beliau kerap berkhalwat di Gua Hira, menepi dari hiruk-pikuk Mekah, dari kebisingan dunia, untuk menyendiri dan mencari kebenaran. Dalam kesunyian gua itu, beliau merenung, bertafakur, hingga akhirnya Jibril datang membawa wahyu pertama: Iqra’—bacalah! Itu bukan sekadar momen pewahyuan, tetapi juga momentum perubahan besar dalam sejarah manusia. Kelana spiritual Sang Rasul itu tercatat sepanjang masa. Ia  melahirkan sebuah revolusi pemikiran dan peradaban yang luar biasa.

Dalam politik dan pemerintahan, retret mengambil bentuk yang berbeda. Ia menjadi ritual, pertemuan rahasia atau terbuka, di mana para pemimpin berkumpul untuk mengkaji ulang arah mereka. Tentu retret para kepala daerah itu tak sunyi, sebab ada atusan kepala daerah yang berkumpul.

Memang sebenarnya, sejarah politik dunia dipenuhi dengan peristiwa semacam ini: Kaisar Romawi yang mundur sejenak ke villa-villa di Capri, raja-raja Jawa yang bertapa di lereng gunung, atau bahkan Napoleon yang menulis strategi di Pulau Elba sebelum kembali merebut kekuasaannya. 

Sekarang, para kepala daerah diundang Presiden Prabowo Subianto untuk berkumpul di Magelang, di Akademi Militer yang pernah mengasuhnya, dalam pertemuan yang konon dimaksudkan untuk menyelaraskan langkah. Namun, dalam dunia politik yang tak pernah sunyi dari gelombang, ada perintah lain datang dari pemimpin partai, melarang kehadiran para kepala daerah tertentu. Maka retret yang semula menjadi tempat jeda berubah menjadi arena ketegangan. Jeda pun bisa menjadi perang.

Pertanyaannya: apa sebenarnya makna dari sebuah retret? Apakah ia sekadar kesempatan untuk merenung, ataukah ia justru bagian dari sebuah strategi? Dalam Mahabharata, jeda Arjuna di medan perang bukanlah sekadar perhentian. Itu adalah bagian dari pergerakan yang lebih besar—sebuah langkah mundur untuk kemudian melangkah lebih maju. Begitu pula dalam politik, tak ada jeda yang benar-benar kosong. Setiap perhentian menyimpan gema keputusan.

Sejarah menunjukkan bahwa penguasa yang memahami jeda lebih baik dari yang lain cenderung lebih lama bertahan. Ada masa di mana Soekarno menyepi, bukan karena kehilangan, tetapi untuk menyiapkan langkah berikutnya. Ada saat di mana Gus Dur memilih diam, bukan karena menyerah, tetapi untuk melihat lebih jauh ke depan. Politik, bagaimanapun, bukan hanya tentang suara yang paling keras, tetapi juga tentang keheningan yang paling dalam.

Sawerigading pun, setelah menaklukkan lautan, tidak langsung melanjutkan penaklukannya. Ia berhenti, berkontemplasi, menimbang arah sebelum kembali berlayar. Seperti seorang kepala daerah yang diundang ke retret, ia pun dihadapkan pada pertanyaan: apakah perjalanan ini untuk dirinya sendiri, ataukah ada kekuatan yang lebih besar yang mengatur langkahnya?

Jika kita melihat lebih dalam, kita akan menemukan bahwa setiap pemimpin pada dasarnya adalah seorang pengelana, seorang Arjuna di tengah Kurukshetra, seorang Sawerigading di lautan luas, dan seorang Muhammad di Gua Hira.  Mereka menghadapi dilema antara kesetiaan, kepentingan, dan takdir yang mereka ciptakan sendiri. Retret, dalam bentuk apa pun, hanyalah titik dalam perjalanan itu—bisa menjadi awal, bisa menjadi akhir, atau bisa juga menjadi persimpangan yang menentukan.

Seorang politisi yang baik harus mengerti kapan harus bergerak, kapan harus berhenti. Dalam perintah Megawati agar para kepala daerah PDIP tidak menghadiri retret, ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar instruksi politik. Ada kehendak untuk mengontrol alur, memastikan bahwa jeda tidak digunakan oleh pihak lain untuk mengubah arah. Ini bukan sekadar tentang kehadiran atau ketidakhadiran di Magelang, tetapi tentang siapa yang memiliki kendali atas jeda itu.

Begitu pula dalam Mahabharata, Arjuna bisa saja memilih untuk tidak berperang. Ia bisa turun dari keretanya, menyerahkan busurnya, dan memilih jalan damai. Tetapi ia tidak melakukannya, karena ia paham bahwa setiap tindakan, bahkan diam sekalipun, adalah bagian dari skema yang lebih besar. Dalam politik, keputusan untuk tidak hadir dalam sebuah retret bisa memiliki makna yang sama besarnya dengan keputusan untuk hadir.

Dalam I La Galigo, Sawerigading tidak selalu menang dalam setiap ekspedisi. Ia mengalami kehilangan, ia menyesali keputusan, ia mempertanyakan takdir. Namun yang membedakannya dari yang lain adalah bahwa ia selalu tahu kapan harus berlayar dan kapan harus beristirahat. Seorang pemimpin yang baik tidak hanya tahu kapan harus bicara, tetapi juga kapan harus diam. Tidak hanya tahu kapan harus melangkah, tetapi juga kapan harus berhenti.

Maka kita kembali ke pertanyaan awal: apa sebenarnya retret? Apakah ia sekadar pertemuan strategis? Apakah ia sebuah ritual? Atau mungkinkah ia adalah cermin bagi setiap pemimpin yang hadir—atau yang memilih untuk tidak hadir?

Dalam Mahabharata, Arjuna tidak menemukan jawabannya sendiri. Ia mendengar dari Kresna, ia merenung, ia memahami. Dalam I La Galigo, Sawerigading tidak menaklukkan lautan sendirian. Ia memiliki peramal, penasehat, dan takdir yang memandu. Dalam Gua Hira, Nabi Muhammad tidak menemukan wahyu tanpa perjalanan panjang pencarian. Seorang pemimpin, dalam bentuk apa pun, tidak pernah berdiri sendiri. Ia terhubung dengan mereka yang dipimpinnya, dengan sejarah yang mengiringinya, dan dengan bayang-bayang masa depan yang ia ciptakan. Itu intinya. 

Retret, dalam politik maupun dalam kehidupan, selalu mengandung dua kemungkinan: ia bisa menjadi momen untuk menemukan makna, atau ia bisa menjadi kesempatan bagi pihak lain untuk mengubah arah. Dan dalam dunia yang terus bergerak ini, pilihan antara bergerak atau diam sering kali lebih menentukan daripada yang tampak di permukaan.

Maka, seperti Arjuna di medan Kurukshetra, seperti Sawerigading di lautan luas, dan seperti Nabi Muhammad di Gua Hira, kita semua pada akhirnya harus bertanya: apa arti dari jeda yang kita ambil? Dan apakah setelahnya, kita siap untuk kembali melangkah? ***

*Penulis adalah Tenaga Ahli Angggota DPR RI, alumni Asia Journalism Fellowship (AJF) Singapura, 2019