Minggu, 5 April 2026

Golkar Sudah Colong Start Isu Pergantian Ketua

PALU EKSPRES, JAKARTA – Tak hanya internal Nasdem dan Partai Demokrat yang panas. Kursi Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto sudah duluan dibidik. Kini, dua calon kuat ketua umum (Caketum) Partai Golkar bahkan saling klaim dukungan.
Teranyar, Airlangga selaku incumbent disebut mendapatkan tambahan dari 33 DPD II dan DPD I. Sedangkan Bambang Soesatyo (Bamsoet) dapat dukungan enam DPD II partai berlambang beringin Jawa Tengah.

Ketua DPP Partai Golkar Lamhot Sinaga mengklaim, Airlangga masih diinginkan stakeholder untuk jadi Ketum Golkar periode mendatang. “Menurut saya, Airlangga Hartarto masih diinginkan oleh seluruh stakeholder Golkar pada munas (musyawarah nasional, Red) mendatang,” ujarnya di Jakarta, Rabu (3/7/2019).

Menurut dia, prestasi Airlangga salah satunya mampu menjadikan Golkar peringkat dua peroleh kursi di parlemen pada pemilihan umum legislatif (Pileg) 17 April 2019 lalu. Apalagi prestasi tersebut saat elite partai dijerat kasus korupsi.
“Di tengah badai keras yang menerpa Partai Golkar, setelah dualisme kepengurusan ditambah kasus hukum yg mendera elite partai yang mengantarkan mantan ketum dan mantan sekjen kebalik jeruji, DPP Partai Golkar di bawah kepemimpinan Airlangga Hartarto mampu ‘survive’ menjadikan Golkar di peringkat dua peroleh kursi di parlemen,” jelas dia.
“Prestasi ini tidak boleh diabaikan dan hal inilah yang dilihat para pengurus daerah (pemilik suara, Red) yang menjadi kelebihan sekaligus prestasi Airlangga sebagai ketua umum,” tambah dia.

Sepanjang pengetahuannya, dia mengatakan, 33 DPD II dan DPD I Provinsi Sumut masih solid dan setia mendukung Airlangga. “Kebetulan sebagai ketua DPP, saya sering berkomunikasi dengan mereka dan semua mengatakan masih ingin kepemimpinan Airlangga dilanjutkan untuk masa bakti mendatang,” tuturnya.

Sebaliknya, Wakil Koordinator Bidang Pratama Partai Golkar sekaligus Ketua DPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) juga mengklaim sudah mendapat dukungan dari enam DPD II Provinsi Jawa Tengah. Enam dukungan itu berasal dari DPD Golkar Kabupaten Pekalongan, Kota Pekalongan, Kota Tegal, Kota Salatiga, Kota Brebes dan Kota Semarang.
“Jawa Tengah ada 35 kabupaten, mudah-mudahan bulat dan kompak karena saya juga berasal dari Jawa Tengah dapilnya. Konsolidasi di Jawa Tengah sedang kami lakukan,” kata Bamsoet di kantornya, Kompleks Parlemen, Senayan, Rabu (3/7/2019).

Bamsoet mengatakan, masih ada sejumlah daerah lainnya yang akan datang dan memberikan dukungan, di antaranya dari Grobogan, Rembang, Jepara, Blora dan Demak.
Bamsoet mengaku, dukungan tersebut semakin menguatkan dirinya maju sebagai calon ketua umum.

Terpisah, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Golkar Lodewijk Freidrich Paulus mengatakan, pada dasarnya, partai berlogo pohon beringin ini merupakan partai terbuka yang berarti sifatnya tidak dimiliki oleh seseorang.

Sebagai partai yang menuju ke arah modern, Lodewijk mengatakan, Golkar senang jika banyak kader yang ikut mencalonkan diri sebagai ketua umum. Namun, partai sudah memiliki ketentuan mengenai kriteria ketua umum ideal. “Nanti, siapapun yang mencalonkan diri, artinya dia punya modal dasar untuk dikatakan layak,” kata Freidrich di Jakarta, Rabu (3/7/2019).
“Jadi Airlangga, Bamsoet, Indra Bambang Utoyo, dan siapa lagi, silakan saja, kami terbuka,” tambahnya.

Mantan Wakil Sekjen Golkar Lalu Mara Satriawangsa menyatakan, Airlangga selaku ketua umum berhak untuk maju kembali. Tidak ada larangan di AD/ART yang menyebutkan ketua umum tidak boleh maju untuk kedua kalinya.
“Dan hak beliau untuk menyampaikan berbagai keberhasilan Partai Golkar di bawah kepemimpinannya,” ujarnya dalam pernyataan pers di Jakarta, Rabu (3/7/2019).

Wasekjen Golkar periode 2009-2014 dan 2014-2015 itu menegaskan, biarlah pemilik suara yakni DPD II, DPD I, Ormas yang mendirikan, dan yang didirikan yang menilai. Apakah capaian Partai Golkar menyabet 85 kursi DPR ini sebagai sebuah keberhasilan atau sebaliknya.

Melihat perjalanan partai Golkar selama emapt tahun terakhir memang penuh dengan turbulensi. Pernah dalam sebuah survei disebut kursi Golkar di DPR tinggal tujuh persen. “Tapi, kenyataannya kan 12 persen, dan 14 persen kursi DPR. Dan menurut saya sebuah capaian yang tidak buruk, meski di bawah capaian pada pileg 2014,” ucap Lalu Mara. (aen/indopos)