HARI ini kita rayakan Indonesia Merdeka 76 tahun. Hari pertama kita rasakan penerapan Lock Micro Efektif di seluruh kawasan Perdos Untad. Ada yang bilang karantina, ada yang sebut lookdown.
Pagi yang segar, di sekitar rumahku sepi
di hari merdeka nusa dan bangsa.
Satu dua kendaraan lalu lalang.
Juga terlihat ada mahasiswa memanggul ransel dipunggungnya, melaju entah kemana.
Warga Perdos kini bagai burung dalam sangkar, ramai berkicau di media sosial.
Seorang kawan menulis dengan kelakar: Kemerdekaan ter-lockdown.
Satu dua keluarga menelepon, minta tinggalkan kawasan itu.
Ini kampungku dan di sini rumahku, aku mau kemana lagi. Begitu jawabku.
Tetiba, corong di masjid umumkan: “Ibu-ibu hari ini gantung belanga, tak perlu masak, petugas di dapur umum siap melayani”.
Pagi yang cerah, di Perdos Kelurahan Tondo
ramai warga menanti petugas rapid test dengan harap-harap cemas.
Ya…cemas…terbayang hasil yang tak diharapkan.
Problem psikologis menyereruak ke seluruh penjuru mata angin.
Tapi banyak yang siap, apapun itu hasilnya.
Matahari makin meranggas, warga mulai berjemur di teras, berharap imun makin menguat.
Sayup-sayup Indonesia Raya berkumandang di televisi karena ini hari merdeka.
Matahari makin meninggi, pagar rumahku di ketuk, sejumlah petugas masuk di halaman, dua berbaju hazmad lengkap, lainnya mencatat hasil di samping Bonsai Beringin, asesoris taman kecil depan rumahku.
Hidung disodorkan, benda seukuran tusuk sate mulai beraksi.
Tak lama menanti dan hasilnya alhamdulillah negatif.
Group percakapan makin ramai, ada berharap, hasil dari dapur umum tak menurunkan imun warga yang sedang terlockdown.
Lainnya kirim narasi aneka canda.
Jam 12.00, tarhim di Masjid Baiturrahman berkumandang, tanda azan dhuhur tak lama lagi.
Terbayang petugas di dapur umum makin sibuk, tenggak waktu makan siang makin mendekat.
Juga terbayang petugas distribusi sibuk, relawan terbatas. Warga yang gantung belanga menanti janji.
Alhamdulillah jam 13.45, distributor dari dapur umum hantarkan makanan, terima kasih adinda ujarku pada mereka.
Kini saat menyantap menu dari dapur umum agar imun bisa naik.
Tersenyum aku ingat percakapan sejumlah kawan di group pertemanan.
Malam merambat, sepi menerpa, seluruh penjuru pintu masuk tertutup di Perdos. Sesekali terdengar anak-anak asrama samping rumah memecah kesunyian. Mereka bernyanyi sembari melupakan jika Perdos malam ini sedang terkunci.
Dan hari ini baru terasa, rasa merdeka itu mahal, tak bisa ditebus dengan lembar rupiah.
Rezeki harus disyukuri, hari ini hari merdeka. Susah senang nikmati bersama.
(Tasrif Siara, Jurnalis senior di Sulteng)
Perdos Untad 17 Agustus 2021






