Minggu, 9 Agustus 2026
Opini  

Covid-19, Menyadarkan Pentingnya Peran Keterbukaan dan Kemandirian

Oleh Hasanuddin Atjo  (Kepala Bappeda Sulteng)

Tidak ada yang bisa sangkal bahwa covid-19 membuat “isi dunia”, menjadi pusing, cemas dan mulai dihinggapi rasa panik. Pasalnya, per 1 April 2020, sebarannya telah merambah ke 203 Negara, dan secara Nasional ke 32 Provinsi.

Korban meninggal dunia per 1 April, Rabu kemarin secara global mencapai 36.405 orang dari 750.890 kasus terkonfirmasi (4,85 %), dan sembuh 117.141 orang (15,60%). Secara Nasional meninggal 157 orang dari 1.677 kasus terkonfirmasi (9,36%) dan sembuh 103 orang (6,14%).

Keterbukaan informasi menjadi salah satu strategi penting untuk menekan laju penularan covid-19 ini. Dengan kemajuan teknologi digital, warga dengan cepat mengetahui mana daerah yang rawan, di mana keberadaan warga dengan status ODP, PDP, Suspect dan positif, lengkap dengan nama, alamat bahkan koordinat.

Keterbukaan ini antara lain telah diterapkan di Korea Selatan dan Singapura dalam rangka menekan laju penularan Covid-19. Kini kedua Negara tersebut grafik laju penularannya jauh menurun. Tentunya ini merupakan harapan baru bagi Negara lain, khususnya Indonesia.

Peran Rukun Tetangga, (RT) dan Rukun Warga, (RW) tentunya berperan penting sebagai garda paling depan dari sistem pemerintahan kita. Yang menjadi soal kualitas ketua RT dan RW kita belum merata dan sesuai standar yang diperlukan.

Saatnya RT dan RW diposisikan sebagai manajer. Mereka harus mendapat gaji yang sesuai agar bisa bekerja profesional, dan direkrut sesuai kriteria manajer. Saat ini ada RT dan RW hanya digaji Rp 200.000 per bulan.

Karena itu untuk kasus seperti di atas, yang direkrut sebagai RT dan RW adalah para ASN, Pegawai Swasta atau tokoh setempat yang memiliki pekerjaan tetap. Kondisi yang seperti ini, kita tidak bisa berharap banyak, RT dan RW bisa bekerja maksimal untuk mengedukasi maupun mendampingi warganya.

Kemandirian merupakan syarat yang tidak kalah strategisnya menekan laju penularan covid-19. Kemandirian pangan dan kemandirian energi bagi sebuah Negara, sebuah wilayah menjadi syarat untuk memutuskan apakah Negara itu bisa “Lockdown” atau tidak.

Singapura adalah Negara dengan Indeks Kemandirian pangan peringkat pertama dari 113 Negara yang diukur yaitu 87,4 (Global Food Security Indek, 2019). Korea Selatan dengan nilai 73,6 (peringkat 29) dan Indonesia nilai 62,6 berada di peringkat 62.

Impor pangan dan energi kita di tahun 2019 relatif masih tinggi, meskipun ada penurunan dari tahun 2018. Total impor per Desember 2019 mencapai US$ 14,50 miliar. Impor nonmigas termasuk pangan capai US$ 12,37 miliar dan impor migas US$ 2,13.

Karena itu, inilah yang menjadi salah satu landasan mengapa Presiden Joko Widodo bersama kabinetnya tidak memilih kebijakan, “Lockdown Penuh”, terkait Pandemic Corona Covid-19. Kemudian memutuskan “Lockdown Terbatas atau Parsial”.

Kebijakan yang diambil Presiden Jokowi dipandang sejumlah kalangan sudah tepat, karena sejumlah Negara yang menerapkan “Lockdown penuh” seperti India dan Amerika Serikat terbukti menuai sejumlah masalah sosial baru yang lebih memperparah keadaan.

Ada tiga pesan yang dapat menjadi renungan kita untuk ke depan dari bencana Pandemic Corona ini. Pertama adalah pengembangan dan pemanfaatan teknologi digitalisasi. RT dan RW serta desa harus didorong ke arah ini agar keterbukaan informasi bisa dipercepat.

Kedua pengembangan sumberdaya alam kita untuk kemandirian pangan dan kemandirian energi yang menurut analisis Pricewaterhouse Cooper, 2017 Indonesia sangat potensial menjadi negara mandiri dengan prediksi Pendapatan total di 2045 sebesar US$ 7 triliun dan mendudukkan Negeri ini di peringkat ke 5 dari kekuatan ekonomi.

Semua ini akhirnya berpulang kepada pemimpin di daerah masing-masing.
Diperlukan pemimpin daerah yang inovatif, adaptif dan selalu update untuk menggapai harapan itu. Semoga.

Fleksibilitas Baru Dalam Pengelolaan Infrastruktur Dihadirkan Oleh Teknologi Berbasis Cloud
Efisiensi Operasional Meningkat Berkat Teknologi Analitik Modern Dengan Pemantauan Berkelanjutan
Fondasi Baru Untuk Efisiensi Operasional Terbentuk Dari Platform Digital Modern
Adaptasi Terhadap Perubahan Teknologi Dipercepat Melalui Integrasi Kecerdasan Buatan
Pengelolaan Sistem Lebih Efektif Didukung Oleh Teknologi Pemantauan Cerdas
Stabilitas Operasional Terjaga Berkat Teknologi Digital Terintegrasi Dengan Analisis Berkelanjutan
Tantangan Transformasi Digital Dihadapi Secara Efektif Melalui Infrastruktur Modern Berbasis Analitik
Kolaborasi Dan Efisiensi Operasional Diperkuat Oleh Integrasi Teknologi Berbasis Cloud
Akurasi Evaluasi Kinerja Sistem Meningkat Berkat Platform Monitoring Digital
Ketahanan Operasional Di Era Digital Meningkat Melalui Pemanfaatan Analisis Data
Optimalisasi Pola Mahjong Ways Dilakukan melalui Algoritma Probabilistik Cerdas
Dompet Digital Mengubah Kebiasaan Transaksi dalam Ekosistem Monopoly Live
Ancaman Siber Mendorong Industri Permainan Memperkuat Keamanan Infrastruktur Digital
Digitalisasi Administrasi Pangkas Waktu Verifikasi Pengguna Live Blackjack
Perilaku Pemain Modern Dikaji melalui Model Adaptasi Strategis
Media Sosial Memperkuat Hubungan Provider dengan Komunitas Penggemar Gates of Olympus
Mahjong Wins 3 Menunjukkan Pergeseran Tren Hiburan Berbasis Teknologi Modern
Analisis Distribusi Mengungkap Kendala Penayangan Crazy Time di Berbagai Wilayah
Pemetaan Digital Memperkuat Distribusi Server serta Manajemen Trafik Lightning Roulette
Peluang Baru Industri Mahjong Indonesia Muncul dari Pergeseran Perilaku Digital