PALU EKSPRES, PARIGI– Persoalan harga gas LPG 3 kilogram di Kabupaten Parigi
Moutong hingga saat ini belum tertangani dengan baik. Pasalnya,
sejumlah pangkalan masih terus melakukan permainan harga ke tingkat
pengecer.
Pantuan media ini di lapangan, harga yang dijual ke tingkat pengecer
itu dikisaran Rp 25.000 ribu hingga Rp 30.000 ribu per tabung.
Padahal pemerintah telah menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET)
sebesar Rp 16.000 Ribu.
Gas LPG 3 kg yang disubsidi oleh pemerintah Kepada masyarakat
menengah ke bawah tersebut, tidak berjalan sesuai harapan masyarakat.
Bahkan pangkalan yang mendapat izin oleh pemerintah Kabupaten lebih
mengutamakan para pengecer.
Di Desa Tolai, Kecamatan Torue, salah satu pangkalan mendapat jatah
150 tabung LPG 3 kilogram. Kenyataanya di lapangan, pemilik pangkalan
hanya menjual 50 tabung kepada masyarakat. Dan, diketahui sisanya
dijual ke pengecer.
“Selalu terjadi kelangkaan di wilayah ini akibat pemilik pangkalan
dan pengecer diduga ada permainan. Tingkatan pengecer itu, membeli
dengan harga mahal, sehingga dijual lagi dengan harga yang lebih
tinggi,” keluh Andi, salah seorang warga Tolai yang ditemui, Kamis
(13/12/2018).
Andi menilai, pengawasan serta tindakan di lapangan dilakukan oleh
Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong, tidak memberikan efek jera.
Padahal kata dia, pemerintah sendiri yang menegaskan kepada
masyarakat, apabila kedapatan dan terbukti menjual dengan harga
tinggi, segera laporkan kepada pemerintah setempat.
Tetapi buktinya kata Andi, hingga saat ini para pemilik pangkalan
terus menjual di luar dari ketetapan harga yang dikeluarkan oleh
pemerintah.
Menurutnya, Pemerintah Kabupaten sering mengeluarkan surat imbauan,
yang ditanda tangani oleh wakil Bupati.
“Apabila ada pangkalan yang menjual gas LPG 3 kilo melebihi dari Het,
maka akan dicabut izin oprasi,” kata Andi menirukan isi surat imbauan
Pemkab itu.
Hingga saat ini, tidak ada buktinya. Malahan pemilik pangkalan
seenaknya menjual dengan harga tinggi.
“Kalau orang yang mampu biar berapa pun harga mereka beli, bagaimana
dengan kami ini, hidup serba kekurangan,
yang hanya mampu membeli Rp 20.000,” terangnya.
Olehnya, pemerintah diharapkan lebih tegas lagi menertibkan
pangkalan-pangkalan yang dianggap nakal. Sehingga warga yang
membutuhkan tidak kesulitan untuk memperoleh Gas LPG tersebut. Serta
memberikan solusi dengan kelangkaan gas LPG 3 kg di Parimo.
Sekaitan hal itu, Kepala Bagian Ekonomi Setda Parimo, Abd. Aziz
Tombolotutu, saat ditemui tidak berada di tempat.
(asw/palu ekspres)






