”Memang metodenya seperti ISIS. Tapi, jangan cepat-cepat disimpulkan itu ISIS,” tutur Ali Fauzi.
Soal banyaknya bendera hitam-hitam dengan lafaz tauhid, Ali mengatakan bahwa sejak dulu bendera semacam itu sudah ada. ”Sejak saya masih di sana lebih dari sepuluh tahun lalu,” ucapnya.
Soal kabar mengenai kelompok Maute, Ali mengatakan, soal nama itu bisa apa saja. ”Tapi, kelompok ini mendapat anggota dari mana? Ya dari MILF dan Abu Sayyaf. Sebab, hanya itu yang punya kemampuan kombatan bagus,” imbuhnya.
Itulah yang kemudian menjelaskan mengapa peristiwa tersebut terjadi di Marawi, sebuah kota yang sebenarnya merupakan basis MILF.
Jawa Pos pada 2009 pernah singgah ke Marawi dan tinggal di sana dua hari. Ketika itu Marawi adalah kota terakhir yang menjadi checkpoint sebelum masuk ke Kamp Bushra, kamp pelatihan militer terbesar MILF yang berada di tengah hutan di puncak gunung.
Dibutuhkan waktu lebih dari sepuluh jam untuk menembus hutan dari sebuah jalan kecil di pinggiran Kota Marawi.
Karakter orang Marawi sendiri sebenarnya halus-halus. Juga moderat. Ketika itu hampir tidak pernah terjadi kekerasan bersenjata di kota tersebut. Di sana juga banyak semacam pondok pesantren.
Meski banyak warganya yang simpatisan MILF, kota itu tak pernah menjadi ajang pertempuran. Intinya, situasi di sana sesejuk cuacanya yang dingin karena berada di lereng pegunungan.
Ali Fauzi menganalisis, justru karena situasi warganya yang seperti itu, Marawi menjadi pilihan strategis untuk diserbu.
”Sebenarnya ada daerah yang lebih panas lagi. Seperti di Cotabato City ataupun di Zamboanga. Namun, militer juga ketat di sana,” paparnya.
Apalagi, kata Ali, ada situasi yang memicu militansi kelompok tersebut. ”Yang saya dengar, ada konflik antara pemerintah dan tokoh di sana,” ungkapnya.
Apalagi, banyak warga Mindanao yang kecewa dengan Presiden Rodrigo Duterte. Mereka berharap bisa dibangun seperti Davao, tapi hingga kini belum terlaksana. ”Jadi, sifatnya akumulatif dan dari banyak faktor,” katanya.
Kecewa terhadap pemerintah, mempunyai kemampuan kombatan dan persenjataan yang cukup, penyerbuan seperti itu hanya menunggu waktu.