PALU EKSPRES, PALU – Sedikit demi sedikit akhirnya menjadi bukit. Ungkapan ini cocok menggambarkan pemandangan tumpukan debu sisa hasil pembakaran batu bara di PLTU Kelurahan Mpanau Kecamatan Palu Utara. Bottom ash, itu sebutan untuk tumpukan debu itu.
Faktanya, tumpukan bottom ash ini memang sudah terlihat seperti sebuah deretan bukit. Menjulang kira-kira 8 sampai 10 meter. Dengan luas hampir kurang lebih 500 meter persegi.
Bottom ash ini dalam pantauan Palu Ekspres, Selasa (23/1) menumpuk di tepi sungai di Kelurahan Mpanau hampir mendekati muara.
Posisinya lebih tinggi ketimbang tanggul bantaran sungai. Dalam kondisi basah, tumpukan itu menjadi lumpur. Jika sedang hujan, bottom ash luruh bersama air lalu memapar sungai dan lautan sekitarnya.
Sebaliknya, jika cuaca sedang panas bercampur angin, debu itu beterbangan tak karuan. Hinggap menutupi rumah-rumah warga sekitar yang jumlahnya ratusan. Warga mengenal debu beterbangan ini dengan istilah fly ash. Fly ash ini menurut pengakuan warga, tak bisa dihalau jika angin berhembus kencang.
Relung sekecil apapun ia tembus. Mamapar tempat-tempat penampungan air dan mengotori makanan di meja makan.
M Arsad, tokoh masyarakat setempat menyebut, tumpukan bottom ash demikian adalah hasil pembakaran batu bara 11 tahun yang lalu. Jumlahnya kian menjadi ketika PLTU menambah lagi tiga unit pembangkit tahun 2015 silam.
Dalam sehari, kini PLTU menurutnya bisa memproduksi 70 ton bottom ash. Itu adalah sisa pembakaran batu bara dari lima boyler PLTU.
“Saat ini tonase bottom ash itu kami perkirakan sudah mencapai 100 ribu ton,”ujarnya.
Fly ash tidak hanya berasal dari proses pemuatan debu yang diangkut dari PLTU menuju tempat pembuangan. Fly ash sebut Arsad juga memapar warga ketika berlangsung pemuatan batu bara dari kapal tongkang menuju tempat penampungan.
Demikian halnya dengan bottom ash. Bila kering, debunya beterbangan. Bila hujan luruh bersama air menuju sungai dan laut. Arsad bahkan bersedia menunjukkan cara-cara curang yang dilakukan PLTU untuk membuang bottom ash ke lautan.
Dalam tumpukan bottom ash, PLTU membuat sebuah sumur persegi. Sumur itu menjadi tempat penampungan air jika terjadi hujan. Letak sumur sedikit lebih rendah agar air bisa tertampung.
Sumur itu ternyata adalah saluran pembuangan bottom ash menuju pantai. Sumur itu tembus kebawah menuju sebuah drainase khusus yang arahnya ke pantai.
Rombongan Wali Kota Palu, Hidayat berkesempatan langsung melihat laporan warga itu di lokasi, Selasa 23 Januari kemarin.
“Ini pun tidak punya izin khusus. Harusnya pembuangan ini memiliki izin lingkungan tersendiri,”ungkap Arsad di depan walikota.
Solusi untuk menghalau fly ash memang sudah pernah disepakati bersama pihak PLTU, Pemkot dan masyarakat sekitar. Yaitu dengan cara menutupinya menggunakan plastik membran.
Namun upaya ini tak bisa sepenuhnya mengatasi. Terbukti dilapangan, plastik membran tak mampu menutupi semua tumpukan bottom ash itu. Akibatnya, jika angin berhembus Kencang, debu itu tetap saja beterbangan.
Solusi yang pernah ditawarkan Pemkot dan PLTU pernah dicoba dengan memindahkan tumpukan itu ke daerah pegunungan di Kelurahan Kayumalue Kecamatan Tawaeli. Namun upaya ini juga gagal lantaran adanya penolakan warga Kayumalue.
(mdi/Palu Ekspres)






