Minggu, 5 April 2026
Opini  

Bulan Dzuhijjah dan Bulan Kemerdekaan Indonesia

Muh. Ilyas. Foto: Istimewa

Oleh Muh. Ilyas ( Guru Sejarah SMA Islam Terpadu Wahdah Islamiyah )

Syariat agama Islam menetapkan tanggal 10 Dzulhijjah setiap tahunnya sebagai hari raya kaum Muslimin di seluruh dunia. Hari raya bagi orang-orang beriman adalah sebuah kemenangan yang tidak datang begitu saja, tetapi sepuluh awal bulan Dzulhijjah, Allah SWT telah menetapkannya sebagai hari-hari yang istimewa  di siang harinya di antara siang-siang di bulan yang lain. Hal ini diperkuat dengan Hadis Nabi Muhammad SAW, yang artinya “Tidak ada hari-hari yang di dalamnya amalan yang paling dicintai oleh Allah SWT kecuali hari-hari ini, yaitu sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.  Para sahabat bertanya “Wahai Rasulullah” apakah amal shaleh pada hari-hari tersebut lebih dicintai oleh Allah SWT dari pada jihad fisabilillah?” Ya” kecuali seorang yang keluar berjihad dengan jiwa dan hartanya kemudian tidak kembali dari jihad tersebut dengan sesuatu apapun” ( HR Bukhari ).

Puncak perjuangan sepuluh awal bulan dzulhijjah berada pada hari Arafah dengan diajurkannya untuk ummat Islam yang tidak berhaji melaksanakan puasa Arafah, maka momentum kemenangan ummat Islam dengan berhari raya Idul Qurban bukan sekedar simbolis an sich, tetapi hari raya kemenangan ini adalah sebuah warisan ilmu yang perlu dijaga dan dipertahankan. Karena bagi kita ummat Islam, setiap peristiwa kemenangan dasar panglimanya adalah ilmu. Karena dibalik kemenangan itu ada nilai ketaqwaan yang dasar ketaqwaan itu adalah ilmu, pengamalan dan kepatuhan terhadap perintah dan larangan dari syariat agama Islam.

Kisah Nabi Ibrahim AS yang telah tercatat dalam tinta sejarah ilmu adalah bentuk pengorbanan seorang hamba terhadap Tuhannya yang disifatkan sebagai ummat dalam kesendiriannya. Seperti dalam Quran surah An-Nahl ayat 120 disebutkan “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang ummat”. Kisah Nabi Ibrahim dan putranya Ismail AS telah mengajarkan ilmu kepada ummat Islam seantero dunia tentang arti pengorbanan dalam melawan hawa nafsu. Melawan hawa nafsu adalah bagian dari jihad yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim AS kepada kita semua. Dan, jihad melawan hawa nafsu bagi orang-orang beriman jalannya hanya ada empat, yakni menuntut ilmu agama, mengamalkan ilmu agama, menyebarkan ilmu, serta bersabar di atas ilmu yang benar.

Momentum bulan Qurban 1441 H yang bertepatan dengan bulan Kemerdekaan Indonesia 2020 Masehi juga harus tersikapi dengan ilmu tentang perjuangan pahlawan bangsa 75 tahun yang lalu. Salah satu aspek perjuangan yang tidak boleh terlupakan dalam benak generasi penikmat kemerdekaan adalah kehadiran ulama dan tokoh-tokoh yang lainnya dalam perjuangan mewujudkan Kemerdekaan Indonesia. Indonesia yang merdeka pada tanggal 9 Ramadhan 1346 H bertepatan dengan hari Jumat di bulan Agustus 1945 telah menjadi spirit bagi ummat Islam agar dimasa-masa sulit dalam era pandemi Covid 19 ini, agar melakukan perubahan-perubahan dari masa yang suram menuju masa bahagia, dan dari kemiskinan menuju kesejahteraan.

Perjuangan tokoh ummat Islam seperti panglima besar Jendral Sudirman yang merupakan salah satu pahlawan bangsa  yang melibatkan dirinya dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Hal terpenting yang bisa menjadi pelajaran bagi penikmat kemerdekaan Indonesia dari Jendral Besar Sudirman, bahwa beliau selain sebagai pahlawan beliau juga adalah seorang kyai serta pimpinan Tentara Nasional Indonesia ( TNI ). Identitas kyai dan pahlawan dalam ketokohannya bukan sekedar simbolis belaka, namun dalam beberapa catatan sejarah Jendral Besar Sudirman semasa hidupnya untuk menjaga negeri Indonesia, mengamalkan warisan ilmu yang bersumber dari Rasulullah SAW yakni dalam perjuangannya selalu menjaga diri dalam keadaan suci dengan menjaga wudhu. Jendral Sudirman juga selalu berusaha salat diawal waktu dan berbakti kepada kedua orang tuanya.

Kebiasaan baik dalam perjuangan salah satu tokoh dan pahlawan bangsa ini patut menjadi tauladan. Terlebih di bulan Kemerdekaan diawali dengan hari raya kemenangan ummat Islam, yang tentunya kisah sejarahnya adalah ketaqwaan seorang anak bernama Ismail dalam ketaatan secara totalitas kepada Allah SWT.

Dalam konteks menjaga warisan kemerdekaan Indonesia maka seyogyahnyalah generasi penikmat kemerdekaan menjaga warisan yang bersumber dari pahlawan, tokoh bangsa dan ulama yang telah berjuang dimasa lalu untuk menghadirkan keteraturan dalam berbangsa dan bernegara. Salah satu warisan yang perlu dijaga di negeri kita tercinta Indonesia, adalah Pancasila sebagai dasar Negara sepanjang hayat bangsa Indonesia. Mengapa Pancasila, karena tokoh Islam punya nilai historis dalam perumusannya sehingga dasar tersebut telah menjadi final. Sehingga tidak perlu ada lagi pihak secara politik untuk mengotak-atik dasar Negara Indonesia yang kehadirannya dijiwai oleh Islam.

Salah satu bukti penjiwaan Islam dalam kehadiran Pancasila sebagai dasar negara adalah hadirnya permata terbaik pada sila pertama Pancasila, yakni Ketuhanan Yang Maha Esa, serta diperkuat penjelasan oleh penulis buku Api Sejarah Bapak Ahmad Mansur Suryanegara, bahwa Bapak Proklmator Indonesia Ir Soekarno pernah memberi pesan semasa hidupnya, bila meninggal dunia kelak, agar dibungkus dengan bendera Muhammadiyah. Ada apa dengan bendera ormas tertua di Indonesia ini, sebuah isyarat bahwa dalam bendera Muhammadiyah terdapat dua kalimat syahadat yang secara tersirat makna, bahwa presiden RI pertama itu ingin diurus jenazahnya berdasarkan nilai-nilai Pancasila, yakni sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa. ***