Minggu, 5 April 2026
Opini  

Pendidikan yang Mencerahkan

Tasrief Siara

Ibu guru itu kembali mengatakan ke Pak Rhenald, “Saya sudah dua puluh tahun mengajar, setiap anak berbeda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah hasil karya yang hebat.” Ibu guru itu menambahkan, “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh ke depan.”

Pada bagian akhir tulisan encouragement yang artinya dorongan itu, Prof Rhenald bilang begini, “Saya teringat begitu mudahnya saya menyelesaikan study di Amerika dengan nilai yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doctor. Sementara di Indonesaia, saya harus menyelesaikan study jungkir balik ditambah ancaman drop out, dan para penguji yang siap menerkam”.

Cerita dari Prof. Rhenald itu mengingatkan saya pada model pendidikan di negara dunia ketiga. Oleh ilmuan Prof. Paulo Freire dari Brazil menyebut dengan model pendidikan yang menindas, bukan pendidikan yang membebaskan.

Menurut Freire, praktek pendidikan di di negara dunia ketiga umumnya memakai sistem pendidikan gaya bank, menjadikan anak sebagai objek. Anak hanya dianggap sebagai wadah untuk menampung sejumlah pengetahuan dari guru. Prinsip gaya pendidikan seperti mengasumsikan bahwa guru mengajar dan murid diajar. Guru tau segalanya dan murid tak tau apa-apa.

Itulah model pendidikan yang menindas dan tak membebaskan anak didik. Model ini umumnya masih dipraktekan di negara berkembang, termasuk di Indonesia. Dari pendidikan dasar sampai perguruan tinggi kita masih merasakan model pendidikan yang menindas itu.

Sistem pendidikan semacam inilah yang memasung kreativitas dan cenderung membelenggu hak-hak anak dalam proses pembelajaran. Dan kita umumnya belum menerepkan pendidikan yang membebaskan. Dalam istilah Prof. Rhenald Encoragement, karena guru-guru kita umumnya sangat miskin memberi pujian kepada anak didiknya.

Praktik pendidikan yang membebaskan menurut Paulo Freire, akan melahirkan kesadaran kritis transitif pada anak didik. Itu ditandai dengan kedalaman menafsirkan masalah, karena anak didik akan percaya diri dalam setiap berdiskusi, mereka terbiasa dalam hal perbedaan gagasan atau ide, dan mampu menerima dan menolak setiap gagasan itu.

Pembicaraan diruang kelas bersifat sangat dialogis. Pada tingkat ini orang mampu merefleksi dan melihat hubungan sebab akibat.

Model pendidikan yang membebaskan itu pada akhirnya akan membentuk watak dan karakter positif anak didik, karena mereka terbiasa dalam atmosfir akademik yang mencerahkan, bukan realitas dan relasi yang sarat kepalsuan. Mereka memegang prinsip, seorang terpelajar adalah mereka yang belajar berlaku jujur sejak dalam pikiran hingga dalam tindakan.

***