Senin, 6 April 2026

Tiga Tahun Berturut-turut, Kota Palu Selalu Deflasi di Bulan September

PALU EKSPRES, PALU– Ada fenomena menarik mengenai deflasi untuk Kota Palu. Sejak tiga tahun belakangan ini, ibukota Provinsi Sulawesi Tengah secara berturut-turut mengalami deflasi pada setiap bulan September. Misalnya, pada September 2018, Kota Palu mengalami deflasi sebesar 1,22 persen. Selanjutnya, September 2019 juga mengalami deflasi sebesar 0,35, dan kembali mengalami deflasi 0,10 persen.
Sebagaimana rilis BPS Sulteng, Kamis (1/10/2020), deflasi sebesar 0,10 persen selama bulan September 2020 dipengaruhi oleh penurunan indeks harga pada kelompok transportasi sebesar 0,94 persen; serta kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,15 persen.
“Penurunan indeks harga pada kelompok transportasi dan kelompok makanan, minuman, dan tembakau ikut mempengaruhi sehingga Kota Palu mengalami deflasi sebesar 0,10 persen,” kata Kepala BPS Sulteng Dumangar Hutauruk melalui aplikasi google meeting, Kamis (1/10/2020).


Di luar dari dua kelompok tersebut kata Dumangar, mengalami kenaikan indeks harga. Misalnya, pada kelompok kesehatan mengalami kenaikan sebesar 0,60 persen; kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,23 persen; kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya 0,23 persen; kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 0,09 persen; serta kelompok pendidikan 0,01 persen.
“Di sisi lain, ada tiga kelompok tidak mengalami perubahan indeks harga pada bulan September 2020, yakni kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga; kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan; kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya; serta kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran,” kata Dumangar.
Terpisah, Kepala BPS Kota Palu, G. A. Nasser dihubungi, Kamis (1/10/10), mengatakan, deflasi Kota Palu sebesar 0,10 persen disumbangkan oleh andil kelompok transportasi sebesar 0,13 persen.
“Kelompok ini mengalami deflasi sebesar 0,94 persen atau terjadi penurunan indeks dari 105,91 pada Agustus 2020 menjadi 104,91 pada September 2020,” kata mantan Kabid Statistik Distribusi BPS Sulteng itu.
Menurutnya, dari empat subkelompok pada kelompok transportasi, satu subkelompok mengalami deflasi, dua subkelompok mengalami inflasi, dan satu subkelompok tidak mengalami perubahan indeks harga. Subkelompok jasa angkutan penumpang mengalami deflasi sebesar 4,39 persen. Sementara itu subkelompok pengoperasian peralatan transportasi pribadi mengalami inflasi
Kelompok lainnya yang memiliki andil terhadap deflasi Kota Palu adalah kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 0,04 persen. Kelompok ini pada September 2020 mengalami deflasi sebesar 0,15 persen atau terjadi penurunan indeks dari 108,25 pada Agustus 2020 menjadi 108,09 pada September 2020.


Dari tiga subkelompok pada kelompok ini, dua subkelompok mengalami deflasi dan satu subkelompok mengalami inflasi. Subkelompok makanan mengalami deflasi sebesar 0,51 persen, subkelompok minuman yang tidak beralkohol mengalami deflasi sebesar 0,03 persen. Sementara itu, subkelompok rokok dan tembakau mengalami inflasi sebesar 2,02 persen. “Secara keseluruhan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau pada September 2020 memberikan andil terhadap deflasi sebesar 0,04 persen,” ujarnya.
Adapun kelompok kesehatan; kelompok pakaian dan alas kaki; serta kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga; masing-masing memberikan andil terhadap inflasi sebesar 0,02 persen. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga memberikan andil terhadap inflasi sebesar 0,01 persen.
Beberapa komoditas yang memiliki andil terhadap deflasi September 2020 antara lain, angkutan udara 0,14 persen, ikan selar/tude 0,11 persen, bawang merah 0,03 persen, jagung manis 0,02 persen, kangkung 0,02 persen, telur ayam ras 0,01 persen, ikan mujair 0,01 persen, kol putih/kubis 0,01 persen, ikan asin nike/penja 0,01 persen, dan ikan kembung/gembung/banyar/gembolo/aso-aso sebesar 0,01 persen.
Sementara itu, beberapa komoditas yang memiliki andil terhadap inflasi September 2020 antara lain, rokok putih 0,03 persen, rokok kretek filter 0,03 persen, ikan layang/benggol 0,03 persen, obat dengan resep 0,02 persen, ikan bandeng/bolu 0,02 persen, cumi-cumi 0,02 persen, bayam 0,02 persen, emas perhiasan 0,01 persen, sawi hijau 0,01 persen, dan ikan ekor kuning 0,01 persen. (fit/palu ekspres)