Senin, 6 April 2026
Opini  

Sulteng Butuh Figur yang Mau dan Bisa Re-Orientasi

Dr. Hasanuddin Atjo, MP. Foto: Istimewa

Oleh Hasanuddin Atjo

Pilkada Sulteng pada tahun 2020 yang akan memilih gubernur, bupati, wali kota dinilai oleh sejumlah orang merupakan pilkada yang strategis dan menentukan arah pembangunan serta kemajuan Sulawesi Tengah kedepan.

Setidaknya ada empat poin penting yang akan menjadi tantangan bagi peserta kontestasi pilkada yang terpilih, untuk selanjutnya membawa keluar daerah ini menjadi lebih baik dan lebih maju sehingga bisa menjadi bagian dari Indonesia hebat di tahun 2045. Dan saat itu PDB Indonesia diprediksi mencapai $US 5 triliun dari $US 1 triliun di tahun 2019, serta pendapatan per kapita naik dari $US 4.000 menjadi $US 23.000.

Pertama, adalah dampak bencana alam gempa bumi, tsunami dan liquifaksi yang terjadi pada 28 September 2018 yang menelan ribuan korban jiwa, hancurnya sejumlah infrastruktur dasar serta berhentinya aktifitas sejumlah sektor usaha. Dan hingga kini masih dalam proses recovery.

Kedua, pandemic Covid-19 telah berdampak terhadap tutupnya sejumlah sektor usaha, adanya pemutusan hubungan kerja atau PHK, menurunnya pertumbuhan ekonomi dan PDB, Produk Domestik Bruto. Secara nasional per Juni tahun 2020 jumlah tenaga kerja yang PHK dan dirumahkan mencapai 4 juta di sektor formal dan 9 juta nonformal. Pertumbuhan ekonomi -0,3 persen, dan diperkirakan kehilangan PDB antara 3000-4000 triliun rupiah.

Ketiga, UU nomor 2 tahun 2020 antara lain memberi amanat untuk sementara waktu dimulai tahun 2021 bantuan terkait dana desa dihentikan. Secara nasional dalam lima tahun terakhir telah digelontorkan dana sekitar 250 triliun rupiah dan di Sulteng mendekati angka 7 triliun rupiah. Lahirnya UU ini memberi indikasi bahwa memang Negara akibat pandemic Covid-19 telah mengalami krisis keuangan.

Keempat, disinyalir konversi hutan yang diperuntukkan bagi pengembangan sektor perkebunan, tambang dan kepentingan lainnya dinilai kurang terkendali, sehingga pada beberapa kabupaten, kini rawan dengan bencana banjir, tanah longsor yang setiap saat mengacam. Apalagi pengaruh global worming, kondisi cuaca dan iklim sulit diprediksi.

Karena itu figur yang terpilih dalam Pilkada Sulteng di tahun 2020 ini diharapkan adalah yang mau dan bisa melakukan re-orientasi, yaitu dimulai dengan arah kebijakan pembangunan lima tahunan, rekruitmen kabinetnya, desain maupun implementasi fiskal (desain penerimaan dan belanja serta implementasi) setiap tahunnya.

Tidak semua figur yang ikut kontestasi Pilkada dijamin mau dan bisa melakukan re-orientasi, ketika telah ditetapkan dan secara sah memenangkan Pilkada. Manusia pada hakekatnya memiliki tiga kepribadian yaitu Id, Ego dan Superego.

Id merupakan keinginan, dan semua orang normal tentunya memiliki kapasitas itu. Bahkan sering dijumpai keinginan itu datangnya menggebu-gebu tanpa diimbangi oleh kadar Ego dan Superego yang bisa mendukung keinginan itu.

Superego adalah “bagasi pikiran” seseorang. Makin besar isi bagasi pikiran dengan sebuah standar kualitas, maka Egonya untuk membuat keputusan semakin terkendali. Albert Enstain mengemukakan bahwa Ego=1/Knowledge. Beliau mengatakan bahwa “More the Knowledge Less the Ego, and Less the Knowledge More the Ego”. Maknanya bahwa semakin luas wawasan, pengalaman dan ketrampilan sesorang maka egonya akan semakin terkendali. Demikian pula sebaliknya. Apalagi saat ini diperhadapkan pada era industri 4.0, era digitalisasi yang memerlukan figur yang inovatif, adaptif dan update.

Rhenald Kasali di sebuah bukunya berjudul “Change Leadership” mengatakan untuk sebuah kemajuan diperlukan seseorang yang memiliki kapasitas “Change Leader” atau pemimpin perubahan dengan berpikir menggunakan cara-cara baru meninggalkan cara konvensional dan berani meninggalkan convert zona atau zona nyaman.

Dari uraian di atas tentunya perubahan menuju sebuah kemajuan mebutuhkan seorang pemimpin daerah dengan tiga kepribadian yang seimbang dan saling mendukung yaitu Id, Ego dan Superego. Tanpa tiga hal itu, maka perubahan dan kemajuan sulit digapai. Kontribusi dari pemilik hak usung dan masyarakat pemilik hak suara menjadi kunci untuk menuju ke arah itu. SEMOGA.