Minggu, 5 April 2026
Agama  

Tetaplah Fokus pada Tujuan

Nurkhairi. Foto: istimewa

Oleh Nurkhairi  (Kepala Seksi Bimas Islam Kemenag Kabupaten Buol)

Ramadhan akan segera berlalu meninggalkan kita. Digantikan oleh kehadiran Idul Fitri yang sudah tampak di depan mata. Aroma kehadirannya semakin terasa, walau cita rasa yang disuguhkannya bakal berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Semuanya tidak terlepas dari kehadiran Covid-19 yang menyertai hingga akhir Ramadhan tahun ini.

Sayup-sayup, seakan Ramadhan membisikkan pesan syahdu yang merasuki sukma.  “Selamat tinggal wahai orang-orang yang beriman. Terima kasih karena kalian telah mengisi hari-hariku dengan semangat membaja berburu taqwa. Insya Allah tahun depan aku akan kembali hadir menjumpai kalian. Akan tetapi jika ternyata kalian telah tiada, karena telah berpulang menghadap Yang Maha Kuasa, Insya Allah aku akan setia menanti kalian di pintu surga.”

Kenangan spiritual selama bersama Ramadhan dalam setiap jiwa, bisa jadi nantinya akan berbeda-beda. Tergantung pada bagaimana pemaknaan dan apa yang telah dilakukan selama bersama Ramadhan. Keindahan suatu kebersamaan tidak selalu ditentukan oleh seberapa lamanya menjalani hidup bersama. Melainkan lebih ditentukan oleh seberapa besar kebersamaan tersebut terisi dengan aktivitas yang berkualitas sehingga mengesankan dan bermakna.

Ibadah puasa pada hakekatnya bukanlah tujuan, melainkah lebih merupakan sarana untuk mencapai tujuan. Tujuan utama puasa Ramadhan adalah menjadikan pelakunya sebagai orang-orang yang bertaqwa. Demikian spirit yang dapat diambil dari firman Allah dalam QS. Al-Baqarah (2): 183.

Perjuangan dalam meraih tujuan, tidak akan pernah sunyi dari aral melintang. Mulai dari yang terlihat berat dan menyeramkan. Hingga yang tampak sepele tapi melenakan dan membahayakan. Jika tidak berhati-hati, tujuan yang ingin dacapai akan jadi berantakan. Bukankah telah banyak orang yang terpeleset dan terjatuh hanya karena menginjak kulit pisang yang sepele dan tidak pernah diperhitungkan. Tetap fokus pada tujuan akan membantu konsistensi kita dalam menggapai hasil dari suatu perjuangan. Menarik untuk disimak kisah berikut ini:

Seorang direktur perusahaan, sebut saja namanya Arul, yang berdomisili di kota Malang. Dia dijadwalkan menghadiri rapat penting esok hari di salah satu hotel berbintang yang ada di kota Jakarta. Perjalanan menuju Jakarta dipilihnya penerbangan Garuda dengan nomor penerbangan GA: 0313 pada pukul 11.10 WIB. Untuk menghindari macet di jalan, diputuskannya berangkat pukul 05.00 WIB menuju Bandara Juanda Surabaya menggunakan mobil perusahaan. Setibanya di Bandara, dia masih memiliki banyak waktu untuk bersantai menunggu keberangkatan pesawat. Guna  mengusir kejenuhan, ia berjalan-jalan di sekitar bandara sembari menyaksikan hiruk-pikuk yang ada. Tiba-tiba tatapan matanya tertuju pada sebuah timbangan elektronik canggih yang dapat mendeteksi dengan tepat identitas, tujuan perjalanan, dan kendaraan yang digunakan, berikut jam keberangkatan seseorang yang menggunakannya. Cukup dengan memasukkan tiga keping uang logam seribuan ke dalam timbangan tersebut.

Diapun mencobanya, betapa terkejutnya saat layar kecil pada timbangan tersebut tertulis: “Nama anda Arul, umur 46 Tahun, tujuan perjalanan anda Jakarta dengan penerbangan Garuda, nomor penerbangan GA: 0313 pada pukul 11.10 WIB.

Merasa penasaran, Arul bergegas menuju toilet untuk mengganti topi dan pakaian yang dikenakannya. Dia bermaksud untuk mengecoh timbangan elektronik itu dengan cara merubah penampilannya. Setelah selesai dia kembali menghampiri timbangan elektronik tadi. Tidak berselang lama, dengan cekatan dia telah berada di atasnya sambil mengisi tiga keping uang logam seribuan. Layar kecil pada timbangan kembali menampilkan tulisan yang sama seperti sebelumnya.

Arul semakin penasaran dan keinginannya untuk mengecoh timbangan elektronik tersebut kian menggebu. Dia tidak kehabisan akal. Sejurus kemudian pergi ke salon yang tidak jauh dari tempat timbangan berada. Dia meminta agar rambut dan kumisnya digunting, serta dipasangkan stelan jas lengkap plus kacamata.

Setelah selesai, dihampirinya kembali timbangan elektronik. Kali ini dia yakin bahwa timbangan tersebut pasti akan terkecoh dengan penampilannya. Sesaat setelah tiga keping uang logam dimasukkan, layar kecil pada timbangan tersebut spontan menuliskan jawaban yang kalimat awalnya sama persis dengan sebelumnya: “Nama anda Arul, umur 46 Tahun, tujuan perjalanan anda Jakarta dengan penerbangan Garuda, nomor penerbangan GA: 0313 pada pukul 11.10 WIB.

