Minggu, 5 April 2026
Palu  

Forum AICIS harus Lahirkan Solusi Sosial Keagamaan

PALU EKSPRES, PALU – Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin secara resmi membuka gelaran Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) ke-18, di salah satu hotel di Kota Palu, Selasa 18 September 2018.

Dalam pidato sambutannya, Lukman Hakim mengajak para sarjana dan peneliti di Indonesia serta partisipan dari negara-negara sahabat, untuk bersama-sama memupuk kepercayaan diri yang tinggi, mempromosikan dan menjadikan konsep Islam Wasathiyah sebagai harapan akan masa depan peradaban dunia.

“Mari kita bangun rasa percaya diri, untuk menunjukkan kemampuan kita untuk hidup damai dan berdampingan bersama, dalam merawat keragaman praktik keberagaaman di tengah keragaman suku, budaya dan agama,” kata Lukman Hakim.

Ia melanjutkan, praktik keagamaan yang dimiliki masyarakat Indonesia juga perlu dibuktikan telah mampu, pada hakikatnya dalam menciptakan masyarakat yang toleran, rukun sekaligus solutif dalam menghadapi berbagai tantangan global, khususnya tantangan terorisme dan radikalisme.

“Mari kita bersatu untuk itu. Di Provinsi yang memiliki semboyan ‘Nosarara Nosabatutu’ yang berasal dari bahasa suku Kaili yang bermakna bersama kita menjadi satu, mari kita menyatukan diri untuk menjaga, memelihara dan merawat peradaban kita bersama,” ujarnya.

Pada gelaran AICIS ke-18 yang dilaksanakan di IAIN Palu sebagai tuan rumah, Lukman Hakim juga menitipkan pesan agar para peserta serta narasumber dapat membincang solusi terhadap persoalan-persoalan sosial keagamaan, yang belakangan mengganggu kerukunan umat beragama.

Lukman menyebutkan kasus-kasus sosial keagamaan tersebut, di antaranya adalah kasus intoleransi umat beragama, dugaan penodaan agama, fenomena generasi media sosial yang seakan enggan beragama yang berbasis sumber bacaan primer, serta kasus radikalisme dan terorisme.

Selain itu, ia juga mengharapkan para peserta dan narasumber AICIS ke-18 dapat memikirkan secara bersama-sama kontribusi terhadap perdamaian dunia.

“Persoalan semacam ini membutuhkan respon dari kita yang tidak bersifat reaktif semata, melainkan harus berdasar pada pertimbangan-pertimbangan empirik hasil riset,” imbuhnya.

Ia menekankan, civitas akademika perguruan tinggi keagamaan tidak boleh menjadi menara gading, yang terlalu asyik masyuk dengan penelitian atau diskusi, yang hanya bermanfaat bagi pribadi atau kampus sendiri saja, tanpa berkontribusi bagi penyelesaian masalah-masalah sosial, politik, keagamaan dan kebangsaan yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia, dan bangsa-bangsa lain di dunia secara keseluruhan.

Secara khusus Lukman menyebutkan, AICIS merupakan konferensi internasional tahunan yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama, yang menjadi ajang para akademisi perguruan tinggi keagamaan Islam Indonesia, untuk menyampaikan hasil-hasil penelitian dan pengembangan studi-studi keislamannya, tidak hanya sebagai konsumsi dalam negeri tetapi juga dunia internasional.

“Targetnya dalam jangka dekat, seluruh hasil riset atau hasil studi penelitian para mahasiswa, dosen dan peneliti kita, itu tidak hanya dikonsumsi oleh kalangan dalam negeri semata, tetapi juga dapat dikonsumsi oleh para peneliti dunia,” jelasnya.

AICIS ke-18 yang diselenggarakan selama tiga hari di IAIN Palu mengambil tema “Islam in Globalizing World, Text, Knowledge and Practice”. Selain Menteri Agama RI, keynote speaker dalam serangkaian sidang pada forum AICIS ini adalah Dominik Müller Ph.D dari Max Planck Institute for Social Anthropology, Jerman, yang merupakan pakar antropologi agama yang penelitiannya berbasis di asia tenggara termasuk Indonesia.

Pembicara asing lainnya adalah Prof. Dr. Hans Christian Gunther dari Albert Ludwig Universitat, Freiburg, Jerman, Dr. Hew Wai Weng dari University Kebangsaan Malaysia, dan Dr. Ken Miichi dari Waseda University, Jepang.

(abr//palu ekspres)