PALU EKSPRES, PALU – Hari Raya Nyepi memiliki makna yang mendalam bagi umat Hindu, karena dalam momen ini, umat Hindu melaksanakan Catur Brata Penyepian yang terdiri dari : 1) Amati Geni yaitu tidak menyalakan api yang maknanya meredam hawa nafsu di dalam diri. 2) Amati Karya yaitu tidak melakukan aktivitas fisik dan menggantinya dengan aktivitas rohani. 3) Amati Lelungan yaitu tidak bepergian dan hanya memusatkan pikiran kepada Tuhan, Sang Maha Pencipta, dan 4) Amati Lelanguan, tidak mengadakan hiburan atau foya-foya, yang maknanya untuk menghentikan sejenak semua kesenangan duniawi.
Kegiatan Catur Brata Penyepian yang dirangkai dengan puasa selama 24 jam diharap menjadi sarana pembersihan diri dan introspeksi bagi umat Hindu sehingga momen Tahun Baru Saka dapat disambutnya dengan semangat yang baru, jiwa yang damai, tentram dan hubungan yang lebih harmonis baik kepada sesama manusia maupun dengan seisi alam jagat raya.
Hal tersebut disampaikan Gubernur Sulawesi Tengah dalam sambutannya yang dibacakan Sekertaris Daerah Provinsi Sulawesi Tengah, Drs H Hidayat Lamakarate, M.Si pada acara malam Dharma Shanti dalam rangka Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1940 / 2018 Masehi, bertempat di Pura Agung Wana Kartha Jagadnatha Sulawesi Tengah, Jumat (30/3).
“Dalam suasana sakral ini, tidak henti-hentinya saya memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, berkat bimbingan dan limpahan nikmat karunia-Nya sehingga kita dapat berkumpul di tempat ini dalam acara malam Dharma Santi, sehubungan dengan itu, atas nama pribadi dan Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Tengah, saya mengucapkan Selamat Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1940 / 2018 Masehi. Semoga mendapat berkah, damai, keselamatan, kesejahteraan dan ketentraman jiwa buat saudara-saudaraku, Umat Hindu Sulawesi Tengah yang merayakan Nyepi,” ujar Gubernur.
Menurut Gubernur, malam Dharma Santi merupakan tahapan akhir dari Nyepi yang berperan sebagai momen menguatkan keharmonisan, persaudaraan sejati dan silaturahmi dengan sesama, untuk itu, diharapkan agar saling membuka diri dan saling memaafkan satu sama lain.
“Dengan upaya rekonsiliasi dan pemulihan hubungan satu sama lain ini, saya harap muaranya akan [tps_header][/tps_header]melenyapkan sekat-sekat perbedaan dan ego sektoral di antara kita sehingga tema “Melalui Catur Brata Penyepian kita tingkatkan solidaritas sebagai perekat keberagaman dalam menjaga keutuhan NKRI”, pada gilirannya akan dimaknai secara substansif dan hasil-hasil Catur Brata bisa saudara-saudaraku implementasikan untuk merajut benang-benang solidaritas dalam merawat kemajemukan dan membangun bangsa dan Negara yang lebih kokoh, yang dilandasi Bhineka Tunggal Ika, serta dalam membangun Provinsi Sulawesi Tengah yang lebih maju, mandiri dan berdaya saing,” Jelas Gubernur.
Sementara itu, Ketua Panitia Hari Raya Nyepi, Prof. Dr. dr. I Wayan Sutapa, M.Eng dalam laporannya menjelaskan, perayaan Hari Raya Nyepi juga dimeriahkan dengan sejumlah rangkaian kegiatan yang sebelumnya telah dilaksanakan.
Kegiatan dimaksud antara lain; bhakti sosial, kunjungan ke rumah tokoh-tokoh Umat Hindu, kegiatan outbound, kegiatan lomba, Melasti ke Pantai Dupa, persembahan pancaruang, Ngarak Ogoh-ogoh, pelaksanaan Carur Brate, Penyepian, jalan santi dan puncak acara Dharma Shanti Nyepi yang dimeriahkan sejumlah atraksi panggung.
“Semua rangkaian kegiatan yang kami laksanakan dalam rangka menjalin kebersamaan dan keakraban sesama umat Hindu sehingga tercapailah kebahagiaan dan kedamaian, Jelas Prof. I Wayan Sutapa.
Hadir pada kesempatan itu, Kapolda Sulawesi Tengah, Dandim 1306 Donggala, Anggota DPRD Sulawesi Tengah, Pembinmas Hindu Kementrian Agama Sulteng, FKUB, Walubi, MUI, PGI, Ketua Dewan Adat, PHDI, WHDI, STAH Sulawesi Tengah, serta tamu undangan lainnya.
(Humas)






