Senin, 7 September 2026
Opini  

Kabar dari Danau

Nur sangaji

Oleh : Nur Sang Adji

DUA hari lamanya saya ada di Jakarta untuk hadiri Rakor tentang Danau Indonesia dari tanggal 25 sd 26 Maret 2019. Hari pertama diisi pemaparan pakar dan presentasi interaktif Kementerian terkait.

Salah satu pakar lingkungan adalah Prof Emil Salim. Seseorang yang pernah saya injak sepatunya dengan sengaja saat kunjungan mahasiswa teladan tahun 1985. Saya bilang kepada beliau, agar dalam sejarah hidup ku, pernah injak sepatunya menteri. Alasan itu yang bikin beliau tertawa.

Sedangkan, hari ke dua adalah pernyataan komitmen para menteri, gubernur dan bupati yang punya danau. Termasuk Bupati Poso, Darmin A Sigilipu dan Gubernur Sulteng, Longki Djanggola. Kegiatan yang dipusatkan di kantor kementerian LHK itu tergolong istimewa untuk tiga alasan. Pertama, menghadirkan multistakeholder. Kedua, memamerkan kondisi danau prioritas. Ketiga, ada komitmen pengambil kebijakan untuk bertindak selamatkan danau. Pertanyaannya, mengapa danau harus diselamatkan..?

Banyak alasan menarik untuk pertanyaan ini. Tapi, yang maha penting adalah melindungi air untuk kehidupan. Data mengungkap bahwa danau menyimpan 70 persen dari total air permukaan (water surface). Sementara air permukaan ini melayani sebahagian besar kebutuhan mahluk hidup. Danau sendiri berkontribusi melaui airnya, banyak akifitas sektoral. Sebutlah, air baku, irigasi, listrik tenaga air, perikanan, transportase, olahraga, pariwisata, pendidikan, budaya dan lain sebagainya.

Masalahnya, banyak danau yang teracam rusak bahkan punah. Trend degradasi dan susut luasannya sangat menyolok. Ada danau yang 10 tahun lalu seluas 15 ribu hektar. Kini, tinggal 800 hektar saja. Ada danau yang terancam jadi daratan. Ada juga danau yang penuh sampah plastik, eceng gondok hingga keramba ampung.

Pokoknya, di pertemuan ini, saya menguping berbagai khabar yang menyedihkan tentang danau kita.

Dibalik kekuatiran ini, tampilnya para pihak yang mewakili kementeriannya sebagai panelis, cukup memberi harapan. Dan, saat dapat kesempatan pertama untuk kilas balik, saya menekankan beberapa poin.

Secara konsepsional, cerita para punggawa kementerian ini, bagus semua. Sayang, di lapangan tidaklah demikian. Saya sebut bahwa setiap pertemuan periodik seperti ini, kita selalu lihat pemaparan tentang grafik linier dari degradasi. Jauh lebih cepat dari kemampuan kita memperbaikinya.  Karena itu, dibutuhkan tindakan luar biasa untuk mengatasinya.

Memang patut diakui bawa danau dan juga sungai adalah wilayah tak bertuan. Laut, ada menterinya, hutan ada menterinya, tanah ada menterinya. Tapi, danau dan sungai, tidak ada. Padahal, di danau dan sungai, ada sekian juta manusia menggantung hidup baik secara deterministik maupun tidak langsung. Barangkali itu, sehingga status kewenangan untuk mengurusnya amatlah lemah.

Pernyataan komitmen yang saya dengar dari Menteri LHK, Bappenas dan PUPR saat beri pidato kebijakan, sangat baik. Tapi, siapa atau pihak mana yang memegang kandali, mempertemukan, memonitor, mengevaluasi dan menindaklanjutinya, masih jadi soal.

Saya beri satu contoh tentang ancaman kepunahan ikan sidat di danau Poso. PLTA Sulewana telah merancang pasang Fish way, tapi efektivitasnya masih diragukan. Ada usulan teknologi lift seperti yang ada Perancis untuk ikan Salmon. Namun, siapa yang mau mengambil tanggung jawab ini ?

Di soal yang lain, saya mencatat berkali kali menteri PUPR menyentil dalam pemaparannya. Ketika kami bekerja di lapangan untuk urusan danau ini, kami selalu merasa kesepian. Saya diskusikan hal ini dengan kawan-kawan di kementerian LHK, mereka jawab dengan kelakar tapi serius. Bagaimana tidak sepi, kami tidak diajak.
Selanjutnya, akan makin panjang pertanyaannya, kalau dibolak balik. Semua akan memproduksi alasan masing-masing.

Nah, inilah masalah kita yang sesungguhnya kalau bekerja. Tidak mengajak (kolaborasi). Tidak mau diajak (partisipasi, malas). Tidak berkomunikasi (koordinasi). Tidak mau tahu (masa bodoh). Tidak peduli (takut rugi). Tidak berinisiatif (baku harap). Tidak bertanggung jawab (lalai, hianat). Semua tabiat ini selalu mencuat ketika kita evaluasi menagemen pengelolaan, tentang apa saja di negeri kita. Ini contoh kongkritnya.
Selaku penyusun Amdal dan KLHS, saya sering menemukan rekomendasi dan implementasi yang berjarak menyolok. RKL dan RPL Amdal mengamanahkan penanaman sawit hanya boleh pada kemiringan tertentu. Namun, di lapangan akan kita temui pohon sawit ditanam di puncak gunung oleh pemrakarsa. Mengapa bisa..? Mungkin, karena peraturan dibuat untuk dilanggar.
Maka, bisa tercegah, hanya bila monitoring, evaluasi dan komitmen dijalankan secara periodik dan konsisten.

