oleh

Film “De Toeng- Misteri Ayunan Nenek”, Legenda Horor Jeneponto


PALU EKSPRES, JAKARTA– Ini dia horor terbaru produksi sineas Sulawesi Selatan, Turatea Production menggandeng bintang Kartika Waode Sari dan Sean Hasyim.

Kartika Waode yang dikenal aktingnya sebagai Oneng juga seorang model kesohor dan bintang FTV serta presenter sejumlah acara TV Swasta. Ia berperan sebagai Hanum.

Proses pembuatan film De Toeng. Foto: Istimewa

Sementara Sean Hasyim yang pernah bermain di Ketika Cinta Bertasbih (2009), Air Mata Terakhir Bunda (2013) dan Genteng-Ganteng Serigala ( 2015) memerankan dokter keturunan Makassar, yang baru ditugaskan ke Jeneponto.

Dia membawa istrinya, Hanum (Kartika) dan seorang putrinya, Rania anak pertama pasangan dokter yang berusia 7 tahun.

Rania adalah anak Makassar, Resyha Nafisa Zildjiani (12).

Rania inilah yang selalu bertemu dengan ‘nenek’ penghuni Bukit Toeng.

“Ini thriller horor yang tak ada darah, tak ada hantu atau pocong gentayangan. Ini murni mengangkat budaya dan cerita rakyat di Jeneponto,” papar Bayu Pamungkas, yang memberi sedikit bocoran dan plot film yang serentak tayang di jaringan studio 21 dan XXI di Indonesia, Kamis 11 Februari pekan ini.

Redaksi mendapati fakta menarik bahwa
De Toeng, adalah film yang 90 persen syutingnya di Jeneponto.

Dari sekitar 26 pemain, dan puluhan pemain figuran asal Jeneponto, para pemain pendukung utama dari Makassar.

Bayu menyebut keterlibatan budayawan dan politisi Asmin Amin yang memang kelahiran Jeneponto, ia berperan sebagai Karaeng Ledeng, tokoh pemilik rumah dan lahan di bukit Toeng.

De Toeng berlatar belakang mitos bukit Toeng (ayunan), sekitar 90 Km sebelah timur kota Makassar.

Di daerah ini, ada mitos seorang nenek baik hati, yang sering mendendangkan lagu pengantar tidur kepada anak dan cucunya di ayunan.

Bukit Toeng terletak di Kampung Tanetea, Kelurahan Bontorannu, Kecamatan Bangkala, sekitar 30 km sebelah barat kota kabupaten Jeneponto.

Uniknya rumah yang akan dipakai sebagai lokasi syuting di bukit Toeng adalah villa milik wakil bupati Jeneponto, Mulyadi Mustamu.

Bayu lugas menerangkan bahwa Sulsel punya banyak sisi budaya dan kearifan lokal yang menarik di angkat ke layar lebar.

“Saya ingin memperkenalkan horor yang bertutur dari cerita kuat sehingga saya menghindari adegan yang tiba-tiba apalagi suara keras yang mengagetkan dan justeru noise. Saya ingin ketakutan itu merambat pelan dan perlahan dengan imajinasi penonton berada pada titik adegan yang dituju sehingga suasana tegang dan menakutkan karena ceritanya,” jelasnya mantap.

Sineas muda yang humble dan selalu berharap perfilman nasional digarap dengan visual sinematografi yang indah, karena Indonesia sungguh sangat memesona.

Sementara sang produser yang seorang budayawan kawakan dan juga politisi Sulawesi Selatan asal Jeneponto, Asmin Amin memastikan semua orang turatea nasional akan nonton di 126 layar yang dijanjikan.

“Tayang di 3 bioskop saja untuk semua show dipastikan tiket sudah sold out di dua hari Kamis dan Jumat di Kota Makassar belum lagi kota lainnya sehingga angka 9 ribu penonton untuk hari pertama tayang Kamis 11 Februari akan tercapai, Insya Allah,” kata Asmin Amin optimis.

So moviegoers… Anda ditunggu nenek ya mulai 11 Februari 2021 besok di bioskop kesayangan untuk mencoba ayunannya, penasaran?

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed