Jumat, 18 September 2026
Opini  

Industri Udang Masih Dihadang Sejumlah Masalah

Hasanuddin Atjo (paling depan). Foto: istimewa

Oleh Hasanuddin Atjo

PEMERINTAH memproyeksikan  akhir 2024,  produksi udang nasional bisa mencapai  2 juta ton per tahun dan devisa ekspor hasil perikanan diperkirakan tembus di angka US$ 10  miliar. Dengan harapan mampu berada  di 5 besar dunia penghasil devisa  ekspor hasil perikanan.

Di tahun 2020 produksi udang kita baru mencapai 500  ton, berada di peringkat  5 dunia setelah China, India, Thailand dan Vietnam . Dan  kinerja  ekspor hasil perikanan kita juga masih tertinggal dari Thailand dan Vietnam.

Dengan garis pantai sekitar 3.200 km, devisa ekspor hasil perikanan kedua negara itu dua kali Indonesia mendekati angka US$ 9,5 miliar  dan  mendudukkan kedua negara itu di peringkat ke 3 dan 4 dunia .

Sementara Indonesia dengan garis pantai  kurang lebih 100.000 km,  atau 30 kali garis pantai Thailand maupun Vietnam,  devisa ekspor hasil perikanan kita baru sekitar US$ 4,5 miliar, berada di peringkat ke 15 dunia. 

Kinerja ekspor seperti ini  membuat Presiden Joko Widodo prihatin dan kemudian memberi perhatian yang serius. Tidak tanggung tanggung,  komoditi ini terakomodir menjadi salah satu major project dalam RPJMN  tahun 2020 – 2025 untuk dikembangkan

Selain pertimbangan garis pantai, beriklim tropis,  kebutuhan pasar udang  dunia yang  terbuka luas, ada gap sekitar 1,5 juta ton antara demand  –  suply, ditambah kinerja ekspor komoditi ini di pandemic Covid 19 trendnya  terus meningkat,  memperkuat alasan pemerintah ingin meningkatkan  produksi dan ekspor komodias ini.

Dan yang tidak kalah pentingnya,  komoditas  ini dinilai memiliki efek domino yang kuat. Di antaranya, akan  mendorong tumbuhnya sejumlah industri penunjang di hulu maupun di hilir, dan berujung  meningkatnya penyerapan tenaga kerja.

Di sektor hulu, memicu tumbuhnya unitt usaha Breeding Center, BC  atau Modification Breeding Center, MBC berperan memproduksi induk udang vaname dalam negeri dan, aksn mengurangi  ketergantungan Impor dari Amerika Latin

Sebagai catatan, di dalam kurun  waktu tiga tahun terakhir,Indonesia mengimpor induk udang vaname dari Hawai dan Florida  setidaknya sekitar 500-750 ribu pasang per tahun dengan nilai tidak begitu besar  1 – 1,5 triliun rupiah. Namun sangat menentukan keberhasilan produksi budidaya.

Secara khusus antara April dan Juli  di tahun 2020, Indonesia tidak bisa  mengimpor induk udang karena penerapan Lockdown dari negara  asal induk akibat pandemic Covid 19. Dan ini sangat mempengaruhi kinerja produksi budidaya, karena banyak usaha tambak yang gagal panen sebagai dampak tidak bisa memperoleh benih berkualitas. 

Karena itu, meningkatkan  produksi udang nasional menjadi 2 juta ton, dibutuhkan induk udang sekitar 3 juta pasang. Dan dibutuhkan unit BC atau MBC kapasitas sedang, 200-300 ribu pasang sebanyak 10 – 15 unit.

Kemandirian memproduksi induk udang dengan cara cara yang baru dan benar menjadi syarat utama keberhasilan peningkatan produksi udang nasional. Tanpa adanya unit usaha  seperti ini di dalam negeri ditanggapi pesimis oleh sejumlah ahli terhadap upaya Joko Widodo yang dinilai sudah pas.

