Minggu, 5 April 2026
Opini  

Menyelamatkan Pangan Keluarga di Era Covid

Rostiati Dg rahmatu. Foto: Istimewa

Oleh Rostiati Dg. Rahmatu

In the medium term, the question is : where does the world get more food from..?… Ideally, a big part of the supply response would come from the world’s 450 million smallholders in developing countries, people who just farm afew acres (The Economist).


PREDIKSI tentang kapan berakhirnya pandemi Covid 19 hingga kini belum ada titik terang. Data Driven Laboratory (DDL), Singapura University baru saja merilis sebuah laporan tentang wabah Covid 19 pada akhir April 2020. Laporan yg diberi judul, “When Covid 19 will be end” tersebut, mengungkapkan informasi, kapan setiap negara terjangkiti virus dan kapan berakhirnya (Priya, 2020). Waktu terlama adalah akhir Desember 2020.

Karena sifatnya prediksi maka akurasi kepastiannya tetap diragukan. Pertanyaannya, bila wabah ini berkepanjangan, apa yang akan terjadi ?. Banyak sektor terutama yang berkait langsung dengan jasa dan ketergantungan lainnya akan mengalami kesulitan. Salah satu atau satu satunya sektor yang perannya tidak bisa digantikan adalah pertanian.

URGENSI PERTANIAN

Kita boleh berjuang keras agar bebas dari Pandemi Covid ini, namun setelah sembuh atau sehat, tapi tidak punya makanan, pastilah celaka. Kekuatiran ini dikuatkan oleh informasi dan data akurat. WFP (Word Food Program) dalam laporannya ke PBB akhir Maret 2020, menyebutkan bahwa angka kematian karena dampak ekonomi akibat Covid, berlipat ganda dibanding kematian akibat langsung dari virus tersebut WFP, (2020).

Berdasarkan fakta ini maka hampir semua negara mengurangi atau menghentikan semua eksport hasil pertanian untuk menjaga ketersediaan pangan dalam negerinya. Untuk itu, iktiar kemandirian pangan dalam negeri kita pun, bukan cuma penting tapi mutlak dilakukan. Sekarang, haruslah dimulai sebelum terlambat. Penting, karena pertanian bukan hal yang instan. Dia butuh waktu, menam dan merawat dengan kesungguhan dan kesabaran sebelum panen.

Kementerian Pertanian RI menginformasikan bahwa, cadangan pangan, khusus beras masih tersedia selama ramadan (very, 2020). Bahkan berharap hingga akhir tahun 2020. Berita yang sedikit mengembirakan, namun waktunya sangat terbatas. Olehnya itu, iktiar budidaya padi harus terus digiatkan seiring ketidak pastian berakhirnya wabah tersebut. Di samping itu, konsumsi kita bukan hanya beras untuk karbohidrat. Tapi juga, sayur sayuran dan buah buahan (hortikultura) sebagai pemasok vitamin. Serta, Ikan dan daging (sumber protein).

PANGAN KELUARGA

Bruce mitchell, (ilmuan dari Waterloo university) yang pernah bekerja sama (join research and training selama 3 tahunan dengan PSL Universitas Tadulako, 1997), pernah melontarkan empat pikiran menarik. Rumusannya diuraikan dalam buku berjudul “Resources and Environmental Management”. Empat poin berfikir itu adalah : ketidak pastian (un certainty), compleksitas (conplexity), perubahan (change) dan konflik (conflict) (Bruce M., 2012). Inilah yg kita hadapi dalam mengelola kehidupan berkait dengan alam. Dan, covid 19 membuktikannya dengan sangat sempurna.

Untuk itu, maka semua pihak harus ikut serta menjadi solusi. Seluruh kabupaten kota harus mengambil peran partisipasi untuk saling mensubtitusi kebutuhannya hingga ke tingkat konsumsi keluarga. Langkah awal yang penting adalah memperkuat basis datanya. Sebagai contoh, perlu ada informasi yang akurat tentang jumlah penduduk dan kebutuhan pangannya. Potensi luas lahan dan areal layak tanamnya. Potensi produksi persatuan luasnya. Serta pola tanam yang sangat berkait dengan kondisi sarana irigasi dan saprodi lainnya. Realisasi produksi hingga saat ini.

