Minggu, 26 April 2026
Agama  

Ikhtiar dan Tawakkal: Berguru pada Burung-Burung

Hayyun Nur. Foto: Istimewa


Oleh : Hayyun Nur

Suatu ketika, Rasulullah melihat seseorang meninggalkan untanya. Ditinggalkan begitu saja. Tanpa terlebih dahulu menambatkan talinya.
Melihat itu, sang Rasul serta merta menegurnya. “Mengapa untamu tak engkau ikat sebelum ditinggalkan. Tak takutkah engkau bila unta itu lepas, pergi, dan hilang”.
Orang tersebut menjawab, “Saya bertawakkal hanya kepada Allah”.
Mendengar jawaban polos itu, Rasul tersenyum. Lalu dengan bijak dan lembut berkata, “Ikatlah untamu terlebih dahulu. Sesudahnya barulah engkau bertawakkal”.
Sikap seperti si pemilik unta itu, hari-hari belakangan nampak kembali bermunculan. Ketika menyikapi pandemi Covid-19 ini. Ada banyak orang bersikap persis sama dengan si pemilik unta. Sikap tawakkal zonder ikhtiar. Diekspresikan dalam berbagai bentuk ungkapan verbal. Semisal: “Virus Corona itu ketetapan Allah. Tidak perlu takut pada Corona, takut itu hanya pada Allah”.
Sikap dan ungkapan sejenis tidak berasal dari orang awam saja. Tokoh-tokoh agama pun turut ikut meramaikan suasana.
Dalam suatu kesempatan, misalnya, seorang tokoh agama begitu bersemangat mengatakan, baru satu macam virus Corona datang, seluruh dunia geger. Kenapa harus takut pada Corona. Kita hanya takut kepada Allah.
Sampai ketika fatwa MUI terkait Covid-19 akhirnya ditetapkan. Sikap serupa masih saja mengemuka. Fatwa MUI Nomor 14 Tahun 2020 itu segera saja direspon negatif oleh pihak yang kontra. Poin fatwa tentang peniadaan shalat berjamaah di masjid, paling banyak disorot.
Tak tanggung-tanggung. Reaksi keras bahkan datang dari seorang tokoh. Tak sekedar heran dengan fatwa MUI. Ia malah menuding fatwa itu mengindikasikan ada phobia kepada masjid. Menurutnya, masjid justru tempat paling aman bagi umat Islam. Untuk berlindung dari bencana. Termasuk dari ancaman penyebaran Covid-19.
Fatwa MUI berikut respon atasnya, merupakan bentuk dari sikap keagamaan. Pernyataan-pernyataan beraroma fatalistik itu, juga sikap keagamaan. Sikap beragama, cerminan dari pemahaman keagamaan. Ini soal teologis. Terkait dua konsep teologis sekaligus. Ikhtiar di satu sisi. Tawakkal di sisi lainnya.
Istilah ikhtiar berakar dari kata Arab. “Khairun”. Berarti sesuatu yang terbaik. Perubahan kata ‘khairun’ menjadi ikhtiar membawa implikasi makna. Dari kata sifat yang pasif menjadi kata bermakna kerja aktif. Kata ikhtiar lalu berarti kerja aktif memilih satu kemungkinan terbaik. Memilih yang terbaik dari sekian banyak kemungkinan yang tersedia. Proses ikhtiar dengan demikian membutuhkan pengetahuan. Penentuan alternatif terbaik dari sekian banyak pilihan, di dalam mekanisme ikhtiar, meniscayakan itu.
Fatwa MUI itu jelas merupakan wujud dari ikhtiar. Hasil dari suatu proses memilih kemungkinan terbaik. Di antara berbagai pilihan yang ada. Itulah pilihan terbaik yang telah diambil. Sesuai konteks persoalan yang dihadapi. Dalam hal ini Covid-19.
Peniadaan shalat berjamaah di mesjid melalui fatwa itupun demikian. Itu pilihan terbaik. Diambil setelah memilah-milah berbagai pilihan. Menjadi alternatif terbaik untuk mengatasi penyebaran Covid-19. Demi melindungi keselamatan umat. Itulah wujud ikhtiar paling maksimal yang bisa dilakukan. Setelah ikhtiar maksimal, barulah klaim tawakkal dapat diseruakkan.
Ibarat lelaki pemilik unta di zaman Rasul. Fatwa MUI itu tak ubahnya sebagai ikhtiar menambatkan tali Unta. Bukan saja agar Unta tak hilang sia-sia, melainkan agar keselamatan umat terjaga. Agar tak ada umat yang kehilangan nyawa sia-sia. Akibat lalai dari ikhtiar menghindarkan diri agar tak terpapar covid-19
Respon negatif terhadap fatwa MUI yang muncul kemudian. Juga berbagai pernyataan fatalistik yang muncul sebelum atau sesudahnya. Dapat pula diletakkan pada konteks konsepsi teologis ikhtiar dan tawakkal ini. Secara sebaliknya.
“Tidak perlu takut pada Corona. Takut itu hanya pada Allah”. Pernyataan seperti ini sekilas nampak seolah benar. Padahal sejatinya secara logika dan teologis jelas keliru. Benar, orang beriman memang harus hanya takut pada Allah. Tapi membandingkan Kebesaran Allah dengan makhluk ciptaan sekecil Corona, tentu suatu cacat pikir sangat fatal. Logis maupun teologis. Intelektual pun spiritual.
Jelas pernyataan dan sikap seperti ini, bertentangan dengan konsepsi ikhtiar dan tawakkal tadi. Bahwa tidak ada tawakkal tanpa ikhtiar. Karenanya, bertentangan pula dengan perintah Nabi kepada lelaki pemilik Unta itu.
Padahal semestinya manusia tidak boleh kalah dengan burung dalam ikhtiar dan tawakkal. Jangan-jangan manusia malah perlu berguru pada burung-burung untuk ini.
Bagaimanakah ikhtiar dan tawakkalnya burung-burung? Nabi Muhammad Saw menggambarkannya dengan indah. “Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah. Dengan sesungguhnya. Pastilah kalian akan dilimpahi rezki sebagaimana burung-burung. Mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar. Lalu pulang sore hari dalam keadaan kenyang.”
Maka, tawakkal zonder ikhtiar bukanlah tawakkal. Melainkan kekonyolan. Sebuah kenaifan spiritual.*

gamespools

aceplay99

dewaslot88

slot anti rungkat

ace99play

slot777