Minggu, 5 April 2026
Opini  

Debat Pilgub Sulteng, Cudi Ungkap Diskusi Enam Tahun Lalu

Hasanuddin Atjo bersama beberapa investor meninjau rencana pembuatan tambak supra intensiv vaname. Foto: istimewa

Oleh Hasanuddin Atjo

Tanggal 3 Desember 2020 menjadi debat terakhir Pilgub Sulteng 2020 yang diikuti Paslon nomor urut 1, Hidayat Lamakarate-Bartholemeus Tandigala dan Paslon nomor urut 2, Rusdy Mastura-Makmun Amir. Saya tidak mengikuti secara penuh, tetapi menangkap point-point kunci untuk menjadi bahan ulasan.

Disaat moderator membacakan pertanyaan terkait sumberdaya kelautan Sulawesi Tengah, saya teringat enam tahun lalu, saat bertemu dengan pak Rusdy Mastura dalam sebuah kesempatan memanen udang vaname teknologi Supra Intensif di Kelurahan Mamboro, Kota Palu, milik Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah.

Beliau bertanya: Pak Doktor!, kira kira bagaimana skenario majukan sektor kelautan dan perikanan kita yang begitu luas?. Dia meneruskan pertanyaan dengan bersemangat, karena melihat kolam udang yang ukurannya 400 meter persegi bisa menghasilkan udang jenis Vaname hingga 5 ton. Ini luar biasa imbuh pak Cudi.

Begini pak Cudi, Sulawesi Tengah ini sesungguhnya memiliki potensi yang luar biasa, dan harusnya kita tidak banyak yang miskin, kita punya PAD bisa lebih baik. Paling tidak ada tiga sektor yang harus kita dorong secara paralel bersama dengan 13 kabupaten/kota. Kita tidak bisa lagi bekerja sendiri.

Tiga sektor itu berkaitan dengan produksi pangan (ikan, tanaman pangan-hortikultura , kebun dan ternak).; Pariwisata dan ; Tambang (gas, nikel dan batuan lainnya). Dan yang bisa menjadi “obat” untuk mengurangi jumlah orang miskin secara cepat, maka mau tidak mau kita harus mau kembangkan sektor pangan, dan pariwisata berbasis kerakyatan dengan pendekatan industrialisasi.

Sektor tambang diarahkan sebagai sumber perbaikan kapasitas fiskal kita (kemampuan belanja daerah) yang masih rendah. Dan kita ada di peringkat antara 20 – 30 dari 34 Provinsi di Indonesia. Pak Cudi bisa bayangkan disamping kemampuan belanja daerah yang rendah, porsi anggaran APBD setiap tahun untuk sektor pangan maupun pariwisata kurang dari 6 persen.

Karena pengembangan itu berbasis rakyat, pendekatan industrialisasi maka infrastruktur, pengembangan sumberdaya manusia menjadi point penting. Pembangunan pendidikan Vokasi seperti SMK harus menjadi prioritas. Nantinya nelayan kita pergi menangkap ikan sudah pakai informasi digital, sudah pakai GPS, Fsh Finder, dan informasi satelit terkait dengan gerombolan ikan maupun informasi cuaca. Demikian pula dengan pelaku-pelaku usaha jasa pariwisata sudah masuk ke tuntutan industri digital.

Saya perhatikan semua yang ada saat itu pada terpukau mendengar penjelasan saya . Dan Pak Cudi saya lihat matanya berbinar-binar, karena salah satu hobinya adalah tentang teknologi, kemajuan rakyat dan daerah. Saya jelaskan bahwa di depan kita ini , dari luas kolam 400 meter persegi, “pinjam air laut” dan karena teknologi hasilnya bisa mencapai 5. 000 kg. Belum lagi kalau bicara rumput laut. Itu dia kata pak Cudi, sambil menikmati udang rebus bersama sambalnya.

Sektor Pariwisata kita juga harus direvitalisasi mulai mindset berpikir

hingga skenario pengembangan. Sulteng ini begitu kaya dengan potensi wisata kelas dunia, namun belum dieksplor secara modern disesuaikan dengan keinginan wisatawan mancanegara .

Kita memiliki potensi Togian island sebagai pusatnya terumbu karang dunia, Coral Trianggle. Belum lagi Sombori Island Morowali yang selevel Raja Ampat Papua. Ini harus dijual dan dijadikan sebagai salah satu lokomotif ekonomi. Karena itu, kita membutuhkan konsultan reputasi Internasional untuk merancang pengembangan sektor pariwisata Sulawesi Tengah.

Karena keterbatasan anggaran, maka dalam membangun Sulawesi Tengah, seyogianya menggunakan filosofi “kereta kuda”. Maknanya bahwa Provinsi ini akan ditarik oleh 13 kabupaten/kota. Peran provinsi adalah merancang desain atau rencana induk pengembangan dan kabupaten/kota menyusun master plan rencana Induk itu.

Provinsi harus membatu kabupaten dan kota dari sisi anggaran. Dan biasanya kalau pola perencanaan seperti ini maka Pemerintah Pusat tertarik dan akan ikut membantu. Investasi swasta akan datang karena ada pola yang jelas.

Dan diakhir duskusi saya katakan pak Cudi, bandara Mutiara Sis Al Jufrie harus naik status dulu jadi bandara Internasional kalau kita berbicara pariwisata dunia. Apakah tetap di lokasi yang sekarang atau relokasi misalnya ke Lappaloang Donggala. Semua terlihat pada mengangguk tanda sependapat, Oke pak Doktor kita akhiri dulu dan terimaksih diskusinya dan udang tebusnya, senua tertawa lepas dan rombongan siap siap meninggalkan kelurahan Mamboro.

Apa yang diungkap oleh Paslon nomor urut 2, pada debat terakhir Rabu malam, 3 Desember 2020 di Best Westerm Hotel, adalah refleksi dari duskusi 6 tahun lalu, saat saya masih menjabat sebagai Kadis Kelautan dan Perikanan. Provinsi Sulawesi Tengah.

Narasi pak Cudi dengan bahasa yang sederhana masih terekam dengan baik untuk diungkapkan dalam dialog itu. Harapan kita siapa pun yang terpilih menjadi Gubernur Sulawesi Tengah hasil Pilkada 2020, paling tidak ulasan ini bisa menjafi salah satu referensi saat menyusun dan mengeksekusi program kerja. SEMOGA.