Minggu, 26 April 2026
Agama  

Tetangga Dunia Maya

Hayyun Nur. Foto: Istimewa

Oleh : Hayyun Nur

MEMASUKI bulan Ramadhan. Di timeline berbagai medsos, berseliweran pesan menarik. Bernada anjuran, juga candaan. Kadang berbau sindiran buat mereka yang gemar memposting menu makanan di dunia maya.
Kegemaran memamerkan makanan di medsos, sebaiknya segera disudahi. Dihentikan saja. Sebab tidak semua orang seberuntung itu. Jangankan untuk menikmati makanan selezat dalam postingan. Untuk bisa makan satu kali sehari saja, sudah sedemikian susahnya.
Ada banyak orang tak perlu menunggu bulan puasa, untuk merasakan pahitnya rasa lapar. Berbulan-bulan sebelum Ramadhan tiba, mereka sudah lebih sering merasakan lapar ketimbang kenyang. Jadi kalau bisa, stop lah kebiasan postingan seperti itu. Begitu kira-kira inti pesan bernada sindiran itu.
Bila sedikit diseriusi, pesan ini bukan tidak memiliki dasar. Bahkan terkandung pula konsep baru dibalik itu. Terkait defenisi tentang tetangga.
Tetangga menurut pengertian klasik, semua orang yang tinggal 40 rumah. Dari segala penjuru. Depan, belakang, kanan, kiri, hingga atas dan bawah.
Sebut saja pengertian lama ini; ‘Tetangga Dunia Nyata’.
Pengertian ini misalnya di sebutkan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani. Ahli hadis terkemuka. Penulis Syarah (penjelasan) Sahih Bukhari. Kitab Fathul Bari yang monumental itu.
Pengertian lama ini, perlu didefenisikan kembali. Menyesuaikan dengan konteks kekinian. Paling tidak, diperkaya dan dilengkapi.
Kini nampaknya, tetangga tak cukup lagi hanya mencakup konteks dunia nyata. Tapi juga sudah berekspansi ke dunia maya. Apalagi jika dikaitkan dengan kegemaran pamer menu makanan di medsos itu.
Sejatinya pergaulan di dunia maya, tak ubahnya dengan di dunia nyata. Di dunia nyata, masing-masing orang memiliki tetangga 40 rumah ke segala penjuru. Dapat saling berinteraksi dan berkomunikasi. Aktif maupun pasif. Langsung ataupun tidak. Dari segi sifat komunikasi dan interaksi inilah, tetangga memperoleh pemaknaannya yang baru.
Di dunia maya, setiap orang juga dapat berinteraksi dan berkomunikasi. Dengan sifat persis seperti di dunia nyata. Bisa aktif. Pun pasif. Secara langsung. Juga Tidak langsung. Hampir tak ada bedanya.
Bila demikian halnya, maka konsep bertetangga benar-benar telah bergeser. Tak bisa lagi hanya sebatas bertetangga di dunia nyata. Tapi mestinya juga mencakup bertetangga di dunia maya. Malah boleh jadi, interaksi antar tetangga di dunia maya jauh lebih intens ketimbang dengan tetangga di dunia nyata.
Menakjubkan, istilah seperti dinding dan beranda sangat terkenal di medsos. Digunakan misalnya oleh Facebook. Kedua istilah itu sangat lekat dengan kehidupan bertetangga.

Di dunia nyata.

Tetangga di dunia nyata meliputi 40 rumah ke segala penjuru. Didunia maya, dinding dan beranda medsos dapat dijadikan ukuran. Siapapun yang melintas di beranda medsos, itulah tetangga dunia maya. Siapapun yang mungkin melihat postingan kita, itu juga tetangga. Termasuk yang kebetulan melihat postingan menu makanan itu.
Bila demikian halnya, maka tuntunan moral agama. Berupa ajaran pentingnya menjaga hubungan baik dengan tetangga. Tidak lagi hanya berlaku untuk tetangga di dunia nyata. Tapi mesti pula berlaku dengan kehidupan bertetangga di dunia maya.
Menjaga hubungan baik dengan tetangga sangatlah penting. Menurut ajaran agama. Begitu pentingnya, sampai-sampai itu menjadi ukuran dari kualitas iman seorang.
“Sesiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka muliakanlah tetangga”. Demikian penegasan sebuah riwayat.
Ada banyak cara memuliakan tetangga. Menolong ketika membutuhkan bantuan. Meminjaminya. Menjenguk bila sakit. Mengantar jenazahnya. Tidak meninggikan bangunan rumah melebihi bangunannya. Kecuali atas izinnya.
Ini semua deretan panjang adab bertetangga. Akhlaq memuliakan tetangga. Bersumber dari tuntunan agama. Diuraikan panjang lebar misalnya oleh Imam al-Ghazali. Dalam salah satu karyanya. Kitab Mukasyafatul Qulub.
Tuntunan itu memang awalnya ditujukan untuk pergaulan bertetangga di dunia nyata. Tapi kini perlu pula diterapkan dalam pergaulan bertetangga di dunia maya.
Termasuk tuntunan agama untuk tidak menyakiti tetangga. Mesti diterapkan di seluruh konteks kehidupan bertetangga. Di dunia nyata. Pun di dunia maya. Tetangga harus dimuliakan. Dengan berbagai cara seperti disebutkan. Tidak boleh disakiti. Dengan cara apapun. Termasuk, bahkan dengan aroma makanan yang sedang dimasak.
Sebuah hadis sahih tegas mengingatkan ini:
“Jangan kamu menyakiti tetangga. Dengan aroma masakanmu. Kecuali kamu membagikan sekedarnya masakan itu kepadanya”.
Sekedar aroma saja sudah dapat dianggap menyakiti tetangga. Apalagi dengan postingan gambar tekstur makanan serba lezat di medsos.
Maka, pesan yang berseliweran di berbagai timeline medsos itu, ternyata benar-benar bermuatan serius. Lagi penting.
Bagaimana tidak!! Perilaku suka pamer. Memposting menu makanan di medsos itu, bisa berakibat fatal. Dapat dianggap menyakiti tetangga. Dua jenis tetangga sekaligus. Tetangga dunia nyata. Sekaligus tetangga dunia maya. Menyakiti tetangga, sama halnya dengan tidak memuliakan.
Apa akibat dari tidak memuliakan tetangga?
Sangat berat. Dianggap sebagai tidak beriman kepada Allah dan Hari Akhir.
Apa akibat dari tidak beriman kepada Allah dan Hari Akhir?
Lebih berat lagi. Terlalu berat. Kamu tak akan sanggup. Biar aku aja. Tak tega menuliskannya di sini.***

gamespools

aceplay99

dewaslot88

slot anti rungkat

ace99play

slot777