Senin, 6 April 2026
Opini  

The New Internasional Airport “Lapaloang”

Bangun Budaya Bahwa Anak adalah Investasi
Bangun Budaya Bahwa Anak adalah Investasi. Dr. Hasanuddin Atjo, MP. Foto: istimewa

Oleh Hasanuddin Atjo

Garuda Indonesia, GA 608 tujuan Jakarta dan transit Makassar pada Selasa, 13 Oktober 2020, take off sekitar pukul 16.00 Wita. Sengaja mengambil seat emergency 31 A dengan harapan bisa melihat dari udara posisi Kelurahan Ganti dan Boneoge Kecamatan Banawa.

Dan, memang terlihat bahwa sebagian dari wilayah pada kedua kelurahan itu, utamanya Boneoge berada di pesisir pantai, bersambung dengan pesisir pantai Tanjung Karang, salah satu objek wisata pesisir.

Dahulu “Lapaloang” adalah nama sebuah dusun yang berada di Desa Ganti, Kecamatan Banawa. Dan beberapa tahun lalu desa ini telah berubah status menjadi Kelurahan Ganti, wilayah Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, yang berbatasan dengan Kelurahan Boneoge. Lapaloang berada di ketinggian, merupakan sebuah kawasan datar dan di sekitarnya (Ganti dan Boneoge) tersedia areal diperkirakan sekitar 2500 hingga 3000 ha.

Berdasarkan kondisi geografisnya, kawasan Lappaloang sangat ideal dikembangkan menjadi bandara udara berkelas Internasional. Lima belas tahun lalu, Era Bupati Adam Arjad Lamarauna (Almarhum), Lapaloang digagas menjadi sebuah bandara, menggantikan bandara Mutiara. Dan gagasan ini kemudian ditindaklanjuti pada era Gubernur Paliudju-Achmad Yahya.

Dikarenakan terbatas narasi, antara lain belum terakomodir dalam RDTR RTRW, RZWP3K, RPJMD, ditambah lemahnya FS, Feasibility Studi, masterplan, rencana aksi, kurang diperjuangkan, serta dinilai belum mendesak, maka ide ini di saat itu belum bisa diakomodir pemerintah pusat menjadi sebuah program prioritas nasional.

Peresmian bandara udara, the New International Airport Yokyakarta, NIAY di pesisir Kabupaten Kulon Progo Jokyakarta oleh Presiden Jokowi April tahun 2919 lalu telah menjadi inspirasi, untuk kembali mengulas Lapaloang sebagai calon bandara International. Pasalnya, ada kemiripan dengan rencana pengembangan Lapaloang sebagai bandara Internasional.

Bandara NIAY berada di pesisir pantai Kulon Progo, berjarak sekitar 40 km dari Pusat Kota Joktakarta. Selain itu bandara NIAY mengganti peran bandara Adi Sucipto yang dinilai tidak relevan lagi dengan tuntutan perubahan antara lain tidak mampu melayani aktifitas ekonomi dan pariwisata serta aktifitas lainnya. Demikian pula halnya Lapaloang berada di pesisir, berjarak hampir 40 km dari kota Palu dan bisa mengganti peran Bandara Sis Al Jufrie.

Sejumlah kalangan berpandangan bahwa selain kondisi geografis, ada sejumlah faktor yang memperkuat Lapaloang diperjuangkan menjadi bandara Internasionsl antara lain: Pertama tersedianya kawasan datar sekitar 2500-3000 ha sangat dimungkinkan membangun satu kawasan berikat dengan kawasan lainnya seperti pariwisata Tanjung Karang Donggala, kawasan industri Mamuju Utara, Kawasan Industri Kota Palu. Bahkan terbuka peluang membangun Hotel, Mall, Restoran dan lainnya. Pendekatan seperti ini yang digunakan memperjuangkan. KEK Pariwisata Mandakika, NTB dan KEK Pariwisata Likupang Manado, sehingga lolos menjadi bagian dari program super prioritas 10 New Bali atau Bali Baru.

Kedua, kondisi bandara kelas satu Mutiara Sis Aljufri dinilai kurang relevan dikembangkan sebagai bandara Internasional dikarenakan terbatasnya lahan untuk kebutuhan perpanjangan landasan pacu, area parkir pesawat, apron bandara dan sarana penunjang lainnya termasuk pergudangan. Selain itu letak dari Mutiara Sis Al Jufrie diapit oleh dua perbukitan yang akan mempersulit akses dan manuver bagi pesawat berbadan lebar.

Ketiga adalah potensi sumberdaya alam Sulawesi Tengah di sektor pangan “Luxery” seperti lobster, udang, tuna, durian montong dan lainnya memerlukan akses cepat ke Negara tujuan. Juga akan menberi dorongan arus wisatawan masuk ke Sulteng karena selama ini masih menjadi destrinasi sekunder atau tersier. Selain itu akan merangsang minat investasi masuk di Sulteng baik dibidang pangan, pariwisata dan tambang. Dan tidak kalah pentingnya akan memangkas biaya haji yang minatnya cukup tinggi di Sulteng.

Keempat, adalah mendorong agar kabupaten Donggala yang telah “melahirkan” tiga anak yaitu Kota Palu, Kabupaten Parigi Moutong dan Sigi bisa keluar dari perangkap kabupaten tertinggal. Boleh jadi skenarionya ibukota kabupaten Donggala dipindahkan ke Tambu pesisir pantai barat Donggala dan Banawa sebagai ibukota Donggala dinaikkan statusnya sebagai kota Administratif “Banawa”. Kemudian untuk efisiensi maka transporatsi Banawa ke Tambu atau sebaliknya dihubungkan melalui trasportasi laut menggunakan kapal Fery yang akan menghemat waktu 3-4 jam dibanding melalui jalur reguler melalui kota Palu.

Kelima, bandara internasional “Lapaloang Donggala ” nantinya memperkuat sistem transportasi udara di Sulawesi dan Kawasan Timur indonesia. Antara lain akan menambah akses masuk maupun keluar bagi wisatawan dan investor.
mancanegara. Bisa jadi masuknya dari utara Sam Ratulangi Manado atau Selatan Sultan Hasanuudin Makassar dan keluarnya melalui tengah, Lapaloang Donggala atau sebaliknya.

Karena itu sudah saatnya Pemkab Donggala dan Pemprov Sulawesi Tengah kembali mereview gagasan yang pernah ada kemudian disusun dokumen sebuah perencanaan yaitu Feasibility Study, masterplan dan rencana aksi yang terukur dan implementatif. Harapan kita paling tidak pada tahun 2025 seluruh dokumen perencanaan sudah selesai termasuk pembebasan lahan. Dan kemudian priode tahun 2025-2030 merupakan proses pembangunan dan pemanfaatan bsndara Internasional itu.

Dukungan stakeholders, termasuk masyarakat serta wakil anggota parlemen dan senator daerah pemilihan Sulawesi Tengah menjadi faktor kunci merealisasikan ide ini. SEMOGA