Temanku Lima Benua bukan seorang seniman biasa. Remaja yang masih duduk di bangku kelas X salah satu SMA Negeri di Klaten ini, merupakan seniman yang sudah diakui oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI. Kedatangannya pada ajang PBI 2017 di Palu, merupakan undangan dari Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi, Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud RI.
Sejak kecil ia telah diarahkan oleh ayahnya, yang seorang mantan seniman pantomim, untuk menjadi seorang seniman lukis. Oleh ayahnya, ia bahkan dibiasakan untuk selalu memegang alat tulis, agar dapat betul-betul mengenali alat-alat tersebut.
“Dari kecil sudah diajarkan, dan dibiasakan untuk memegang alat tulis oleh orang tua. Bahkan waktu tidur pun, juga dibiasakan pegang alat-alat tulis, semacam pulpen, pensil dan kapur, yang diikat di tangan,” tuturnya.
Meskipun mengaku belum pernah mengikuti kompetisi apapun, namun remaja aktif ini telah sering dipanggil untuk mengikuti pameran. Bahkan, saat masih kelas VII SMP, ia sudah pernah melakukan pameran tunggal, yang digelar di Taman Makam Pahlawan Klaten. Saat itu, ia menampilkan karya-karya tentang perjuangan Ir. Soekarno menuju kemerdekaan Indonesia.
Yang terbaru, ia menjadi Direktur Eksekutif pada gelaran Klaten Biennale 2017, sebuah pameran seni rupa kontemporer, yang digelar pada 11 September 2017 lalu.
Saat ini, ia juga tercatat sebagai Direktur Eksekutif Sanggar Lima Benua atau Ruang Publik Lima Benua, yang didirikan sebagai sebuah wadah bagi para seniman jalanan di Klaten.
“Saya biasa bergabung dengan seniman-seniman jalanan, soalnya mereka kan tidak punya wadah, terus kita membangun Ruang Publik Lima Benua,” ujarnya.
NAMA PEMBERIAN WS RENDRA






