Oleh Hasanuddin Atjo (Ketua Ispikani Sulawesi Tengah)
Kepercayaan, kepolosan dan toleransi adalah modal dasar yang saya tangkap, pada saat mewancarai Andy Arfah dan istrinya Nursiah Ridwan,S.E, si pedagang ikan asin asal Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah.
Awalnya Andy Arfah berprofesi sebagai tenaga kerja di usaha keluarganya di Labuan Bajo Donggala , dan bertugas mengantar pesanan pengecer di dua pasar besar Kota Palu Masomba dan Inpres. Setelah itu dia mulai belajar mandiri.
Persaingan antar suplier di dua pasar itu cukup tinggi, dan ini menjadi salah satu tantangan perputaran uang dan omset. Pasalnya, pembayaran dari pengecer mitranya sering molor, sementara itu kepercayaan dari pemasok harus dijaga agar tidak terjadi pemutusan hubungan kerja atau diblokir sebagai mitra.
Setelah menikah dengan sang istri tercinta Nursiah, mereka hijrah ke Kota Palu. Mulailah terlihat ada perubahan strategi pemasaran ikan asin yang dilakukan sang suami oleh polesan seorang istri yang paham ekonomi.
Ketika sang istri melihat dan mempelajari pembukuan sederhana sang suami, maka sang istri kemudian memberi komentar “ kalau seperti ini cara berdagangmu bisa tutup usahamu, bisa bangkrut bisnismu ”, sebagai bentuk penegasan.
Pola berdagang seperti ini perputaran sangat lambat, omset sulit bergerak naik. Kita harus memperluas pasar sesegera mungkin dan bisa mendapat dana segar, agar bisa lancar membayar ke pemasok. Selain itu harga di tingkat konsumen bisa lebih murah dan selalu lebih segar karena perputaran cepat kata Nursiah kepada suaminya. Rupanya sistem pemasaran digital seperti perubahan taxi konvensional ke taxi aplikasi dan bisnis online lainnya di saat masih kuliah beberapa tahun lalu menjadi inspirasi bagi Nursiah.
Mulailah strategi pemasaran di rubah. Suplai ke pengecer di dua pasar tetap dilanjutkan, namun ada perubahan cara pembayaran. Kalau dicicil maka pembayarannya naik menjadi tiga kali lipat dibanding cash. Tujuannya sebagai bentuk edukasi agar pengecer bisa membayar cash dan bisa menjual lebih murah ke konsumen dan perputaran lebih cepat.
Hasilnya tidak sesuai harapan, karena sebagian besar tetap memilih menyicil. Ini memberi indikasi bahwa para pengecer kesulitan modal. Ini harusnya menjadi peluang dan tugas bagi lembaga keuangan agar memberi perhatian terhadap usaha mikro kecil.
Ini juga menjadi salah satu sebab mengapa angka garis kemiskinan Sulteng tertinggi di Sulawesi yaitu, sebesar Rp 460 ribu per bulan. Artinya, dikatakan tidak miskin kalau warga mampu membayar harga makanan dan non makanan sebesar 460 ribu rupiah per bulan. Dengan kata lain bahwa biaya hidup untuk memenuhi kebutuhan dasar di Sulawesi Tengah lebih tinggi dibanding dengan provinsi lainnya di Sulawesi. Karena itu angka kemiskinan kita tahun 2019 cukup tinggi dan di atas nasional yaitu, 13,18 persen.
Kelembagaan berupa koperasi pengecer harus ditumbuhkan, karena perbankan akan sulit melayani usaha mikro kecil secara perseorangan. Peran organisasi perangkat daerah yang menangani usaha mikro kecil menjadi penting.
Kembali kepada strategi pasar Pasutri pedagang ikan asin, mereka tetap menjaga hubungan bisnis dengan para pengecer mitranya. Selain itu mereka mulai memperluas pasar, masuk ke pasar ecer mandiri di sejumlah pasar desa Kabupaten Donggala dan Sigi. Demikian juga dengan pasar online lokal Palu dan antardaerah. Kesemuanya ini bertujuan untuk mempercepat perputaran dan bisa menekan harga yang harus dibayar oleh konsumen.
Di masa pandemic Covid-19 yang membatasi kontak sosial dan fisik, pasutri ini berperan membatu kebutuhan warga karena tidak harus ke pasar untuk berbelanja. Selain itu ikan asin merupakan pangan yang dapat disimpan lama tanpa harus menggunakan barang penolong seperti lemari pendingin.
Dari artikel bagian kedua ini, ada sejumlah pesan moral yang tertangkap: Pertama kelembagaan pengecer di dua pasar besar Kota Palu harus dimaksimalkan, agar bisa memperoleh akses modal dari lembaga keuangan sehingga bisa menekan harga yang harus dibayar oleh konsumen;
Kedua, generasi pengecer di dua pasar besar ini, tidak lagi terperangkap dengan cara konvensional dan harus diedukasi agar segera bersiap masuk ke pasar digital mengantisipasi era distrubsi yang semakin kencang;
Ketiga attitude, pengetahuan dan keterampilan bagaikan segi tiga sama sisi yang harus dimiliki oleh setiap warga agar bisa bersaing di era distrubsi dan digitalisasi yang semakin kencang. Meskipun dibalik oleh situasi dan perubahan posisinya tetap segitiga.
Demikian beberapa pesan moral yang dapat ditarik dari perjalanan pedagang ikan asin. Semoga bermanfaat (Selesai)






