Oleh Hasanuddin Atjo
Selasa Sore, 24 November, baru ada kesempatan menengok usaha yang ada di Sulawesi Selatan. Pada saat di ruang tunggu bandara Mutiara Sis Al Jufrie, dari kejauhan terlihat salah satu staf saya, di saat masih aktif berdinas di daerah ini.
Saya senyum dan tertawa kecil karena teringat dengan salah satu ciri khas yang bersangkutan di saat ditanya tentang tupoksinya yang sering tidak dilaksanakan secara tuntas, selalu diawali dengan kata “ siap salah” pak. Dan kemudian saya berkata dalam hati sambil senyum kecil ini akan menjadi judul artikel.
Seperti biasa setelah lampu panel seat belt berwarna hijau, android mulai dihidupkan dan menu mode pesawat diaktifkan , agar bisa menulis, tidak akan mempengaruhi signal komunikasi pilot dan copilot pesawat dengan menara kontrol di Palu atau di Makassar. Kata “Siap Salah” sering terdengar di saat masih aktif sebagai ASN. Dan saat itu kata-kata itu sangat populer dan sering digunakan oleh sejumlah staf bila melakukan satu kesalahan dan ditanyakan oleh atasannya. Bagai sebuah “senjata pamungkas”.
Menggunakan kata “siap salah” mungkin saja tidak merugikan siapa-siapa. Namun dalam pembentukan karakter atau soft skill menjadi penting dan strategis. Dan ini juga telah menjadi misi negara, yaitu melakukan revolusi mental karena telah menjadi salah satu hambatan dalam kemajuan.
Pertama, staf terbiasa untuk tidak bekerja sungguh-sungguh, tidak membiasakan yang benar karena berharap dengan modal kalimat “siap salah” atasannya akan luluh dan bisa jadi, tidak memberikan hukuman yang sesuai. Bila hal ini dilakukan secara berulang, maka staf itu merasa tidak bersalah, tidak ada beban bila tidak melaksanakan tupoksinya secara benar.
Kedua, dapat dipastikan “fighting spirit” atau semangat bertarung untuk menyelesaikan tantangan dan masalah pada tupoksinya tidak akan terbentuk, sehingga sejumlah peluang maupun kesempatan bagi kemajuan organisasinya tidak bisa dimanfaatkan dan terlewat begitu saja.
Sukses, menjadi impian dan cita cita semua orang. Kesuksesan itu adalah kegagalan yang berulang. Seseorang yang tidak memiliki fighting Spirit, sulit untuk sukses karena yang bersangkutan tidak akan pernah tergerak memperbaiki kesalahan yang diperbuat. Padahal kegagalan itu hakekatnya adalah sebuah kesuksesan yang tertunda.
Reputasi adalah salah satu status tertinggi dalam profesi ataupun keahlian seseorang. Kesuksesan yang berulang pada tempat dan waktu yang berbeda merupakan sebuah prestasi seseorang yang disebut dengan reputasi. Karena itu seyogianya budaya “siap salah” mulai ditinggalkan untuk sebuah perubahan bagi kemajuan.
Budaya membiasakan yang benar, tidak membenarkan biasa; Catat apa yang dikerjakan dan kerjakan apa yang dicatat adalah filosofi yang sederhana tetapi akan sangat bermanfaat dalam menggapai kesuksesan dan reputasi jikalau kita mau dan mampu merapkannya. SEMOGA






