PALU EKSPRES, SIGI– Akibat belum jelasnya kapan dana stimulan yang dijanjikan pemerintah itu dicairkan, banyak warga korban bencana gempa memilih untuk memperbaiki rumahnya sendiri.
Pemerintah menjanjikan kepada masyarakat korban bencana di Sulteng berupa bantuan dana stimulan dengan rincian rumah rusak berat Rp50 juta, rumah rusak sedang Rp25 juta dan rumah rusak ringan Rp10 juta. “Namun bantuan yang dijanjikan sampai sekarang belum jelas kapan realisainya, olehnya kami memilih memperbaiki rumah dengan biaya sendiri,” kata Amir DM salah seorang warga Desa Mpanau, Kecamatan Sigi Biromaru, Ahad 24 Februari 2019.
Bahkan saat ini masyarakat ditambah pusing lagi dengan adanya informasi bahwa bantuan dana stimulan yang diberikan bukan berupa uang, melainkan dengan bahan bangunan. Meskipun ada yang setuju tapi tidak sedikit pula yang menolak terutama bagi warga yang sudah memperbaiki rumahnya sendiri.
“Kalau kami keberatan bantuan dana stimulan diberikan dalam bentuk bahan bangunan, karena kami sudah memperbaiki rumah kita sendiri, dari pada baku tunggu dana stimulan belum jelas kapan cair,” ungkapnya.
Sumiati, salah seorang warga Desa Mpanau lainnya menambahkan, bahwa sebaiknya dana stimulan diberikan berupa uang tunai, bukan dalam bentuk bahan bangunan.”Cukup atau tidak biarlah kami para warga yang mengaturnya,” pintanya.
Saat ini banyak warga yang sudah membangun di lokasi rumahnya semula walaupun hanya menggunakan sisa dari bangunan rumahnya yang rusak. Mereka mengaku sudah tidak nyaman lagi di tenda pengungsian karena sempit dan semua serba terbatas. (mg4/palu ekspres)






