Jumat, 15 Mei 2026
Opini  

Harinya Guru

Nur sangadji. Foto: Dok

Oleh Muhd Nur Sangadji

SUDAH 30 tahun lamanya saya menjadi guru. Baru sekarang mengetahui, bila guru pun punya hari jadi. Minggu lalu kita memperingatinya. Tanggalnya, 25 November.

Diperingati setiap tahun. Itulah tanggal yang ditetapkan berdasarkan hari lahirnya Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) pada tahun 1994. Sebelumnya, UNESCO telah menetapkan tanggal 5 Oktober 1994 sebagai hari guru sedunia.

Entah mengapa saya tidak pernah tahu sebelumnya. Barangkali karena saya berstatus dosen ? Tapi, saya juga tidak tahu apakah Dosen juga punya hari jadi..?


Bukankah dosen adalah guru ?. Mungkin ada yang tidak mau disamakan. Boleh jadi, karena nomenklatur UU juga membedakan guru dan Dosen. Lalu, mengapa saat menjadi profesor baharu mengakui statusnya sebagai guru. Malah ditambah kata “besar” atau “maha” setelahnya. Menjadi, “guru besar” atau “maha guru”. Mengapa bukan dipanggil “dosen besar” saja.

Sementara itu, makna kata professor itu sendiri adalah guru. Itulah sebabnya ada negara yang memanggil professor untuk guru. Mulai dari level SD hingga Perguruan Tinggi.

Karena itu, dalam banyak artikel yang saya tulis, saya menyematkan identitas sebagai guru kecil saja. Itu, sebagai anti tesis bagi demam memburu status professor. Diduga lantaran melambungnya tunjangan, meski kian beratnya prasyarat untuk mencapainya (lihat tulisan : They call me professor).


Di hari guru tahun 2020 ini, pikiran ku melayang jauh ke belakang. Kala itu tahun 2006, saya dan karib dosen, Abd Wahid serta Koa (activis NGO lokal). Kami jumpa satu sosok guru di tengah hutan. Pria paruh baya itu mengenakan celana pendek. Berjalan sendiri sambil memikul potongan kayu yang ujungnya bergantung tas kecil. Kakinya penuh lumpur hingga ke paha. Saya baru mengerti mengapa beliau memakai celana pendek ? Alamlah yang memaksa.

Medan yang dilaluinya sangat berat. Bergunung, berlumpur dan berbecek sedalam ukuran telapak hingga paha orang dewasa. Setiap hari begitu untuk jarak hampir satu kilometer.

Orang itu bernama Muhamad Nur. Identitas yang sama dengan nama saya. Laki laki asal Makasar ini telah bertugas selama 25 tahun di kawasan ini sebagai guru. Kawasan Kepulauan Togean, Kabupaten Tojo Una Una, Provinsi Sulawesi Tangah. Itu, tahun 2016. Artinya, sudah relatif 30 tahun pada 2020 ini.


Jabatan pak Nur adalah kepala sekolah sebuah SD di pedalaman Kecamatan Lebiti, Kepulauan Togean. Keadaan sekolah yang sangat sederhana. Tiang, dinding dan atapnya terbuat dari bahan yang ada di hutan sekitar.

Tidak banyak hal yang kami bincangkan. Namun sedikit info dan kesaksian ini sudah terlalu banyak menyimpan cerita tentang perjuangan sang guru ini. Di dekat sekolah, beliau bersihkan kaki dan tubuh di sungai kecil yang mengalir jernih. Lalu, mengenakan celana panjang dan masuk kelas. Mengajar sebagai guru.

Di perjalanan lanjut setelah kami berpisah, saya membasuh peluh. Peluh yang tidak sebanding dengan yang beliau cucurkan. Di air bening dekat kampung, saya berkaca. Terlihat wajah ku sangat lelah. Tapi, pasti tidak setara dengan lelahnya beliau.


Tiba-tiba, teringat bait puisinya Taufik Ismail tentang Kasim Arifin di Waimital, Pulau Seram, Maluku. “Ingin rasanya ku ludahi wajah ku sendiri di cermin air bening itu”. Saya malu kepada guru di pedalaman ini. Karena di kota, kita menjangkau sekolah dan kampus dengan mudah. Semua kendaraan kita punya. Itu pun disertai keluhan. Tapi, beliau..?

Di kota, kita juga sangat sibuk berlomba menghitung imbal jasa. Berkompetisi mengejar remunirasi. Padahal gaji kita lancar mendarat di rekening saban awal bulan.

Tapi, beliau dan sahabat guru senasib ? Mungkin, tiga bulan sekali. Sering juga penuh dengan potongan. Saya makin malu bercampur sedih dan kecewa.

Maka di hari guru ini, ingin sekali saya merenung dan berkata. Tentang sematan apresiasi untuk guru. Mereka adalah “pahlawan tanpa tanda jasa”. Namun, kepantasan itu, mungkin, belumlah layak untuk saya dan kita. Walahu alam bi syawab. ***

gamespools

aceplay99

dewaslot88

slot anti rungkat

ace99play

slot777

Penyusunan Arah Digital yang Lebih Efisien melalui Kajian Rinci pada Ritme Bermain Akurat
Kebiasaan Pemain Saat Ini Makin Sering Ditelusuri demi Merancang Taktik Main Lebih Efisien dan Terstruktur
Mekanisme Adaptif Gates Of Olympus Perlahan Mengubah Alur Respons dan Memunculkan Formasi Baru yang Lebih Dinamis
Pendekatan Pengendalian Risiko dalam Game Online Viral lewat Pemantauan Skema Kemenangan
Perkembangan Media Sosial Terkini Dinilai Membuat Tampilan Feed Pengguna Majong Ways 2 Kian Beragam
Taktik Bermain Game Online
Sugar Rush
Gameplay Interaktif
Sistem Permainan Modern
Mahjongways Kasino Online
probabilitas game soft
pola Mahjong Ways 2
elemen slot online
interaksi pemain game modern
strategi bermain terukur
Mahjong Wins 3
Starlight Princess 1000 online
pendekatan rasional game
pola slot online
engagement pengguna game online
Strategi Kinerja Game Online Berbasis Statistik yang Memperlihatkan Gameplay Pola RTP Lebih Terukur, Efisien, dan Mudah Dibaca
Inovasi Teknologi Modern Mendorong Penataan Distribusi Probabilitas Game demi Pengalaman Bermain Lebih Berkualitas
Pembacaan Observatif pada Mahjong Digital Memperlihatkan Konsistensi Struktur Sesi dalam Ritme Permainan Modern
Sistem Tumble Progresif Menjadi Acuan Membaca Simbol Kemenangan dan Dinamika Kombo Gameplay Digital
Pemetaan Sosial Pemain Mahjongways Kasino Online melalui Observasi Visual dan Stabilitas Respons Sistem
Keterlibatan Pemain Mahjongways Kasino Online Ditinjau dari Relasi Simbol dan Stabilitas Respons Permainan
Visualisasi Interaksi Mahjongways Kasino Online untuk Menafsirkan Dinamika Simbol serta Respons Permainan Harian
Pemantauan Dinamis Bulan Ini Menghadirkan Pembacaan Baru soal RTP PGSoft dan Gameplay Terukur
Landasan Rasional Mahjong Ways 2 melalui Pengamatan Fase Visual dan Karakter Permainan
Ulasan Mahjong Ways 2 tentang Pergeseran Ritme serta Stabilitas Interaksi Sistem Permainan