Dengan begitu, semua daerah bisa mandiri menjaga kedaulatan dan ketahanan pangannya sendiri. Bila potensi lahan, baik sawah maupun lahan kering termasuk pekarangan terdata. Jumlah produksi per jenis, (terutama pangan dan hortikultura), per satuan luas dan per satuan waktu tersedia. Demikian pun jumlah kebutuhannya (konsumsi per kapita), maka kita bisa menentukan status kekurangan atau kelebihan pangan kita.

Selanjutnya, kita bisa merencanakan tindakan yang harus dilakukan untuk mengisi kekurangan atau mempertahankan ketersediaannya. Intinya, setiap keluarga harus punya makanan agar orang tidak mati karena lapar. Sebab, akibatnya lebih mengerikan dari bahaya Covid 19 itu sendiri.

REKOMENDASI

Beberapa pointer kegiatan awal yang harus diiktiarkan segera antara lain :

  1. Membangun komunikasi dan informasi antar stakeholder pertanian untuk menemukan kekompakan dalam menghadapi pandemi Covid 19.
  2. Melakukan pendataan yang akurat tentang potensi pertanian dan kebutuhan pangan hingga KR segment wilayah terkecil.
  3. Merumuskan langkah strategi bersama dalam membangun pertanian untuk skala jangka pendek dalam menghadapi wabah Covid 19, maupun jangka panjang untuk pertanian berkelanjutan.
  4. Merumuskan tindakan nyata dari setiap stakeholder, mengikuti alur kerja : siapa melakukan apa, bagaimana, dimana, kapan dan besaran biayanya (action plan).
  5. Memperkokoh solidaritas sosial dan modal sosial antar warga masyarakat hingga ke level rukun tatangga (RT).

Selanjutnya, ada beberapa usulan rekomendasi yang patut dijadikan agenda bersama antara lain :

1). Segera memberikan kredit lunak atau insentif kepada petani agar mereka sehat dan terus bersemangat. Dengan begitu, pada saat kita “stay at home”, mereka tetap di lahan dan terus menggarap lahan pertaniannya untuk makanan kita.

  1. Memastikan trasportase sarana produksi lancar dan dapat di akses oleh petani dengan mudah dan murah.
  2. Bila durasi pandemi makin tidak pasti, perlu tindakan luar biasa (extraordinary) dengan mendorong semua penduduk menjadi petani (total Agriculture movement), kontemporer ataupun jangka panjang.
  3. Revitalisasi gerakan tanam pekarangan di kota (urban farming), maupun di desa.
  4. Dorong pendaya gunaan kebun desa atau kebun kelurahan untuk komunitas dgn model padat karya. Masyarakat, dengan demikian, mendapat pekerjaan (social savety net), tapi dan atau produktif.
  5. Mengadakan lahan pertanian (bank land) milik pemerintah dengan pola bagi hasil secara adil dengan masyarakat petani penggarap. Ini sekaligus untuk menyelamatkan petani kecil yang rata rata di Indonesia hanya miliki 0,2 ha lahan pertaniannya.
  6. Perlindungan dan pemanfaatan terhadap hutan dan lahan pertanian dengan perhitungan-perhitungan yang cermat secara scientifik.
  7. Pertimbangan scientifik tersebut, dapat menggunakan pendekatan : Daya dukung daya tampung, jasa ekosistem, biodiversitas, analisa dampak, efisiensi pemanfaatan SDA dan kepekaan pada perubahan iklim.
  8. Mendorong pemerintah untuk konsisten dalam menjalankan hasil kajian dalam bingkai regulasi yang berlaku. (Dosen F-Pertanian Untad)