Karena itu, merasa berutang budi karena sudah diwarisi darah Bonek oleh sang ayah, Bagus lantas meneruskannya kepada putra semata wayangnya, Achmad Musaffa Al Baihaqi. Tak tanggung-tanggung, cara pria 32 tahun itu meneruskan tongkat estafet Bonek pun dilakukan secara total. Haqi yang kini masih berusia 4 tahun sudah hafal betul chant dan anthem Persebaya.
Haqi juga sudah keluar masuk stadion, arena tim berkostum hijau itu berlaga. Entah di Surabaya maupun luar kota. ’’Pada Piala Dirgantara lalu, saya ajak ke Sleman nonton Persebaya,’’ bebernya.
Bagus mengatakan, anaknya harus tumbuh menjadi suporter Persebaya yang lebih baik. Tumbuh lewat kecintaan yang tulus terhadap klub kebanggaan arek Suroboyo itu. ’’Seperti saya yang sejak lahir diperkenalkan keluarga terhadap Persebaya, Haqi juga harus seperti itu, dan terus hingga ke anak cucu nanti,’’ ujarnya.
Widodo, Bonek asal Gresik, melakukan hal serupa. Dia juga sering mengajak putrinya yang bernama Ayu Greenisty mbonek ke mana pun. ’’Justru Ayu jadi perempuan yang tangguh, jadi kenal banyak orang dan mengerti bagaimana memperlakukan saudaranya (Bonek),’’ jelasnya.
Pria yang akrab disapa Terong itu mengerti, mengajak anaknya away memang mengandung risiko. Masih adanya perseteruan antarsuporter membuat jiwa sang anak kadang kala terancam. Namun, dengan tenang Terong menegaskan bahwa Bonek sekarang lebih bisa bersikap positif. Lebih bisa melindungi perempuan dan anak-anak di jalanan. ’’Lebih ngayomi, itu salah satu hal positif yang ditiru oleh Ayu,’’ paparnya.
Bukan hal mudah meneruskan tradisi tersebut. Untung, banyak faktor pendukung di stadion, terutama saat Persebaya menjalani laga home. Lagu-lagu atau anthem, juga chant, makin jauh dari ujaran anarkistis dan rasis.
Itulah yang dirasakan Eko Wahyudi. Dia menyatakan tidak waswas lagi ada tawuran atau hal-hal negatif. ’’Jadi bisa benar-benar mengedukasi anak saya tentang sportivitas. Achmad (Firdaus Ardiansyah, anaknya) juga bisa belajar bagaimana cara mendukung kebanggaan secara kreatif dari Bonek,’’ katanya.






