Senin, 6 April 2026
Opini  

Menyusun Program Belajar Anak di Rumah

Melvina. Foto: Istimewa

Oleh: Melvina (Dosen Prodi Bahasa Inggris STKIP PGRI Sumatera Barat)

SELAMA pandemi rumah menjadi tempat yang paling sibuk dengan berbagai aktivitas. Apabila sebelum pandemi rumah menjadi ruang privasi keluarga, tetapi saat pandemi rumah menjadi tempat belajar anak dan ruang kerja dari para orang tua yang harus work from home. Orang tua selain harus mengerjakan pekerjaan yang biasa dilakukan di rumah, sekarang harus mendampingin anaknya belajar dan sekaligus menyelesaikan tugas kantor.  Dalam hal ini orang tua harus mampu mengatur suasana dalam keluarga, agar aktivitas belajar anak tetap terjaga dan pekerjaannya bisa diselesaikan dengan baik.

Untuk situasi sekarang ini, orangtua merupakan mitra yang utama bagi sekolah dan guru khususnya dalam pendidikan anak. Kita akui sebagai orangtua yang mendampingi anak belajar, perpanjangan pembelajaran jarak jauh menjadi tantangan untuk menjaga semangat belajar anak. Oleh sebab itu perlu untuk menciptakan suasana yang menyenangkan, agar semangat belajar tetap selalu muncul dan belajar dijalankan dengan baik. Pandemi bukanlah halangan untuk mewujudkan generasi yang lebih baik.

Orangtua juga berperan sebagai guru di rumah yang harus bisa menyusun program belajar menarik untuk anak. Program belajar yang dimaksud di sini adalah program yang selaras mendukung program belajar dari sekolah dengan gaya belajar yang lebih santai sesuai dengan kemampuan belajar anak. Sehingga ini bukanlah membuat hal yang berbeda dari apa yang dipelajari di sekolah dan tentu saja tidak akan membuat pusing orang tua yang akan melaksanakannya. Jadi sifatnya lebih membantu dan memudahkan anak selama belajar dari rumah.

Untuk itu ada beberapa hal yang bisa dijadikan sebagai pertimbangan dalam menyusun program belajar di rumah. Pertama memberikan pemahaman kepada anak bahwa dia itu sekolah. Hanya saja sekarang karena Covid-19 belajarnya dilakukan dari rumah bukan di sekolah.  Tidak bisa belajar bersama dengan kawan-kawannya di sekolah.  Bertemu dengan guru dan teman-teman hanya bisa dilakukan melalui media video call, zoom atau Google meet. Oleh sebab itu orangtua harus mengajak anak komunikasi dan memberikan pemahaman seperti ini, agar anak paham dan menyadari bahwa meskipun berada di rumah mereka sebenarnya sedang belajar dan tetap sekolah.

Kedua, melibatkan anak dalam menentukan program belajar di rumahnya. Seperti pelajaran karakter. Anak diminta membuat schedule aktivitas dari bangun tidur sampai tidur lagi. Tentu saja program belajar yang disusun bersama orangtua disesuaikan dengan karakter dan kondisi keluarga masing-masing. Seperti membuat program weekday (senin-jumat); menciptakan suasana belajar seperti belajar tatap muka, tetap bangunkan anak sebelum subuh, mandi pagi, dan berpakaian seragam sekolah. Mengerjakan modul/LKS didampingi ayah atau ibu sesuai dengan jadwal belajar. Dari jam 8-10 (untuk orangtua yang work from home). Untuk orangtua yang bekerja di kantor disesuaikan dengan jadwal yang sudah disepakati (orangtua dan anak).

Ketiga, mengajak anak dengan bahasa yang menenangkan, bukan menegangkan, apalagi menakutkan. Penting untuk menarik perhatian anak dengan ungkapan yang lembut ketika mendampingi anak belajar dirumah. Memanggilnya dengan menyebut nama yang paling bagus atau dengan sifat baik yang dimiliki anak. Hal ini untuk penumbuh rasa percaya diri dalam diri anak dan peningkat semangat spiritual serta kondisi psikologisnya.

