Minggu, 5 April 2026
Opini  

Anak Miskin, di Antara Cita-cita Anwar Hafid dan Sulawesi Tengah Nambaso

Gubernur Sulawesi Tengah

Oleh: Jafar G Bua*

Pada 1940-an, di sebuah desa kecil di India, seorang anak laki-laki bernama Abdul Kalam – nama panjangnya, Dr. Avul Pakir Jainulabdeen “A. P. J.” Abdul Kalam – harus berjalan berkilo-kilometer hanya untuk mendapatkan pendidikan. Ayahnya seorang buruh pabrik dan nelayan. Uang sekolah adalah kemewahan yang sulit dijangkaunya. Tapi Kalam terus belajar, hingga akhirnya ia menjadi ilmuwan nuklir terkemuka dan Presiden ke-11 India. 

Kisah seperti ini tidak hanya terjadi di India, tetapi di seluruh Asia. Pendidikan bagi anak-anak miskin selalu menjadi tantangan, tetapi juga menjadi peluang untuk mengubah nasib mereka.

Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid dan Wakil Gubernur dr. Reny Lamadjido tampaknya memahami bahwa pendidikan adalah jalan keluar dari kemiskinan. Dalam rapat koordinasi bersama seluruh rektor perguruan tinggi di Sulawesi Tengah, mereka menegaskan komitmen untuk memastikan tidak ada lagi anak miskin yang putus sekolah karena alasan ekonomi. Program unggulan “Berani Cerdas” dan skema beasiswa Sulteng Nambaso menjadi alat utama dalam mewujudkan cita-cita tersebut.

Di banyak negara Asia, kisah perjuangan anak-anak miskin untuk mendapatkan pendidikan telah menjadi legenda. Di Korea Selatan pasca perang, pendidikan menjadi alat utama dalam membangun kembali bangsa. Lee Kuan Yew di Singapura percaya bahwa satu-satunya sumber daya terbesar yang dimiliki negaranya adalah otak rakyatnya. “Jika kita tidak bisa mengubah sumber daya alam kita, kita harus mengubah manusia kita,” katanya. Maka, pendidikan pun menjadi senjata utama Singapura menuju negara maju.

Seperti yang dikatakan oleh Mahatma Gandhi, “Pendidikan adalah senjata paling kuat yang dapat digunakan untuk mengubah dunia.” Dan inilah yang kini coba dilakukan oleh Pemerintah Sulawesi Tengah di bawah Gubernur Anwar Hafid dan Wakil Gubernur Reny Lamadjido dengan memastikan semua anak, termasuk yang berasal dari keluarga kurang mampu, mendapatkan kesempatan untuk kuliah atau setidaknya memiliki sertifikasi keahlian yang siap pakai di dunia kerja.

Pendidikan bukan hanya soal ekonomi. Semua agama besar di dunia menekankan pentingnya pendidikan sebagai alat pencerahan dan pembebasan. Islam, misalnya, mewajibkan setiap umatnya untuk menuntut ilmu. Hadis Nabi Muhammad SAW berbunyi, “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim, laki-laki maupun perempuan.” Dalam agama Kristen, Santo Agustinus menulis, “Pendidikan adalah perjalanan menuju kebijaksanaan, dan kebijaksanaan adalah bentuk tertinggi dari kebajikan.”

Di Hinduisme, Bhagavad Gita mengajarkan bahwa kebodohan adalah akar dari penderitaan, dan pendidikan adalah jalan menuju pembebasan diri. Di Buddhisme, Sang Buddha berkata, “Seperti lilin yang dapat menyalakan seribu lilin lainnya tanpa mengurangi cahayanya, pendidikan dapat menerangi banyak kehidupan tanpa mengurangi nilainya.”

Dengan dasar ajaran ini, program pendidikan di Sulawesi Tengah tidak hanya relevan secara sosial dan ekonomi, tetapi juga memiliki dasar moral dan spiritual yang kuat. Pendidikan bukan hanya hak, tetapi juga kewajiban kolektif.

Dalam praktiknya, Anwar Hafid ingin skema beasiswa ini dapat menjangkau sebanyak mungkin mahasiswa tanpa birokrasi yang rumit. Ia tidak ingin ada hambatan administratif yang menyulitkan anak-anak untuk mendapatkan akses pendidikan. “Saya ingin beasiswa ini bisa menjangkau semua yang membutuhkan. Saya tidak mau ada kriteria yang menyulitkan. Yang penting ada kemauan kuliah, kita bantu,” ujarnya.

Dalam sejarahnya, banyak negara di Asia yang berhasil menghapus hambatan pendidikan bagi rakyat miskinnya. Di Jepang pada awal abad ke-20, pemerintah memberikan subsidi pendidikan besar-besaran agar seluruh anak bisa bersekolah, tanpa memandang latar belakang ekonomi. Hasilnya, Jepang menjadi salah satu negara dengan tingkat literasi tertinggi di dunia.

Di Tiongkok, Konfusius berabad-abad lalu telah mengajarkan bahwa “Jika kamu merencanakan satu tahun ke depan, tanamlah padi. Jika kamu merencanakan sepuluh tahun ke depan, tanamlah pohon. Tetapi jika kamu merencanakan seratus tahun ke depan, didiklah manusia.” Dan itulah yang kini coba dilakukan oleh Sulawesi Tengah dengan kebijakan pendidikannya.

Selain memberikan beasiswa, pemerintah daerah juga memahami bahwa pendidikan yang baik memerlukan dukungan infrastruktur. Dalam rapat yang sama, Gubernur Anwar Hafid juga menyinggung pembangunan rumah sakit modern dengan layanan kesehatan gratis bagi masyarakat hanya dengan menunjukkan KTP Sulawesi Tengah. Ini bukan kebijakan yang terpisah dari pendidikan. Seorang anak tidak bisa belajar dengan baik jika ia dalam kondisi sakit. Begitu pula dengan konektivitas listrik dan internet, yang menjadi bagian dari pembangunan daerah yang lebih inklusif.

Pendidikan adalah ekosistem, bukan sekadar soal kelas dan buku pelajaran.

Jika kita menengok kembali ke tahun 1940-an, kita akan melihat bagaimana pendidikan telah mengubah wajah Asia. Dari desa-desa miskin di India hingga lorong-lorong sempit di Seoul, anak-anak yang dulu tak punya harapan kini menjadi pemimpin dan inovator.

Sulawesi Tengah kini sedang berada di titik yang sama. Langkah yang diambil Anwar Hafid dan Reny Lamadjido bukan sekadar janji politik, tetapi sebuah investasi jangka panjang. Pendidikan adalah gerbang menuju masa depan yang lebih cerah. Seperti yang dikatakan Nelson Mandela, “Pendidikan adalah senjata paling ampuh yang bisa kita gunakan untuk mengubah dunia.” Dan dunia yang sedang diubah ini, dimulai dari kampus-kampus dan sekolah-sekolah di Sulawesi Tengah. ***

*Penulis adalah Tenaga Ahli Anggota DPR RI, alumni Asia Journalism Program (AJF) Singapura, 2019