Dalam hal ini, kita butuh manusia setengah dewa. Manusia yang punya inisitif tinggi dan pantang resiko. Ada ahli yang memilahnya jadi tiga kategori : 1). “What is forbidden, is not allowed”. 2). “What is allowed, is not forbidden”. 3). “What is not forbidden is not allowed”.
Kategori yang ketiga inilah, manusia dimaksud.

Yaitu, mereka yang punya spirit terobosan yang tinggi. Dia berprinsip, yang penting tidak dilarang berarti dibolehkan. Bila prinsip ini dibarengi dengan iklas, peduli, tanggung jawab dan amanah, danau dan negeri ini bisa diperbaiki.

Semogalah, manusia-manusia dalam kategori ini adalah termasuk kita. Yakni, Presiden, Menteri, Gubernur, Bupati dan kita yang menginisiasi lahirnya Forum Penyelamatan Danau Nusantara.***

Pengalaman Pengguna Game Penghasil Saldo DANA Lebih Cepat Adaptif Dan Efisien Dibawa Oleh Inovasi Teknologi
Pergeseran Mutu Produksi Kosmetik Terdeteksi Lebih Akurat Berkat Aliran Data Langsung
Pengalaman Pengguna Semakin Responsif Adaptif Dan Efisien Berkat Perkembangan Teknologi Modern
Momentum Tetap Terarah Dan Terkendali Dipertahankan Melalui Taktik Mode Pemburu Sic Bo Live
Keputusan Tetap Terukur Dalam Game Online Dipertahankan Melalui Pengelolaan Modal Cerdas
Kapitalisasi Pasar Dan Inovasi Kasino Online Berubah Di Tengah Disrupsi Teknologi Modern
Strategi Baru Untuk Meningkatkan Keunggulan Kompetitif Dibuka Melalui Business Model Canvas Mahjong Ways
Kualitas Sistem Mahjongways Kasino Online Dipahami Melalui Identifikasi Nilai Pembayaran Game Penghasil Saldo DANA
Perspektif Baru Dalam Menganalisis Perkembangan Mahjong Ways Dibuka Melalui Modernisasi Strategi
Kasino Menjadi Studi Sistem Informasi Bagi Mahasiswa Melalui Pelatihan Enterprise Architecture
Mahjongways Kasino Online Dijadikan Acuan Strategi Marketing dalam Lingkungan Pemerintahan
Keamanan Informasi Jadi Fondasi Utama Layanan Konsultasi Kosmetik Berbasis Teknologi
Teknologi Pemantauan Membantu Mengukur Frekuensi Pembayaran secara Lebih Objektif dan Terukur
Kajian Statistik Pola RTP Menyoroti Perkembangan Teknologi Neural Sintetis Regulatoris
Simulasi Statistik Membuka Pendekatan Baru Memahami Mahjong Game Sungai Penuh secara Terukur
Statistik Objektif Membantu Membaca Pola Mahjong Game Sungai Penuh dengan Lebih Rasional
Strategi Mahjong Game Sungai Penuh Makin Terarah melalui Pendekatan Statistik Modern
Pendekatan Data Objektif Membantu Mengkaji Mahjong Game Saldo DANA Sungai Penuh secara Lebih Terstruktur
Mahjong Game Sungai Penuh Dikaji lewat Simulasi Statistik untuk Membaca Pola Aktivitas
Aturan Mahjong Digital dari Dua Kartu Awal hingga Penentuan Rentang Nilai Game Penghasil Saldo DANA
Pendekatan Adaptif MahjongWays Kasino Online Membantu Menjaga Keseimbangan Anggaran Hiburan
Kemunculan Simbol Unik MahjongWays Kasino Online Perlu Dibaca Secara Lebih Rasional
Mahjong Ways Menarik Minat Pemain di Tengah Ketatnya Persaingan Game Digital
Pengaturan Tempo MahjongWays Kasino Online Tidak Menentukan Munculnya Kombinasi Khusus
Starlight Princess Kembali Merebut Perhatian Pemain MBG Berkat Daya Tariknya
Membaca Pola Mahjong Ways dan Tren Permainan Lewat Data Saldo DANA Terbaru
Disiplin Mental MahjongWays Kasino Online Membantu Mencegah Keputusan Finansial yang Terlalu Impulsif
Mengenal Sweet Bonanza sebagai Game Digital Online dengan Tema Manis yang Menarik
Rotasi Awal MahjongWays Kasino Online Bukan Tolok Ukur Kemurahan Sistem Permainan
Menelusuri Strategi Terbaik dalam Bermain Game Penghasil Saldo DANA Secara Lebih Mendalam