Jakarta, PaluEkspres.com – Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI), Prof. Taruna Ikrar, menyatakan dukungan penuh terhadap pelaksanaan uji klinis fase 3 vaksin Tuberkulosis (TBC) M72 di Indonesia. Vaksin ini dikembangkan dengan dukungan dana dari Gates Foundation, organisasi filantropi milik Bill Gates, pendiri Microsoft.
“Sudah dilakukan uji klinik di berbagai negara, dan Indonesia ingin ikut berkontribusi. Oleh karena itu, BPOM telah memberikan izin uji klinik berdasarkan kajian ilmiah dan standar saintifik yang ketat,” jelas Taruna Ikrar dalam konferensi pers di Jakarta Pusat.
Persetujuan pelaksanaan uji klinik tercatat dalam dokumen resmi dengan Nomor RG.01.06.32.321.4.2024.3959. Turut hadir dalam kesempatan tersebut, para pejabat tinggi BPOM yang ikut mendukung pelaksanaan program ini.
Taruna menegaskan bahwa pelaksanaan uji klinis ini merupakan bagian dari pendekatan kolaborasi ABG (Akademisi, Bisnis, dan Pemerintah). Pendekatan ini menggabungkan peran para peneliti dari universitas (Akademik), dukungan teknologi dan pendanaan dari Gates Foundation (Bisnis), serta regulasi dari BPOM (Government).
“Dengan semangat kolaborasi ABG, pengembangan vaksin TBC M72 diharapkan memberikan dampak besar, tak hanya bagi Indonesia, tapi juga untuk dunia,” tambahnya.
Sebelumnya, pada kunjungan ke Istana Merdeka tanggal 7 Mei 2025, Bill Gates bertemu langsung dengan Presiden Prabowo Subianto. Dalam pertemuan itu, Gates mengumumkan hibah senilai Rp 2,6 triliun untuk mendukung sektor kesehatan, teknologi, pertanian, dan sosial di Indonesia. Salah satu fokus utamanya adalah pengembangan vaksin TBC.
Presiden Prabowo menyambut baik inisiatif ini dan menyatakan bahwa Indonesia akan menjadi lokasi uji klinik vaksin TBC berbasis teknologi terbaru.
“Beliau sedang mengembangkan vaksin TBC untuk dunia, dan Indonesia menjadi salah satu negara uji klinik,” kata Presiden.
Pelaksanaan uji klinis vaksin TBC M72 dimulai pada September 2024, dengan target total 20.000 relawan secara global. Dari jumlah tersebut, sekitar 2.000 relawan berasal dari Indonesia. Bahkan, menurut laporan terbaru, hingga saat ini sudah 2.095 warga Indonesia menerima suntikan vaksin, yang dilakukan sejak November 2024.
Kegiatan uji klinik ini melibatkan peneliti dari berbagai universitas terkemuka dalam negeri. BPOM memastikan bahwa seluruh tahapan dilakukan secara transparan dan berdasarkan pengawasan tim independen yang terdiri dari profesor dan ahli farmakologi.
Indonesia saat ini menempati peringkat kedua tertinggi kasus TBC di dunia, dengan total mencapai 1,09 juta kasus. Oleh karena itu, keterlibatan Indonesia dalam uji klinis ini sangat penting dan strategis.
“Partisipasi ini tidak hanya memberikan kontribusi pada riset global, tetapi juga mempercepat akses terhadap vaksin yang aman dan efektif bagi masyarakat Indonesia,” tutup Taruna. ***






