Kamis, 21 Mei 2026

Prabowo Putuskan Ekspor Sawit hingga Batu Bara Harus via BUMN: Indonesia Tidak Mau Terus Jadi Korban!

Jakarta, PaluEkspres.com — Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan pemerintah telah memperkuat tata kelola ekspor sumber daya alam (SDA) nasional melalui penerbitan Peraturan Pemerintah (PP) tentang Tata Kelola Ekspor Komoditas Sumber Daya Alam.

Aturan tersebut diterbitkan untuk menutup celah praktik kecurangan dalam ekspor SDA yang dinilai merugikan negara, sekaligus menjalankan amanat konstitusi bahwa kekayaan alam Indonesia harus dikuasai negara dan dipergunakan sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat.

Melalui beleid tersebut, ekspor sejumlah komoditas strategis seperti batu bara, minyak kelapa sawit, dan paduan besi diwajibkan dilakukan melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang ditunjuk pemerintah sebagai eksportir tunggal. Selanjutnya, hasil penjualan ekspor akan diteruskan oleh BUMN kepada pelaku usaha terkait.

Prabowo mengatakan kebijakan tersebut dibuat untuk mencegah praktik kecurangan ekspor seperti under invoicing, transfer pricing, dan pelarian devisa hasil ekspor.

Dengan demikian, pemerintah diharapkan dapat mengoptimalkan penerimaan negara dari pengelolaan SDA untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Kita tidak mau selalu menjadi korban dan selalu harus terima perlakuan tidak adil terhadap bangsa kita. Cukup sudah saya katakan di sini. Indonesia sekarang berdiri di atas kaki kita sendiri,” ujar Prabowo di Rapat Paripurna DPR RI ke-19 Terkait KEM dan PPKF RAPBN 2027, Rabu (20/5).

Ia menambahkan bahwa pemerintah tidak dapat lagi mentoleransi praktik-praktik kecurangan ekspor yang dinilai telah merugikan Indonesia selama bertahun-tahun.

Prabowo mengatakan, antara 2004 hingga 2025, Indonesia menikmati keuntungan dagang sebesar USD 436 miliar, yang didapat dari neraca ekspor-impor secara kumulatif. Namun, di saat yang sama, Indonesia juga disebutnya mengalami arus keluar uang (net outflow) sebesar USD 343 miliar secara kumulatif.

Dengan demikian, Indonesia tidak bisa menikmati hasil ekspor SDA secata maksimal. Penyebab utamanya, lanjut dia, adalah under invoicing, yakni praktik di mana eksportir sengaja mencantumkan volume atau harga ekspor lebih rendah daripada nilai transaksi sebenarnya.

Bahkan, menurut dia, praktik kecurangan ini sudah berlangsung selama 34 tahun lamanya.

“Under invoicing adalah sebenarnya fraud atau penipuan. Yang mereka jual, yang dijual oleh pengusaha-pengusaha tidak dilaporkan yang sebenarnya. Banyak di antara mereka membuat perusahaan di luar negeri, dia jual dari perusahaan dia di dalam negeri ke perusahaan dia di luar negeri, yang harganya jauh di bawah harga yang sebenarnya,” jelasnya.

Prabowo melanjutkan bahwa seluruh sumber daya alam Indonesia adalah hak dan milik bangsa Indonesia. Oleh karenanya, melalui kebijakan tersebut, pemerintah menuntut adanya transparansi secara rinci mengenai jumlah dan nilai SDA Indonesia yang diekspor.

“Kita tidak mau dibohongi lagi, kita mau tahu persis berapa kekayaan kita yang dijual,” lanjut dia.

Prabowo juga menegaskan bahwa langkah pemerintah bukanlah kebijakan yang aneh ataupun luar biasa. Ia menyebut banyak negara telah lebih dahulu menerapkan pola serupa untuk menjaga kedaulatan pengelolaan sumber daya alam mereka.

Menurut Prabowo, negara-negara tersebut berhasil mengelola kekayaan alam untuk kepentingan rakyatnya, termasuk menghadirkan pendidikan, layanan kesehatan, infrastruktur modern, hingga sovereign wealth fund kelas dunia.

“Kita harus lihat dan belajar dari Saudi Arabia, Qatar, Russia, Aljazair, Kuwait, Maroko, Ghana bahkan dari tetangga kita Malaysia dan Vietnam,” ujar Prabowo.

Prabowo kemudian menegaskan kembali bahwa kebijakan tersebut bertujuan memastikan kontribusi pelaku usaha sektor sumber daya alam dapat dioptimalkan demi sebesar-besar kemakmuran rakyat Indonesia.

“Sekali lagi, kebijakan ini bertujuan untuk memastikan kontribusi pelaku usaha sektor sumber daya alam dapat dioptimalkan guna sebesar-besar kemakmuran rakyat,” imbuhnya.

Analisis Statistik Lanjutan Mekanisme Eliminasi Simbol Mahjong Ways 2 Dalam Ekosistem Reel Berbasis RNG
Pembacaan Data Temporal dan Pola Sistem Interaktif Kini Dianggap Lebih Presisi dalam Memetakan Aktivitas Digital
Studi Perilaku Digital Terkini Mengungkap Pergeseran Strategi Pengguna dalam Ekosistem Interaktif Modern
Kajian Teoretis Evolusi Grid Mahjong Ways 2 Dalam Pembentukan Kombinasi Melalui Mekanisme Cascading Adaptif
Pendekatan Analitik Terhadap Dinamika Komposisi Reel Mahjong Ways 3 Pada Sistem Distribusi Simbol Adaptif
Tingkat Interaksi Konten Online Terus Meningkat Seiring Kehadiran Starlight Princess
Berbagai Komunitas Digital Mulai Aktif Membahas Tren Mahjong Ways di Era Modern
Aktivitas Online di Larut Malam Semakin Dikaitkan Dengan Meningkatnya Konten Bertema Mahjong
Fenomena Scroll Online yang Kerap Menampilkan Konten Mahjong Ways ke Permukaan
Perubahan Algoritma Platform Digital Membuat Konten Mahjong Ways Semakin Sering Muncul
Pengaruh Strategis Industri Perangkat Lunak Hiburan Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Makro Dan Penyerapan Tenaga Kerja di Sektor Digital
Investasi Berkelanjutan Pada Infrastruktur Jaringan Menjadi Kunci Utama Dalam Menjaga Stabilitas Layanan Dan Kepercayaan Konsumen
Dinamika Algoritma Real Time Diklaim Meningkatkan Kompleksitas Pengalaman Bermain Dibanding Sistem Generasi Sebelumnya
Audit Rutin Perangkat Lunak Interaktif Modern Kini Dianggap Krusial Untuk Menjaga Transparansi Dan Kejelasan Sistem Secara Menyeluruh
Sistem Prediktif Berbasis Digital Membantu Pemain Memahami Peluang Lewat Data Real Time yang Terus Berkembang
Evolusi Infrastruktur Interaktif Berbasis Data Statistik Membuka Pengalaman Baru Bagi Para Pengguna Digital Modern
Transformasi Fitur Interaktif Pragmatic Play Dalam Membentuk Pengalaman Game Digital yang Lebih Modern
Ekosistem Platform Digital Mulai Bergeser Setelah Habanero Tampil Lebih Konsisten Dan Stabil
Kajian Mendalam Algoritma Statistik Membantu Mengungkap Struktur yang Lebih Dinamis Pada Ekosistem Digital Modern
Analisis Sistem Adaptif Mahjong Ways Dalam Menyikapi Evolusi Permainan Mesin Kasino di Era Digital