Selain unit usaha produksi induk, di hulu juga terbuka peluang sejumlah  usaha seperti perbenihan, pabrik pakan, peralatan pompa, kincir air dan beberapa usaha penunjang lainnya.  Dibutuhkan benih udang setidaknya 200 miliar ekor setiap  tahunnya.

Disektor hilir akan lahir dan tumbuh sejumlah usaha mulai jasa logistik, pabrik es, wadah berinsulasi untuk  mengangkut udang, Coldstoredge, sampai kepada industri prosessing yang berorientasi nilai tambah dan akan menyerap tenaga kerja paling banyak.

Berdasarkan sejumlah diskusi yang telah dilakukan dengan  sejunlah pihak bahwa paling tidak terdapat  empat sumbatan menghadang laju peningkatan produksi udang dan devisa hasil perikanan yang harus segera dituntaskan.

Pertama , meski pengembangan komoditi ini memiliki payung hukum karena menjadi salah satu major project dalam RPJMN 2020-2025,   namun roadmap, masterplan pada setiap sentra produksi atau provinsi yang telah ditetapkan sebagai basis pengembangan dinilai belum detail dan implementatif.

Koordinasi antar pemerintah pusat dan daerah dinilai belum maksimal menunjang program  peningkatan produksi ini.  Ini dapat dilihat dari minimnya dukungan APBD provinsi maupun kabupaten untuk program  Nasional ini.

Regulasi UU cipta kerja tahun 2020 yang rohnya mempermudah proses  perizinan yang selama ini terkesan lama dan berbelit.  Dan saat ini progresnya masih sulit  melahirkan  kata sepakat menyederhanakan perizinan oleh kementerian/lembaga terkait.

Sebagai contoh izin tambak udang sebelumnya ada 21 persyaratan izin yang harus dipenuh berdasar aturan kementerian/lembaga dan daerah. Dan berdasarkan UU cipta kerja disederhanakan menjadi 3 syarat saja yang saat ini dalam proses perampungan

Kedua, proses transformasi inovasi dan teknologi di unit usaha BC atau MBC, dinilai belum sukses. BC yang dikembangkan oleh KKP dan salah satu perusahaan swasta nasional sejak 10 tahun lalu, masih kalah bersaing dengan induk udang asal impor.

Memberi ruang, mendorong  pelaku usaha nasional agar bekerjasama dengan lembaga riset di Hawai maupun Florida  membangun BC atau MBC  dalam rangka produksi induk udang dalam negeri menjadi salah satu pilihan skenario yang harus dilakukan.

Inovasi dan Transformasi pada unit usaha lainnya juga dinilai kurang berkembang.  Saat ini Indonesia masih mengimpor kincir air, pompa dan peralatan mesin lainnya yang semuanya mengurangi daya saing industri udang nasional. Karena itu  kerjasama B to B antara pebisnis lokal dengan industri peralatan dari luar juga menjadi catatan strategis.

Ketiga, dukungan ketersediaan dan keterjangkauan infrastruktur listrik menjadi komponen penting lainnya. Setiap ton udang dalam budidaya membutuhkan listrik 1,5 KVa atau 1500 Watt, membutuhkan es balok untuk rantai dingin agar mutu  bisa terjaga sekitar 2 ton.

Belum lagi kebutuhan listrik untuk Coldstoredge, Pembenihan udang, pabrik pakan dan usaha penunjang lainnya.  Khusus untuk budidaya udang saja dibutuhkan dukungan suply listrik sebesar 3.000 Mega Watt.

Keempat, dukungan pembiayaan dinilai kurang dilirik oleh sejumlah perbankan lokal, dan ditambah lagi dengan suku bunga yang cukup tinggi dibanding dengan negara Asia Tenggara lainnya. Karena itu sejumlah investor dari luar mulai berdatangan masuk ke negeri ini untuk peningkatan produksi udang.

Pemanfaatan dana BLU, Badan Layanan Umum sejumlah lembaga pemerintah dinilai menjadi salah satu alternatif untuk kemudahan akses dan kredit murah, meskipun disadari kapasitasnya terbatas.