Keempat, jangan memarahi apalagi mencela dengan celaan yang akan mengakibatkan penyesalan, mengakibatkan sang anak makin berani melakukan keburukan dan hal tidak patut. Nabi sendiri sering berpesan kepada kita untuk selalu bersabar, …” kemudian dia bersabar dalam mendidik ketiga anak perempuannya dengan telaten dan tetap memperlakukan mereka dengan baik. “. Orangtua harus sabar, jika ibu moodnya sedang tidak bagus, atau sedang banyak pekerjaan, minta digantikan oleh ayah. Jadi kerjasama antar ayah dan ibu  sangatlah penting.

Kelima mengisi waktu luang setelah belajar dengan berbagai kegiatan yang menarik bagi anak. Seperti membaca buku cerita, berlatih menulis (huruf) arab /latin, menggambar/mewarnai, menulis cerita, memasak kue makanan atau membuat minuman kesukaan, membantu orangtua melipat kain, merapikan rumah atau menghias kamar.

Bermain, hiburan, dan pemenuhan bakat adalah kebutuhan anak kecil. Anak-anak memang perlu mainan untuk mengembangkan akalnya, meluaskan pengetahuannya, serta menggerakkan indera dan perasaannya. Menyediakan mainan yang berguna bagi anak merupakan media untuk menghilangkan kejenuhannya, membantunya agar berbakti kepada orangtua, menyenangkan hatinya, serta memenuhi kecenderungan dan kepuasan bermainnya, sehingga kelak ia akan tumbuh menjadi anak yang stabil.

Jadi menyusun program belajar di rumah adalah memindahkan anak belajar yang dulunya di ruang kelas sekolah, bertatap muka langsung dengan guru, sekarang belajar di rumah, dengan tetap didampingi oleh orangtua dan guru secara online. Karena pada prinsipnya belajar online tidak jauh berbeda dengan belajar tatap muka. Waktu belajar tatap muka, orangtua sama sibuknya dengan Work From Home (WFH). Sebelum WFH, orangtua pagi-pagi setelah sholat subuh sudah sibuk membereskan semua keperluan anggota keluarga. Mulai dari memasak menu hari itu, menyiapkan bekal dan keperluan anak ke sekolah, pergi ke kantor sambil drop anak ke sekolah dan drop si kecil ke daycare, jemput anak ke sekolah, antar ke tempat mengaji/les, dan sore baru pulang ke rumah.

Menyusun program belajar bagi anak di rumah tentu saja memberikan manfaat bagi perkembangan kebutuhan belajarnya. Membantu anak untuk lebih disiplin dan bisa fokus dalam menjalankan proses belajar selama pandemi ini. Di samping itu juga membantu orangtua dalam manajemen waktu.  Orangtua dan anak sama-sama memiliki kegiatan yang berbeda di saat waktu yang sama. Jadi penting untuk membuat program belajar dirumah agar pekerjaan orangtua juga sama-sama selesai dengan tugas belajar anak.

Dengan dijalankan program belajar dirumah selain disiplin manfaat lainnya adalah melatih kemandirian dan mengembangkan karakter anak. Kemandirian anak akan terwujud disaat program belajar sukses dilakasanakan bersama. Lambat laun anak akan terbiasa belajar mandiri dengan mengikuti jadwal yang terprogram dan karakter positif akan berkembang pada diri anak.

Semoga saja para orang tua, guru serta semua yang terlibat dalam dunia pendidikan bisa mendampingi anak-anak dalam belajar. Belajar sebagai bekal mereka di masa depan. Menjadi generasi yang lebih baik dari generasi saat ini. Meskipun pandemi, namun tanggung jawab untuk mewujudkan pembelajaran yang berkualitas tetap harus diupayakan. ***