oleh

RS Raja Tombolotutu Kekurangan Tenaga Dokter

SEDANG DIBANGUN – Gedung RSUD Raja Tombolotutu di Kecamatan Tinombo,
setiap hari dipadati pasien. Namun siapa sangka, RS tipe D ini masih
mengalami krisis dokter ahli.(F/Ahmad Udyn)

PARIMO, PE – Keberadaan Rumah Sakit Umum Daerah Raja Tombolotutu di Kecamatan Tinombo yang sudah menjadi rumah sakit rujukan setiap Puskesmas, hingga kini masih mengalami kekurangan dokter ahli. Akibatanya, penanganan pasien penyakit khusus terpaksa ditangani oleh dokter umum.

Direktur RSUD Raja Tombolotutu, dr Sudarmi Pakki kepada Palu Ekpsres mengaku, RS yang dipimpinnya merupakan satu – satunya RS yang dimiliki masyarakat di wilayah utara. Namun kata dia, RS ini tidak bisa memberikan pelayanan maksimal terhadap pasien yang berpenyakit khusus karena masih mengalami krisis dokter ahli. Ia mengakau, RS Raja Tombolotutu yang sudah berubah status itu diketahui hanya mengalami tiga dokter, yakni satu dokter ahli anak, satu dokter umum dan satu dokter gigi. Pada hal rumas sakit tersebut harus wajib memiliki enam dokter  dengan tipe yang disandangnya.

“RS Raja Tombolotutu ini adalah RS tipe D untuk itu harus memiliki enam dokter, tetapi yang ada saat ini hanya tiga orang dokter yang bertugas,”kata Sudarmi saat ditemui diruangannya, Senin  19 Oktober.

Dia menyebutkan, RS Raja Tombolotutu yang diketahui tidak memiliki dokter ahli di antaranya, dokter ahli kandungan, dokter ahli dalam dan dokter ahli bedah. Sejauh ini  kata dia, jika ada pasien memerlukan penanganan dokter ahli, oleh pihak RS masih ditangani oleh dokter umum. Namun jika sifatnya pasien tersebut harus memerlukan penanganan khusus terpaksa dirujuk ke Parigi atau Palu.

‘’Sampai saat ini pasien masih ditangani oleh dokter umum, meskipun ada pasien yang harus ditangani oleh dokter ahli. Jadi kami juga harus lihat sikon, apakah bisa ditangani oleh dokter umum atau tidak, ya kalau tidak kami rujuk pasien itu,”katanya yang mengaku tidak berpengaruh denngan pelayanan akibat ketiadaan dokter ahli Terkait kekurangan dokter ahli di RS Raja Tombolotutu, pihaknnya sudah beberapa kali melakukan permohonan permintaan tenaga dokter ke Menkes RI di pusat. Baik bermohon ke Unhas Makassar maupun di Unsrat Manado. Namun permohonan permintaan tenaga dokter ahli terkendala dengan fasilitas pendukung seperti laboratoriumm dan ruangan oprasi.

RS Raja Tombolotutu masih mengalami kekurangan fasilitas penunjang untuk dokter ahli, akibatnya tim pemantau dari universitas tersebut membatalkan tenaganya untuk bertugas di RS Raja Tombolotutu.
Masih menurut dia, meskipun tugas dari dokter ahli masih ditangani langsung oleh Direktur RS Raja Tombolotutu, namun pelayanan kesehatan tetap ditingkatkan. Dan tenaga medis lainnya masih bersinergi dengan tenaga lainnya dalam melakukan pelayanan kesehatan setpa harinya, seperti keberadaan perawat dan bidan dalam melakukan tugasnya.

Dia menyebutkan, jumlah Medis dan non medis yang bertugas  di RS Raja Tombolotutu,  hanya berjumlah kurang lebih 100 orang. Diantaranya 3 dokter, 64 perawat, 23 Bidan, 1 apoteker, 3 tenaga gizi, 1 tenaga Fisikotrafi,10 tenaga kesehatan masyarakat (Kesmas). “Kami tetap menunggu kedatangan dokter ahli di RS ini dan untuk sementara untuk diagnosa saya ambil alih. Dan semua medis RS Raja Tombolotutu, baik bidan maupun perawat yang bertugas setiap harinya tetap selalu memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat semaksimal mungkin,”tuturnya.

Dia berharap, kepada pemerintah daerah agar setiap RS yang ada di Parimo tidak terjadi krisis dokter, seharusnya dilakukan MoU terhadap dokter yang bersangkutan jika ingin bertugas di Parigi Moutong. Kata dia, suadah banyak yang terjadi beberapa dokter yang bertugas di Parimo cepat meningalakan tempat tugas setelah beberapa lama bertugas tanpa diikat dengan kontrak.

“Seharusnya jika ada dokter yang bertugas di Parimo, Pemda Parimo harus mengikatnya dengan regulasi seperti perjanjian kerja sama selama waktu yang ditentukan, sehingga betah bertugas di Parimo yang pada akhirnya tidak terjadi krisis dokter di daerah kita ini,”terangnya.(ady)

News Feed