oleh : Muhd Nur Sangadji (muhdrezas@yahoo.com)
KITA masih di bulan November. Inilah bulan yang oleh rakyat Indonesia diperingati sebagai Hari Pahlawan. Tepatnya tanggal 10 November 1945. Ketika itu, Belanda dengan hasrat imperalisme, membonceng sekutu, ingin kembali menjajah Indonesia. Namun, hasrat serakah ini disambut rakyat Indonesia di Surabaya dengan taruhan jiwa raga. Bung Tomo mengobarkan perang. Dan, rakyat memberi dirinya untuk mati. Mati demi tanah dan air dari negeri yang baru merdeka berbilang bulan.
Tanggal 17 Agustus ke 10 November. Selang waktunya tidak cukup 3 bulan. Bandingkan dengan waktu 350 tahun lamanya kita terjajah. Kurang 3 bulan lamanya kita merdeka. Masih mau dijajah kembali. Dan, penolakan atas ketamakan kaum penjajah inilah yang hari kejadiannya dikeramatkan oleh bangsa sebagai Hari Pahlawan.
Pertanyaan besar bagi generasi hingga kini berkait dengan bilangan tahun kita terjajah, belum menjawab tuntas. Sejarah selalu beri tahu generasi, bahwa persatuanlah yang menjadi penyebabnya. Penjajah bersatu dan kita bercerai berai. Tidak terlalu salah, tapi tapi tidak sepenuhnya benar. Karena, banyak fakta menunjukkan bagaimana gotong royong tercipta, saling bahu membahu. Sebab, bila kita setuju pernyataan kita tidak bersatu. Maka, filosofi gotong royong ini harus dikeluarkan dari identitas kebanggaan kita.
Masalahnya menurut hemat saya adalah pengkhianatan. Inilah tabiat manusiawi yang menghinggap dan lengket pada keburukan kepribadian individu. Sangat buruk. Karena itu, hampir di semua komunitas, hukuman bagi pengkhianat adalah mati.
Lantas apa yang membuat orang berkhianat.? Kurang lebih tiga elemen penting yang terwariskan hingga kini. Pertama, adalah harta dan atau materi (sogokan). Kedua, adalah jabatan atau kedudukan (penjinakan). Ketiga, perempuan atau wanita (bujukan syahwat). Tiga ratus lebih tahun terjajah itu, lahirlah banyak pahlawan di sekitar. Akan tetapi, di sebelahnya muncul banyak pengkhianat yang membocorkan informasi perjuangan. Apalagi yang dicari kalau bukan harta dan tahta atau wanita.
Kita temukan, jangankan manusia biasa seperti kita. Nabi dan Rasul yang diutus Tuhan pun mengalaminya. Nabi Muhammad SAW dalam sejarah sebagai contoh, menolak dengan pernyataan yang sangat agung. Andaikata mereka mampu meletakkan bulan dan matahari di tangan kanan dan kiri ku untuk agar aku berhenti menjalankan dakwah. Aku tidak akan perduli. Inilah contoh konsistensi yang sangat mulia.