PALU EKSPRES, PALU– Dampak pandemi Covid-19 mengakibatkan pertumbuhan ekonomi nasional saat ini terus menurun. Di triwulan (TW) II pertumbuhan ekonomi nasional sebesar -5,32 persen dan cenderung resesi. Beberapa faktor yang sangat berpengaruh adalah karena adanya kebijakan PSBB suatu daerah serta penurunan pertumbuhan mitra dagang luar negeri.
“Kita tunggu TW III, jika terkontraksi maka secara teknikal kita masuk resesi,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) RI, Kecuk Suhariyanto pada webinar Hari Statistik Nasional yang dilaksanakan oleh BPS Sulteng, Selasa (22/9/2020).
Kondisi pertumbuhan ekonomi nasional yang terkontraksi cukup dalam kata Kecuk, ternyata tidak dialami oleh Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng). Pertumbuhan ekonomi Sulteng pada TW II 2020 memang mengalami kontraksi tapi sangat tipis, yakni -0,06 persen. Sehingga, pertumbuhan ekonomi Sulteng jauh melampaui pertumbuhan ekonomi secara nasional.

Menurut Kecuk, peran ekspor Sulteng menyebabkan pertumbuhan ekonomi Sulteng terkontraksi tipis. Ekspor Sulteng tumbuh 53,64 persen dengan penyumbang terbesar adalah besi dan baja sebesar 87, 71 persen dari total ekspor Sulteng . “Komponen ini menjadi penahan kontraksi Sulteng di tengah pandemic Covid-19,” ujarnya.
Bahan bakar mineral menempati urutan ke dua penyumbang tersebsar pada struktur ekspor Sulteng, yakni 13,12 persen, disusul bahan kimia anargonik 2,10 persen, kakao dan olahannya sebesar 0,13 persen, serta berbagai produk kimia sebesar 0,14 persen.
Ia berharap ke depan pertumbuhan ekonomi Sulteng tidak melemah. Caranya, dengan melakukan hilirisasi dengan memperbanyak pembangunan smelter, serta diversifikasi produk ekspor dan pasar. Hal ini juga akan meningkatkan lapangan kerja, nilai tambah dan ekonomi berkelanjutan.
Tanpa upaya itu, ekspor Sulteng yang mengandalkan komoditas besi dan baja (Feronikel) akan menghadapi tantangan berat. Sebab, negara tujuan ekspor juga mengalami pelemahan pertumbuhan ekonomi. Selain itu, perang dagang juga akan sangat berpengaruh terhadap ekspor Sulteng, termasuk volatilitas harga. (fit/palu ekspres)






