PALU EKSPRES, PALU – Lebih dari dua pekan pasca kejadian bencana alam gempa bumi, tsunami dan likuefaksi melanda Kota Palu, Donggala dan Sigi, para peserta didik Madrasah di Kota Palu dipersilakan kembali masuk ke Madrasah masing-masing, pada Senin 15 Oktober 2018.
Salah satunya di Madrasah Tsanawiyah Negeri 2 (MTsN 2) Kota Palu. Di Madrasah yang letaknya dekat dari Perumnas Balaroa, salah satu lokasi yang mengalami likufaksi terparah, antusiasme para siswa untuk kembali bersua dengan lingkungan Madrasah cukup tinggi.
LUMPUR – Kepala MTsN 2 Kota Palu, Muh. Sarib menunjukkan lubang-lubang yang sempat mengeluarkan lumpur pada saat gempa bumi beberapa waktu lalu, di ruang olahraga MTsN 2 Kota Palu. Foto: IMAM/PE
Pengamatan Palu Ekspres, sekitar 200-an siswa dari kelas VII hingga IX datang di hari pertama untuk menemui para guru.
Kepala MTsN 2 Kota Palu, Muh. Sarib menjelaskan, pada hari pertama pihaknya tidak langsung memberikan materi pembelajaran kepada para siswa. Pihak sekolah terlebih dahulu melakukan pendataan kembali, untuk mengetahui kondisi terkini para siswa usai ditimpa bencana.
“Hari ini kita lakukan pendataan dulu. Untuk sementara tercatat ada empat orang siswa kami yang meninggal dunia, ada juga satu orang tua siswa yang meninggal dunia. Hampir semuanya saat ini dalam keadaan mengungsi, terutama mereka yang sebelumnya tinggal di sekitar Balaroa,” kata Sarib, di ruang kerjanya, Senin 15 Oktober 2018.
Pada hari pertama masuk tersebut, beberapa siswa terlihat tidak menggunakan pakaian seragam sekolah, karena hilang atau ikut bersama rumah yang mengalami kerusakan. Terkait hal ini, Sarib menyebutkan pihak Madrasah memberikan kelonggaran, dan akan mengupayakan pemenuhan kebutuhan pakaian seragam siswa tersebut nantinya, melalui penganggaran Madrasah.
“Insyaallah pihak Madrasah yang akan membantu. Tadi ada yang bertanya bagaimana jika sudah tidak punya seragam sekolah, kami jawab tidak apa-apa datang saja, jangan hal itu dijadikan alasan sehingga tidak masuk, tetap kita berikan kebijakan,” tuturnya.
Usai dilakukan pendataan, Sarib melanjutkan, MTsN 2 Kota Palu akan mulai memberikan materi-materi penguatan psikososial kepada para siswa, yang bertujuan untuk menghilangkan trauma usai mengalami musibah berupa bencana alam. Setelahnya, akan dilakukan pemberian materi pembelajaran secara bertahap.
Terkait hal ini, Sarib mengaku pihaknya masih menunggu bantuan tenda yang akan dijadikan ruang kelas darurat, dari Kementerian Agama (Kemenag) selaku instansi yang membawahi Madrasah. Hal ini menurutnya, karena saat ini bangunan-bangunan di MTsN 2 dalam keadaan retak, baik retak ringan hingga retak sedang dan berat.
Pantauan Palu Ekspres di MTsN 2 Kota Palu, hampir semua bangunan mengalami keretakan di bagian dinding, pondasi dan lantai, yakni di ruang-ruang kelas, bangunan kantor, dan perpustakaan. Bahkan, di dalam gedung olahraga timbul lumpur dari bawah tanah. Kondisi ini membuat para guru masih belum berani untuk melakukan proses interaksi dengan siswa di kelas.
“Untuk proses belajar kita sudah rapatkan di Kanwil Kemenag mereka menjanjikan kami tenda, cuma sampai sekarang tendanya belum ada. Kami berharap bisa segera ada, karena kalau lambat jelas anak-anak juga akan tertunda aktivitasnya. Yang jelas dengan kondisi begini teman-teman guru pada takut untuk masuk ke ruangan,” tandasnya.
(abr/Palu Ekspres)







