Senin, 6 April 2026
Palu  

DKP Sulteng Buat Kolam Percontohan Budidaya Hemat Air

PALU EKSPRES, PALU – Nilai Tukar Petani (NTP) seluruh subsektor di Sulawesi tengah selama bulan Februari 2019 mengalami penurunan kecuali subsektor perikanan.

Berdasarkan laporan BPS Sulteng, Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Sulawesi Tengah selama Februari 2019 sebesar 93,72 persen, turun 1,47 persen dibandingkan NTP bulan lalu. Hal ini disebabkan penurunan NTP pada seluruh subsektor kecuali subsektor perikanan yang naik 0,39 persen.
Selain NTP subsektor perikanan mengalami kenaikan, NTP subsektor ini juga tertinggi dibanding subsektor lainnya. NTP Subsektor perikanan selama Bulan Februari 2019 sebesar 106,70 persen.
Bahkan Nilai Tukar Nelayan (NTN) Perikanan Tangkap kenaikannya cukup signifikan selama bulan Februari 2019, yakni 0,48 persen. NTN Perikanan Tangkap pada Bulan Januari sebesar 114,17 sedangkan pada bulan Februari 2019 sebesar 114,42.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Sulawesi Tengah, DR. Ir Hasanuddin Atjo dihubungi, Minggu (3/3/2019), sekaitan NTP subsektor perikanan yang mengalami trend kenaikan selama Bulan Februari 2019, mengatakan, capaian tersebut bagian dari dampak program Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah dan Kementerian Kelautan Perikanan yang membangun sistem logistik ikan (cold storage) dan penerapan sistem rantai dingin (pabrik es) di empat pelabuhan perikanan (PPI) di Sulawesi Tengah. Keempat PPI tersebut adalah, PPI Labuan Bajo di Kabupaten Donggala, PPI Ogotua di Kabupaten Tolitoli, PPI Paranggi di Kabupaten Parimo, PPI Pagimana di Luwuk Kabupaten Banggai, serta PPI Mato di Kabupaten Banggai Laut.
“Adanya program tersebut  harga ikan laut cenderung stabil dan tetap tinggi,” kata Atjo.

Kemajuan pariwisata Sulawesi Utara dan interkoneksi dengan Pulau Jawa kata Atjo, juga menjadi penyebab tingginya indeks harga yang diterima nelayan.
Sebagaimana diketahui, indeks harga yang diterima nelayan tangkap selama bulan Februari sebesar 149,29 atau terjadi kenaikan 0,39 persen dibanding bulan sebelumnya sebesar 148,69. Sedangkan indeks harga yang dibayar nelayan tangkap sebesar 130,12 atau turun 0,09 dibanding bulan sebelumnya, yakni sebesar 130,24.

Atjo mengakui, di saat NTN perikanan tangkap mengalami indeks kenaikan, namun NTN perikanan budidaya mengalami penurunan, yakni sebesar 0,07. Bahkan NTP pembudidaya masih rendah karena masih di bawah angka 100, yakni sebesar 85,73 selama bulan Februari 2019. Penyebabnya, di antaranya tidak maksimalnya usaha ini karena keterbatasan air akibat suplai dari irigasi yang menurun.
Menyiasati keterbatasan suplai air dari irigasi kedepannya, menurut Atjo, di tahun 2019 ini Pemprov Sulteng akan memberikan percontohan budidaya hemat air berupa kolam yang akan dilapisi plastik, sehingga air tidak merembes.

“Diharapkan juga air dari kolam juga dapat digunakan untuk mengairi tanaman hortikultura di sekitarnya,” ujarnya.
Sebagaimana diketahui, NTP seluruh subsektor di Sulawesi tengah mengalami penurunan kecuali subsektor perikanan. Penurunan NTP seluruh subsektor tersebut otomatis menyebabkan NTP Sulawesi Tengah juga turun.
Kepala BPS Sulawesi Tengah, Faisal Anwar mengatakan, nilai tukar petani (NTP) Provinsi Sulawesi Tengah selama Februari 2019 mengalami penurunan sebesar 1,47 persen dibading NTP bulan sebelumnya. NTP selama bulan Januari 2019 mencapai 95,19 sedangkan pada bulan ini sebesar 93,72.
“NTP di Sulteng masih di bawah 100,” kata Faisal. NTP tertinggi kata Faisal, terjadi pada subsektor perikanan sebesar 106,70 persen, sedangkan NTP terendah terjadi pada subsektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 81,66 persen. (fit)