Tetapi ada tambahan kalimat terakhir berwarna merah yang sangat mengejutkannya. Serasa tidak percaya sambil setengah membelalakan mata, dibacanya tulisan itu: “Pesawat yang akan Anda naiki telah berangkan 6 menit yang lalu.” Arul spontan berteriak melampiaskan kekesalannya sehingga menyebabkan banyak pasang mata terbelalak menatapnya dengan penuh keheranan.

Arul hanya mampu menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Menyesal sudah tidak tidak berguna. Dia sendiri tidak mengerti, bagaimana timbangan elektronik canggih itu telah menyita perhatiannya. Sehingga menyebabkannya gagal fokus pada tujuan utama. Agenda besar perusahaannya yang ada dalam tanggung jawabnya buyar seketika.

Jangan sampai kita mengalami nasib yang sama seperti Arul. Gagal mencapai tujuan utama dari ibadah puasa hanya karena terjebak pada kesibukan yang tidak sebenarnya tidak dibutuhkan atau bersifat seremonial belaka.

Dengan demikian, menjadi penting adanya bagi setiap orang yang berpuasa agar tetap fokus pada tujuan dari ibadah yang dilakukannya. Terlebih saat menjelang Idul Fitri, begitu banyak pernak-perniknya yang melenakan. Kadang kala menyebabkan tidak sedikit orang yang kemudian gagal fokus pada tujuan utama puasa Ramadhan yang dikerjakan. Jika selama Ramadhan orang harus berjuang untuk membentuk skill ketaqwaan dengan jalan mengendalikan hawa nafsu dan membentuk kegemaran beramal kebajikan. Maka, bukan berarti pasca Ramadhan perjuangan telah usai.

Idul Fitri lebih merupakan pintu gerbang memasuki babak baru perjuangan merealisasikan dan merawat skill ketaqwaan yang telah dibentuk selama Ramadhan. Jika Ramadhan diibaratkan waktu menempuh pendidikan, maka Idul Fitri lebih merupakan hari awal merealisasikan ilmu yang telah didapatkan. Itulah di antara sebabnya, mengapa ketika memasuki malam Idul Fitri dan hari-hari awal bulan Syawal begitu banyak amalan wajib maupun sunnah, yang identik dengan kebiasaan saat Ramadhan. Misalnya: Zakat Fitrah, Takbiran, salat Id, bersilaturahmi, menjamu tamu, dan puasa Syawal. Tuntunan syariat ini selain sebagai ibadah, juga dapat dimaknai sebagai peringatan. Jangan sampai kebiasaan bersedekah, berzikir, menjaga salat wajib maupun sunnah, berpuasa, dan amal saleh lainnya, yang telah dibentuk selama Ramadhan berlalu begitu saja seiring dengan kepergian Ramadhan.

Taqwa sebagai tujuan utama ibadah puasa, tidak cukup hanya dibuktikan dengan kata-kata. Melainkan menuntut perilaku secara nyata. Jika tidak, maka bagaikan tebu yang kehilangan rasa manisnya. Terlebih sekarang ini, di saat daerah, bangsa, dan Negara kita dilanda pandemi Covid-19 yang entah kapan berakhirnya. Orang-orang yang bertaqwa akan terlihat dengan jelas dari tutur kata dan perilakunya. Mereka tidak hanya terbiasa sujud dengan derai air mata. Tetapi juga memiliki kepekaan sosial yang luar biasa. Mereka tidak mampu berdiam diri melihat derita yang menimpa sesama. Tanpa dimintapun akan mengulurkan tangan memberikan bantuan sesuai dengan kemampuan yang dapat dilakukan.

Secara singkat dapat dikatakan, bahwa berbuat kebajikan menjadi kegemaran yang sangat menyenangkan bagi orang-orang yang di dalam jiwanya terpateri nilai-nilai ketaqwaan. Bagi mereka kebahagiaan hidup di dunia harus ditebarkan kepada sesama. Mereka enggan menuju surga sendirian, apalagi mengaplingnya seakan milik pribadi. Melainkan berusaha untuk mengajak sebanyak mungkin umat manusia agar dapat bersama-sama meniti surga dan menikmatinya. Mereka tidak pernah risau apakah yang dilakukan mendapatkan perhargaan atau hinaan. Harapannnya hanya agar Allah ridha terhadap mereka dan memaafkan atas segala kesalahan dan kekurangan mereka. Harapan itu selalu menghiasi dan membasahi lisan mereka, mewujud dalam zikir selama Ramadhan. Tidak hanya sesaat menjelang berbuka, seusai salat Tarawawih dan Witir, atau di kala berburu Lailatul Qadar saja. Tapi di setiap detak jantung dan keluar masuk tarikan nafasnya. Bahkan terbawa terus hingga akhir hayatnya.

Allaahumma innaa nasaluka ridlaaka wal jannah, wa na’udzubika min sakhathika wannaar. Allaahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annaa yaa kariim. (” Ya Allah, kami memohon kepada Mu keridhaan-Mu dan syurga. Dan kami memohon perlindungan kepada Mu dari murka-Mu dan azab neraka. Engkau Maha Pengampun, menyukai orang yang meminta ampunan, ampunilah kami Wahai Dzat Yang Maha Pemurah)”.

Akhirnya, marilah selalu saling mengingatkan dan menguatkan untuk tetap fokus pada tujuan dari ibadah puasa yang kita kerjakan. Hal tersebut diperlukan agar saat Ramadhan berlalu kita sukses meraih predikat taqwa. Sekaligus dapat merealisasikannya secara nyata dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara saat Ramadhan meninggalkan kita. Semoga perlindungan dan hidayah Allah senantiasa menyertai kita. Dan semoga Allah berkenan segera mengangkat covid -19 dari daerah, bangsa dan Negara kita. Amin. ***