Sabtu, 5 September 2026
Agama  

Ikhtiar dan Tawakkal: Berguru pada Burung-Burung

Hayyun Nur. Foto: Istimewa


Oleh : Hayyun Nur

Suatu ketika, Rasulullah melihat seseorang meninggalkan untanya. Ditinggalkan begitu saja. Tanpa terlebih dahulu menambatkan talinya.
Melihat itu, sang Rasul serta merta menegurnya. “Mengapa untamu tak engkau ikat sebelum ditinggalkan. Tak takutkah engkau bila unta itu lepas, pergi, dan hilang”.
Orang tersebut menjawab, “Saya bertawakkal hanya kepada Allah”.
Mendengar jawaban polos itu, Rasul tersenyum. Lalu dengan bijak dan lembut berkata, “Ikatlah untamu terlebih dahulu. Sesudahnya barulah engkau bertawakkal”.
Sikap seperti si pemilik unta itu, hari-hari belakangan nampak kembali bermunculan. Ketika menyikapi pandemi Covid-19 ini. Ada banyak orang bersikap persis sama dengan si pemilik unta. Sikap tawakkal zonder ikhtiar. Diekspresikan dalam berbagai bentuk ungkapan verbal. Semisal: “Virus Corona itu ketetapan Allah. Tidak perlu takut pada Corona, takut itu hanya pada Allah”.
Sikap dan ungkapan sejenis tidak berasal dari orang awam saja. Tokoh-tokoh agama pun turut ikut meramaikan suasana.
Dalam suatu kesempatan, misalnya, seorang tokoh agama begitu bersemangat mengatakan, baru satu macam virus Corona datang, seluruh dunia geger. Kenapa harus takut pada Corona. Kita hanya takut kepada Allah.
Sampai ketika fatwa MUI terkait Covid-19 akhirnya ditetapkan. Sikap serupa masih saja mengemuka. Fatwa MUI Nomor 14 Tahun 2020 itu segera saja direspon negatif oleh pihak yang kontra. Poin fatwa tentang peniadaan shalat berjamaah di masjid, paling banyak disorot.
Tak tanggung-tanggung. Reaksi keras bahkan datang dari seorang tokoh. Tak sekedar heran dengan fatwa MUI. Ia malah menuding fatwa itu mengindikasikan ada phobia kepada masjid. Menurutnya, masjid justru tempat paling aman bagi umat Islam. Untuk berlindung dari bencana. Termasuk dari ancaman penyebaran Covid-19.
Fatwa MUI berikut respon atasnya, merupakan bentuk dari sikap keagamaan. Pernyataan-pernyataan beraroma fatalistik itu, juga sikap keagamaan. Sikap beragama, cerminan dari pemahaman keagamaan. Ini soal teologis. Terkait dua konsep teologis sekaligus. Ikhtiar di satu sisi. Tawakkal di sisi lainnya.
Istilah ikhtiar berakar dari kata Arab. “Khairun”. Berarti sesuatu yang terbaik. Perubahan kata ‘khairun’ menjadi ikhtiar membawa implikasi makna. Dari kata sifat yang pasif menjadi kata bermakna kerja aktif. Kata ikhtiar lalu berarti kerja aktif memilih satu kemungkinan terbaik. Memilih yang terbaik dari sekian banyak kemungkinan yang tersedia. Proses ikhtiar dengan demikian membutuhkan pengetahuan. Penentuan alternatif terbaik dari sekian banyak pilihan, di dalam mekanisme ikhtiar, meniscayakan itu.
Fatwa MUI itu jelas merupakan wujud dari ikhtiar. Hasil dari suatu proses memilih kemungkinan terbaik. Di antara berbagai pilihan yang ada. Itulah pilihan terbaik yang telah diambil. Sesuai konteks persoalan yang dihadapi. Dalam hal ini Covid-19.
Peniadaan shalat berjamaah di mesjid melalui fatwa itupun demikian. Itu pilihan terbaik. Diambil setelah memilah-milah berbagai pilihan. Menjadi alternatif terbaik untuk mengatasi penyebaran Covid-19. Demi melindungi keselamatan umat. Itulah wujud ikhtiar paling maksimal yang bisa dilakukan. Setelah ikhtiar maksimal, barulah klaim tawakkal dapat diseruakkan.
Ibarat lelaki pemilik unta di zaman Rasul. Fatwa MUI itu tak ubahnya sebagai ikhtiar menambatkan tali Unta. Bukan saja agar Unta tak hilang sia-sia, melainkan agar keselamatan umat terjaga. Agar tak ada umat yang kehilangan nyawa sia-sia. Akibat lalai dari ikhtiar menghindarkan diri agar tak terpapar covid-19
Respon negatif terhadap fatwa MUI yang muncul kemudian. Juga berbagai pernyataan fatalistik yang muncul sebelum atau sesudahnya. Dapat pula diletakkan pada konteks konsepsi teologis ikhtiar dan tawakkal ini. Secara sebaliknya.
“Tidak perlu takut pada Corona. Takut itu hanya pada Allah”. Pernyataan seperti ini sekilas nampak seolah benar. Padahal sejatinya secara logika dan teologis jelas keliru. Benar, orang beriman memang harus hanya takut pada Allah. Tapi membandingkan Kebesaran Allah dengan makhluk ciptaan sekecil Corona, tentu suatu cacat pikir sangat fatal. Logis maupun teologis. Intelektual pun spiritual.
Jelas pernyataan dan sikap seperti ini, bertentangan dengan konsepsi ikhtiar dan tawakkal tadi. Bahwa tidak ada tawakkal tanpa ikhtiar. Karenanya, bertentangan pula dengan perintah Nabi kepada lelaki pemilik Unta itu.
Padahal semestinya manusia tidak boleh kalah dengan burung dalam ikhtiar dan tawakkal. Jangan-jangan manusia malah perlu berguru pada burung-burung untuk ini.
Bagaimanakah ikhtiar dan tawakkalnya burung-burung? Nabi Muhammad Saw menggambarkannya dengan indah. “Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah. Dengan sesungguhnya. Pastilah kalian akan dilimpahi rezki sebagaimana burung-burung. Mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar. Lalu pulang sore hari dalam keadaan kenyang.”
Maka, tawakkal zonder ikhtiar bukanlah tawakkal. Melainkan kekonyolan. Sebuah kenaifan spiritual.*

