Hasanuddin Atjo . Foto: Dok. PE
RENCANA pemindahan Ibukota Negara dan pusat Pemerintahan ke wilayah Kalimantan semakin menguat. Ini ditandai berkunjungnya Presiden Jokowi yang didampingi beberapa Menteri kabinet ke Kalimantan Timur dan Tengah dalam rangka kesiapan tersebut. Bila rencana itu nantinya terealisasi, maka salah satu tantangan yang perlu disikapi adalah membangun efisiensi dalam rangka menghubungkan Ibukota Negara dengan kawasan Timur Indensia lainnya seperti Maluku dan Papua melalui Alur Laut Kepulauan Indonesia.
Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) Kawasan Barat dan Timur Indonesia dihubungkan oleh tiga ALKI, yaitu ALKI I berada di antara Pulau Sumatera, Jawa dan Kalimantan; ALKI II berada di antara Kalimantan dan Sulawesi; serta ALKI III berada di antara Sulawesi, Maluku dan Papua.
Bila Ibukota dan pusat Pemerintahan telah berpindah ke Kalimantan, maka perjalanan laut dari Ibukota Negara ke wilayah kawasan Timur seperti Maluku dan Papua dapat dilakukan dengan dua pilihan route. Pertama menuju utara melewati Manado selanjutnya berlayar ke Maluku dan Papua, dan route kedua menuju Selatan melewati Makassar dan selanjutnya ke Maluku dan Papua.
Dari aspek jarak kedua route itu memerlukan waktu yang lebih lama, sehingga dalam hitungan akumulasi dan kalkulasi ekonomi akan menurunkan efisiensi yang bermuara kepada penurunan daya saing daerah dan wilayah. Kondisi ini tentunya menjadi salah satu tantangan yang harus dihitung dan dicarikan solusinya.
Tol Tambu-Kasimbar VS Terusan Khatulistiwa Tahun 2008, saya (HasanuddinAtjo) pernah menggagas dalam sebuah tulisan tentang mimpi membangun “terusan Khatulistiwa” yang akan menghubungkan ALKI II dan ALKI III dengan memotong leher Pulau Sulawesi yang lebarnya sekitar 18 km. Salah satu tujuan membangun terusan ini adalah memperpendek jarak dan waktu tempu dalam upaya membangun efisiensi dan peningkatan daya saing.
Gagasan ini kemudian berkembang dalam sejumlah diskusi untuk menggantinya dengan membangun jalan bebas hambatan atau TOL menggunakan teknologi terkini yang menghubungkan Tambu di kabupaten Donggala dan Kasimbar di kabupaten Parigi Moutong.
Hadirnya “TOL Tambu- Kasimbar”, mejadi sebuah pilihan bagi sistem transportasi dan sekaligus memperkuat program TOL Laut yang sudah ada. Truck-truck yang bermuatan komoditas dan kebutuhan konsumsi lainnya dari kawasan Timur akan diangkut dengan kapal Very menuju Pelabuhan Kasimbar, dilanjutkan dengan perjalanan darat melalui “TOL Kasimbar-Tambu”dan selanjutnya diseberangkan menggunakan kapal Very dari Pelabuhan Kasimbar menuju Kawasan Ibukota Negara di wilayah Kalimantan, demikian sebaliknya.
Terbangunnya sistem transportasi terintegrasi Laut-darat-Laut ini, akan membawa banyak manfaat dan salah satunya adalah pemerataan pertumbuhan ekonomi yang saat ini menjadi salah satu permasalahan Nasional.
Didiskusikan dan Diperjuangkan
Provinsi Sulawesi Tengah yang hanya dipisah oleh selat Makassar dengan Ibukota Negara dan Pusat Pemerintahan harus bergerak cepat memanfaatkan sejumlah peluang dan menekan tantangan, kemudian mendiskusikan lebih dalam apa saja yang harus dipersiapkan dan diperjuangkan, agar tidak didahului dan dimanfaatkan oleh wilayah lain.
Provinsi Sulawesi Tengah memiliki sejumlah keungggulan kompetitif dan komparatif yang bisa menjadi modal dasar. SEMOGA.






