Senin, 6 April 2026
Opini  

La Premiere Voyage

Bersantap lobster di Taliabu. Foto: Istimewa

(Menerobos Tantangan)

Oleh Muhd Nur Sangadji (muhdrezas@yahoo.com)

BAGIAN 3.

Lobsters ukuran kecil, sedang dan besar ada di piring yang sama. Satu yang sedang, telah dimakan tuan rumah, kepala Bappeda. Tersisa dua. Satu yang kecil, diambil pak Sekda. Tinggal yang paling besar. Saya ditantang mengambilnya. Gugup dan kuatir bercampur. Sebabnya cuma satu, kolesterol. Karena itu, saya tetap ambil tapi makan sedikit. Lalu, berikan ke mahasiswa.

Itu, satu dari komoditas biota laut, kekayaan pulau Taliabu. Ada berjenis ikan, rumput laut dan tentu saja, masih banyak yang lain. Di daratan ada perkebunan cengkih, kelapa, pala, jumbu mete dan coklat. Tumbuh di seantero pulau. Di dalam tanah ada barang tambang yang belum diekplorasi optimal. “Out let” komersialnya ada di dua provinsi untuk dua daerah, luwuk dan Bau bau atau Kendari. Bukan Ternate sebab terlalu jauh.

Tapi, armada transportasenya relatif tua. Khabarnya kecelakaan sudah sangat sering. Kepastian waktu tiba berangkat pun masih bermasalah (uncertainty). Kunjungan saya yang pertama ini membuktikan. Kapal yang saya tumpangi dari Luwuk sudah cukup mengkuatirkan. Pagarnya berkarat dan keropos. Namun, mahasiswa bilang, itu masih lebih bagus. Kata mereka, ada yang kamarnya sempit dan ditemani banyak kecoa. Tapi, saya tetap tegar dalam prinsip, “this traveling is my adventures”.


Memastikan jadwal kapal cukup sulit. Penantian yang paling menggelisahkan. Saya menunggu kapal dari hari Rabu. Khabarnya ada, padahal tidak. Jadwalnya ternyata hari Kamis. Menanti sejak sore. Sampai Jam 22.00 lewat belum ada kepastian. Infonya, kapal merapat sebanyak 6 kali dari satu pelabuhan ke pelabuhan berikutnya hingga tiba di Taliabu. Saya gelisah berat karena tiket pesawat sudah dibeli. Dan, agenda ceramah dengan kementerian perempuan di Palu sudah terjadwal. Untung, isteriku bisa menggantikan.

Ini tantangan real. Bagaimana kita bisa mengajak orang ke Taliabu kalau kualitas transportasinya masih rendah. Untuk kepentingan apa orang mengunjungi kita dengan kesulitan perjalanan yang mereka hadapi ?

Semuanya harus kita urai jawabannya secara sistimatis. Peta jalannya (road map) mesti di buat. Agar kita tahu kemana kita pergi. Bagaimana caranya ? Dan, kapan tibanya ? Pastilah, tujuh tahun terlalu singkat untuk bikin semua. Sebab, ini bukan perkaranya jin. “sim salabim, aba khadabra “. Bereslah semua. Akan tetapi, tujuh tahun itu adalah waktu yang terlalu lama untuk tidak bikin apa- apa. Minimal peletakan tapak untuk dituju.

Banyak hal yang perlu dilakukan. Bila disederhanakan berujung pada dua titik. Kualitas sumberdaya manusia dan penglolaan sumberdaya alam secara efektif dan efesien. Bagian pertama adalah SDM aparatur sipil negara. Mereka diamanahkan untuk mengelola. Kemudian SDM generasi melalui pendidikan.

SDM masyarakat umum tidak perlu terlalu dirisaukan. Mereka adalah pencontoh yang baik. Terpenting, tidak berkelompok atau dikelompokan secara politik. Itu, kontra produktif. Dan, itu pula adalah penyakit di era reformasi. Perlu dihindari atau dikelola untuk kemajuan bersama.


Berdasarkan pengalaman berceramah di PIM 3 untuk ASN. Saya mencatat SDM aparatur berkaitan ketrampilan teknis dan kepemimpinan dalam hal inisiatif dan keberanian mengambil keputusan. Masalah di sisi inilah yang membuat birokrasi bergerak lambat. Terpola pada tiga hal. Pertama, tidak pandai mengatur. Kedua, terlambat mengatur. Dan ketiga, tidak bisa lagi diatur.

Terjadi di aspek sosial maupun fisik. Ujungnya memproduksi bencana, baik sosial (konflik) maupun natural yang dipicu manusia (human acceleration). Pembangunan kita menjadi tidak efesien. Uang pajak dan lainnya yang dikumpul dengan susah paya. Hanya untuk membiayai ketelodoran (human error). Sengaja atau tidak.

Di bidang SDM generasi, sekolah menjadi tulang punggung. Sarana prasarana fisik dan non fisik seperti guru, patut diperhatikan. Bahan baku seperti murid punya potensi cerdas. Ini karena, alamnya menyumbangkan omega tiga berlimpah dari laut untuk dikonsumsi anak -anak. Saya masuk di sekolah lalu beri motivasi. Saya melakukan “exercise” kecil. Nomor Hp saya tinggalkan. Mereka diminta menghubungi saya, tapi pake bahasa inggeris. Dan, berikut ini adalah beberapa contoh. Saya memindahkan tulisan mereka tanpa merubah satu huruf pun.


Murid ini bernama Faris. Dia menulis begini : Assalammu’alaikum sir..
Introduce the name of Faris from SMKN 1 Talbar which you just visited..in advance, thank you for your visit to our school..and thank you also for telling us your experience and giving motivation to us students of SMKN 1 talbar..May your journey of sharing knowledge and motivation with all the students at the “other schools” you will be visiting will ease your steps and make your fortune easier..Thank you so much.. And..Ma’asalammah.

Satu lagi, bernama Rahmiyati. Dia menyapa dengan kata-kata berikut : Assalamu’alaikum pa.
My name is rahmiyati baharudin. I from smk N 1 taliabu barat. Thank you. becouse you I am happy speak english..naice to meet you😊 Thank you, doctor. Yes I will continue to use English in communicating with you, becouse you inspired me greatly in the English language, I was impressed, Our thanks again.

Ini lagi satu.Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Excuse me, sir. Am I interrupting? I am a student from SMK Negeri 1 taliabu barat. school you’ve ever visited. Sorry sir My name is Aini. I Want To Ask Sir, About Scholarship.

Anak-anak kita ini punya kemauan bagus. Motivasi menjadi kata kunci. Lalu, saya teruskan cerita ini ke Pak Rektor Universitas Tadulako. Beliau senang sekali dan langsung merespon. Beliau bilang, “Insya Allah kita harus beri perhatian khusus pada daerah terluar Indonesia. Semoga tahun depan ada yang mendaftar. Suruh mereka urus KIP. Kita akan beri beasiswa pembebasan UKT (spp)”.

Ini contoh bentuk keberpihakan afirmatif seorang pimpinan perguruan tinggi di tanah air yang patut diapresiasi. (BERSAMBUNG).