Pengalaman Pengguna Game Penghasil Saldo DANA Lebih Cepat Adaptif Dan Efisien Dibawa Oleh Inovasi Teknologi
Pergeseran Mutu Produksi Kosmetik Terdeteksi Lebih Akurat Berkat Aliran Data Langsung
Pengalaman Pengguna Semakin Responsif Adaptif Dan Efisien Berkat Perkembangan Teknologi Modern
Momentum Tetap Terarah Dan Terkendali Dipertahankan Melalui Taktik Mode Pemburu Sic Bo Live
Keputusan Tetap Terukur Dalam Game Online Dipertahankan Melalui Pengelolaan Modal Cerdas
Kapitalisasi Pasar Dan Inovasi Kasino Online Berubah Di Tengah Disrupsi Teknologi Modern
Strategi Baru Untuk Meningkatkan Keunggulan Kompetitif Dibuka Melalui Business Model Canvas Mahjong Ways
Kualitas Sistem Mahjongways Kasino Online Dipahami Melalui Identifikasi Nilai Pembayaran Game Penghasil Saldo DANA
Perspektif Baru Dalam Menganalisis Perkembangan Mahjong Ways Dibuka Melalui Modernisasi Strategi
Kasino Menjadi Studi Sistem Informasi Bagi Mahasiswa Melalui Pelatihan Enterprise Architecture
Mahjongways Kasino Online Dijadikan Acuan Strategi Marketing dalam Lingkungan Pemerintahan
Keamanan Informasi Jadi Fondasi Utama Layanan Konsultasi Kosmetik Berbasis Teknologi
Teknologi Pemantauan Membantu Mengukur Frekuensi Pembayaran secara Lebih Objektif dan Terukur
Kajian Statistik Pola RTP Menyoroti Perkembangan Teknologi Neural Sintetis Regulatoris
Simulasi Statistik Membuka Pendekatan Baru Memahami Mahjong Game Sungai Penuh secara Terukur
Statistik Objektif Membantu Membaca Pola Mahjong Game Sungai Penuh dengan Lebih Rasional
Strategi Mahjong Game Sungai Penuh Makin Terarah melalui Pendekatan Statistik Modern
Pendekatan Data Objektif Membantu Mengkaji Mahjong Game Saldo DANA Sungai Penuh secara Lebih Terstruktur
Mahjong Game Sungai Penuh Dikaji lewat Simulasi Statistik untuk Membaca Pola Aktivitas
Aturan Mahjong Digital dari Dua Kartu Awal hingga Penentuan Rentang Nilai Game Penghasil Saldo DANA
Pendekatan Adaptif MahjongWays Kasino Online Membantu Menjaga Keseimbangan Anggaran Hiburan
Kemunculan Simbol Unik MahjongWays Kasino Online Perlu Dibaca Secara Lebih Rasional
Mahjong Ways Menarik Minat Pemain di Tengah Ketatnya Persaingan Game Digital
Pengaturan Tempo MahjongWays Kasino Online Tidak Menentukan Munculnya Kombinasi Khusus
Starlight Princess Kembali Merebut Perhatian Pemain MBG Berkat Daya Tariknya
Membaca Pola Mahjong Ways dan Tren Permainan Lewat Data Saldo DANA Terbaru
Disiplin Mental MahjongWays Kasino Online Membantu Mencegah Keputusan Finansial yang Terlalu Impulsif
Mengenal Sweet Bonanza sebagai Game Digital Online dengan Tema Manis yang Menarik
Rotasi Awal MahjongWays Kasino Online Bukan Tolok Ukur Kemurahan Sistem Permainan
Menelusuri Strategi Terbaik dalam Bermain Game Penghasil Saldo DANA Secara Lebih Mendalam