Minggu, 5 April 2026

Bantah Ingin Jadi Menteri, Mengaku Lebih Seru Jadi Wartawan

PALU EKSPRES, PALU – Jurnalis Senior Najwa Shihab menekankan dirinya akan terus menggeluti profesi sebagai wartawan. Menurutnya, menjadi seorang wartawan lebih seru dibandingkan harus menjadi seorang pejabat negara. Hal ini sekaligus menjadi klarifikasi, terkait gosip dirinya akan diangkat sebagai Menteri dalam Kabinet Presiden Joko Widodo.

“Saya merasa, jauh lebih seru jadi wartawan dibanding jadi pejabat pemerintah. Saya merasa profesi wartawan, apalagi di Indonesia, merupakan profesi yang paling menggairahkan. Jadi mohon maaf kepada Ibu Khofifah (Mensos-red), kepada Pak Muhadjir (Mendikbud-red) dan Ibu Susi (Menteri KKP-red), boleh saja pekerjaannya seru, tapi saya berani jamin lebih seru jadi wartawan di Indonesia, dibandingkan jadi pejabat di negeri ini,” jelas Najwa, saat menerima pertanyaan dari moderator, pada acara Meet and Greet with Najwa Shihab, yang digelar di Auditorium Universitas Tadulako, Kamis 2 November 2017.

Meski telah berhenti dari Metro TV, Najwa mengaku saat ini ia terus melanjutkan pekerjaannya sebagai jurnalis, termasuk dalam membawakan acara “Mata Najwa” dengan memanfaatkan media sosial seperti youtube.

“Saya berhenti di Metro TV tetapi tidak berhenti menjadi jurnalis, setelah 17 tahun rasanya tidak mengapa kalau kita ingin mencoba rumah yang baru. Kini manfaatkan platform media sosial, untuk pekerjaan-pekerjaan jurnalistik,” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan, gosip seputar dirinya yang akan dijadikan sebagai menteri, berawal dari saat dirinya ditunjuk sebagai Duta Baca Indonesia oleh Perpustakaan Nasional, serta banyak membantu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Amanat tersebut, mengharuskan dirinya sering datang ke Istana Negara untuk berkoordinasi dengan beberapa pejabat negara, di antaranya dengan Menteri Sekretaris Negara, Pratikno dan Kepala Staf Kepresidenan, Teten Masduki terkait kampanye membaca nasional.

“Pembicaraannya, soal bagaimana melibatkan banyak sektor untuk kampanye membaca, apa yang bisa dilakukan, untuk sama-sama menggerakkan potensi bangsa, untuk mengajak anak-anak kembali cinta baca. Jadi ini yang membuat sering bolak balik ke Istana, tetapi dalam kapasitas sebagai duta baca. Mungkin saja, kedatangan ke sana ditafsirkan berbeda dan kemudian dihubung-hubungkan,” jelas Najwa.

PENGALAMAN PALING BERKESAN
Pada kesempatan tersebut, di hadapan ribuan mahasiswa yang memadati Auditorium Untad, Najwa juga membagikan pengalaman paling berkesannya, selama 17 tahun menjadi jurnalis. Pengalaman tersebut, yakni saat dirinya meliput tsunami dahsyat yang terjadi di Aceh pada Desember 2004 silam.

Ia menceritakan ketika itu, informasi awal yang minim dikabarkan hanya puluhan korban jiwa. Namun ternyata korban meninggal dunia dan luka-luka hampir mencapai 300 ribu orang.

“Informasi awal yang minim itu, membuat banyak orang terkaget-kaget melihat kondisi yang sesungguhnya,” tuturnya.

Ia juga mengungkapkan, saat itu tergambar secara jelas situasi keputusasaan di wajah orang-orang yang ditemuinya. Namun di sisi lain, ia juga melihat begitu banyak orang yang memiliki semangat luar biasa, dalam menghadapi cobaan yang begitu berat.

Di antara yang ditemuinya, adalah seorang bapak yang betul-betul ingin menemukan anaknya, entah masih hidup atau sudah menjadi jenazah, tidak menjadi hal yang penting lagi. Kemudian orang-orang lainnya, yang berusaha sedemikian keras untuk menyatukan kembali keluarganya yang tercerai berai.

“Di satu sisi ada penderitaan dan kenestapaan yang luar biasa besar, tapi di sisi yang lainnya, ada pula semangat hidup yang begitu tinggi. Perpaduan nuansa yang saya alami ketika berada di Aceh itu, betul-betul mengetuk saya bukan hanya sebagai wartawan, tetapi juga sebagai manusia, untuk bagaimana mensyukuri apapun nikmat yang diberikan oleh Allah SWT,” tandasnya.

(abr/Palu Ekspres)