Demikian beberapa catatan kecil yang bisa dijadikan bahan diskusi bagi akselerasi upaya peningkatan produksi udang nasional menjadi 2 juta ton pada akhir tahun 2024. SEMOGA

Pengalaman Pengguna Game Penghasil Saldo DANA Lebih Cepat Adaptif Dan Efisien Dibawa Oleh Inovasi Teknologi
Pergeseran Mutu Produksi Kosmetik Terdeteksi Lebih Akurat Berkat Aliran Data Langsung
Pengalaman Pengguna Semakin Responsif Adaptif Dan Efisien Berkat Perkembangan Teknologi Modern
Momentum Tetap Terarah Dan Terkendali Dipertahankan Melalui Taktik Mode Pemburu Sic Bo Live
Keputusan Tetap Terukur Dalam Game Online Dipertahankan Melalui Pengelolaan Modal Cerdas
Kapitalisasi Pasar Dan Inovasi Kasino Online Berubah Di Tengah Disrupsi Teknologi Modern
Strategi Baru Untuk Meningkatkan Keunggulan Kompetitif Dibuka Melalui Business Model Canvas Mahjong Ways
Kualitas Sistem Mahjongways Kasino Online Dipahami Melalui Identifikasi Nilai Pembayaran Game Penghasil Saldo DANA
Perspektif Baru Dalam Menganalisis Perkembangan Mahjong Ways Dibuka Melalui Modernisasi Strategi
Kasino Menjadi Studi Sistem Informasi Bagi Mahasiswa Melalui Pelatihan Enterprise Architecture
Mahjongways Kasino Online Dijadikan Acuan Strategi Marketing dalam Lingkungan Pemerintahan
Keamanan Informasi Jadi Fondasi Utama Layanan Konsultasi Kosmetik Berbasis Teknologi
Teknologi Pemantauan Membantu Mengukur Frekuensi Pembayaran secara Lebih Objektif dan Terukur
Kajian Statistik Pola RTP Menyoroti Perkembangan Teknologi Neural Sintetis Regulatoris
Simulasi Statistik Membuka Pendekatan Baru Memahami Mahjong Game Sungai Penuh secara Terukur
Statistik Objektif Membantu Membaca Pola Mahjong Game Sungai Penuh dengan Lebih Rasional
Strategi Mahjong Game Sungai Penuh Makin Terarah melalui Pendekatan Statistik Modern
Pendekatan Data Objektif Membantu Mengkaji Mahjong Game Saldo DANA Sungai Penuh secara Lebih Terstruktur
Mahjong Game Sungai Penuh Dikaji lewat Simulasi Statistik untuk Membaca Pola Aktivitas
Aturan Mahjong Digital dari Dua Kartu Awal hingga Penentuan Rentang Nilai Game Penghasil Saldo DANA
Pendekatan Adaptif MahjongWays Kasino Online Membantu Menjaga Keseimbangan Anggaran Hiburan
Kemunculan Simbol Unik MahjongWays Kasino Online Perlu Dibaca Secara Lebih Rasional
Mahjong Ways Menarik Minat Pemain di Tengah Ketatnya Persaingan Game Digital
Pengaturan Tempo MahjongWays Kasino Online Tidak Menentukan Munculnya Kombinasi Khusus
Starlight Princess Kembali Merebut Perhatian Pemain MBG Berkat Daya Tariknya
Membaca Pola Mahjong Ways dan Tren Permainan Lewat Data Saldo DANA Terbaru
Disiplin Mental MahjongWays Kasino Online Membantu Mencegah Keputusan Finansial yang Terlalu Impulsif
Mengenal Sweet Bonanza sebagai Game Digital Online dengan Tema Manis yang Menarik
Rotasi Awal MahjongWays Kasino Online Bukan Tolok Ukur Kemurahan Sistem Permainan
Menelusuri Strategi Terbaik dalam Bermain Game Penghasil Saldo DANA Secara Lebih Mendalam